
"Ambilin dong" goda Dimas yang masih melihat Dinda menutup matanya dengan kedua tangannya.
Tak disangka Dinda beranjak berdiri hendak mengambilkan baju ganti buat Dimas. Dimas yang melihat istrinya sedang memilih pakaian untuknya pun menatapnya sembari menyunggingkan senyum yang entah apa maksudnya. Rambut lurus panjang, tinggi sekitar 165cm dengan bobot ideal. Dimas memperhatikan istrinya itu lekat. Hanya di kamar itulah dia melihat penampilan Dinda seperti itu. Perlahan ia beranjak berdiri menghampiri Dinda yang masih berada di depan lemari.
Greb
Dimas melingkarkan tangannya memeluk Dinda dari belakang. Ia sedikit membungkukkan badanya dan meletakkan dagunya di pundak istrinya itu.
"Terima kasih" ucap Dimas lirih di telinga Dinda.
Dinda yang mendapat perlakuan mendadak seperti itupun bingung plus malu karena posisi intim mereka. Ia masih terdiam menunggu kalimat selanjutnya dari mulut suaminya itu.
"Mas senang tinggal di sini" lanjut Dimas.
"Hmm?" Dinda sedikit menoleh ke arah kepala Dimas yang bertengger di pundaknya hingga hidungnya menyentuh pipi laki-laki itu. Ia pun cepat-cepat menjauhkan wajahnya menyembunyikan rasa malu yang sudah menjalar menciptakan rona merah di pipinya.
"Di sini mas bisa sering-sering ngelihat senyum kamu, tawa kamu. Dan juga sifat asli kamu yang baru sekarang mas tahu"
"Sifat asli? Yang mana maksudnya?"
"Istriku ini ternyata jahil, tengil dan juga cemburuan" goda Dimas dan mengecup singkat pipi Dinda.
"Iihhhh,,, Dinda nggak begitu mas" elak Dinda sedikit manja. Dia pun menggeliatkan tubuhnya mencoba lepas dari pelukan Dimas dan berputar menghadapnya.
"Oh iya, sedikit manja juga. Hahaha,,,," Dimas pun tak kuasa lagi melihat wajah cemberut istrinya. Ia tertawa sembari menangkup wajah Dinda dengan kedua tangannya yang membuat gadis itu semakin terlihat lucu karena bibirnya yang mengerucut.
__ADS_1
Cup
Cup
Cup
Seketika wajah Dinda memerah mendapat kecupan bertubi-tubi dari Dimas.
"Ahhhh,,, apaan sih" Dinda memukul-mukul lengan Dimas dengan kesal.
"Ehemm,,," terlihat mbah uti dan bu Atikah sudah berdiri di ambang pintu yang ternyata belum menutup sempurna dan menyaksikan drama KDRT itu.
Dimas yang semula terbahak-bahak pun seketika menghentikan tawanya menyaksikan dua orang yang menatap ke arah mereka.
"Nggak kok buk, kita lagi bercanda aja" ucap Dimas membela istrinya. "Ada apa buk?" Lanjutnya bertanya.
"Malam ini kamu tidur di luar bareng yang lain ya Dim. Biar simbah tidur di sini sama Dinda" ucap bu Atikah.
"Iya buk. Biar Dimas tidur di ruang tengah sama Bima" Dimas pun meraih kaos yang dipegang Dinda lalu memakainya. Sebelum beranjak keluar, Dimas masih menggoda istrinya dengan menoel janggut gadis yang masih terlihat cemberut itu. Simbah dan bu Atikah ikut tersenyum melihatnya.
Dimas tersenyum lega saat sampai di luar kamar. Setidaknya ia bisa tidur nyenyak malam ini begitu pikirnya.
