
Plakkkk,,,
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dimas. Wajahnya memerah menunjukkan betapa kerasnya tamparan yang ia dapat dari laki-laki yang ia panggil papa itu. Dia hanya bisa pasrah menerima amarah dari orang tuanya setelah ia menjelaskan perbuatan yang membuatnya berurusan dengan Polisi.
Setelah penangkapannya sore tadi, baru pagi ini pak Lukman bisa melihat putranya karena kesibukannya.
"Kali ini kau benar-benar keterlaluan!!! Bagaimana bisa kau sebejat itu?!'' pak Lukman kembali menampar Dimas. Mencengkram pundak Dimas dengan kedua tangannya dan mengguncang-guncangnya kasar penuh emosi sebelum akhirnya menjatuhkan dirinya di sofa. Amarahnya memuncak memikirkan kelakuan anak sulungnya itu.
Sebelumnya orang tua Dimas memang tidak pernah ambil pusing dengan kenakalan yang dilakukan oleh putranya itu. Selama ini Dimas tidak pernah melakukan kejahatan yang membuatnya harus berlama-lama berada di kantor polisi. Berkali-kali pengacara keluarga mereka berurusan dengan polisi karena hobi nya yang sering mengikuti balap liar, bahkan sesekali berkelahi. Semua itu dianggap pak Lukman sebagai bentuk protes Dimas yang mencari perhatiannya. Profesi pak Lukman yang menjadi salah satu dokter spesialis jantung senior di sebuah rumah sakit ternama di kotanya membuatnya menghabiskan banyak waktunya di rumah sakit. Sedangkan bu Ambar harus mengurus bisnis keluarga yang bergerak dibidang properti, bahkan ia pun memiliki sebuah salon kecantikan yang juga butuh perhatiannya.
Pak Lukman memijat-mijat dahinya meredakan sakit di kepalanya. Sesekali ia menghembuskan nafas kasar untuk meredam amarahnya.
"Dia masih sekolah Dim" lirihnya tanpa menatap kearah putranya.
__ADS_1
"Kali ini biarkan Dimas membayar perbuatannya pa" ucap bu Ambar mengakhiri kebisuannya.
"Maksud mama?" jawabnya menoleh ke arah istrinya itu.
"Biarkan dia membayarnya di penjara. Mama ikhlas, mama merasa sudah gagal mendidiknya" lanjut bu Ambar menahan tangisnya.
Dimas yang mendengar ucapan mamanya hanya diam. Matanya meremang, membayangkan hukuman yang harus dijalaninya. Dari sudut manapun ia tetap bersalah. Terlepas dari kondisinya yang sedang mabuk pada saat itu, dia tetap salah. Terlebih dalam kasusnya kali ini, dia benar-benar sudah pasrah.
Di ruangan lain terlihat Guntur, Pak Joko dan 2 orang lainnya sedang menunggu dengan ekspresi yang sulit digambarkan. Mereka semua terdiam sambil sesekali menatap ke arah pintu.
ceklek
Terlihat dua orang petugas polisi mengapit Dimas dengan tangan terborgol. Guntur yang melihatnya lebih dulu secepat kilat menghambur ke arah Dimas dan melayangkan tinjunya beberapa kali di iringi umpatan dan makian yang pastinya ditujukan untuknya