Di dalam kamar, Dinda hanya bisa pasrah mendengarkan wejangan dari simbah karena kelakuannya tadi. Orang tua itu benar-benar mencekokinya dengan berbagai nasehat pernikahan yang entah ia dengarkan atau tidak karena ia sudah lebih dulu dibuai mimpi sebelum orang tua itu menyelesaikan wejangannya. Aahh,,, dasar Dinda, nggak sopan sekali dia.
Hari-hari berlalu. Sekembalinya dari rumah orang tuanya, kini Dinda sudah kembali disibukkan dengan rutinitas kuliahnya. Hubungannya dengan Dimas pun menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu. Yah, walaupun suaminya itu masih saja tinggal di apartemen, tapi setidaknya kini mereka memiliki kebiasaan baru yaitu saling bertelefon saat malam tiba. Dinda sendiri sudah pernah meminta Dimas untuk pulang ke rumah orang tuanya. Tapi lagi-lagi dengan alasan pekerjaan, laki-laki itu menolak halus permintaan Dinda.
__ADS_1
Dimas bukannya tidak mau jika harus tinggal bersama dengan istrinya. Sebagai laki-laki normal yang sewaktu-waktu bisa saja meminta haknya, ia merasa akan menyakiti Dinda jika hal itu benar terjadi. Di balik keceriaannya, gadis itu masih menyimpan serpihan kaca di hatinya yang setiap saat bisa saja melukainya. Setidaknya, ia akan menunggu sampai Dinda benar-benar bisa melupakan semua kejadian pahit yang pernah menimpanya. Dan jika ditanya sampai kapan ia akan bertahan, ia sendiri tak tau jawabnya. Sampai saat ini ia lebih memilih berbatas jarak daripada harus melihat istrinya kembali teringat akan lukanya.
Dinda sedang menunggu Dimas di restoran yang berada di lantai dasar apartemen Dimas. Hari ini ia kembali bertekad untuk mengajak suaminya itu tinggal di rumah orang tuanya. Ia tidak ingin rasa bersalah semakin membebaninya. Dulu, demi dirinya Dimas rela pergi dari rumah dan tinggal sendiri di apartemen. Dan sekarang, sudah tak ada lagi alasan bagi laki-laki itu hidup terpisah dari keluarganya. Karena Dinda yang sekarang pun menginginkan kehidupan sebagaimana pasangan suami istri lainnya.
Dinda sendiri tak habis pikir dengan Dimas yang selalu saja beralasan jika Dinda meminta tinggal bersama. Laki-laki itu seolah enggan jika harus tinggal???? seatap dengan istrinya. 'Di apartemen aku lebih leluasa bekerja. Dan lokasinya pun tak jauh dari kantor' begitu jawabnya setiap kali Dinda menuntut sebuah alasan.
Dan jika Dinda yang menawarkan diri untuk tinggal di apartemen, Dimas selalu menolak dengan alasan tidak enak dengan teman-teman yang terkadang menginap di apartemennya. Ah, sesulit itukah mereka bersama?
Sempat Dinda berfikir jika Dimas tak lagi menginginkannya, tapi fikiran itu menguap begitu saja saat ia menatap mata laki-laki itu yang selalu saja menatapnya penuh cinta. Suaminya itu selalu saja memanjakannya dengan limpahan kasih sayang setiap kali mereka bersama. Tapi entah kenapa untuk tinggal bersama seolah begitu sulit bagi Dimas. Ahh,,, ia benar-benar pusing dibuatnya.
Seseorang menyapa Dinda saat mata gadis itu terfokus pada layar hpnya.
"Hai,,,"
Dinda menoleh dan menatap penuh tanya pada wanita cantik yang baru saja menyapanya.
"Aku Siska. Kamu masih ingat kan?"
Ah iya, Siska mantannya mas Dim. Apa yang dia lakukan di sini?
"Ohh,,, iya, mbak Siska ya?" Ucap Dinda yang berhasil mengingatnya.
"Hmm,,, boleh gabung?" Siska menunjuk kursi kosong di depan Dinda.
"Silahkan"
__ADS_1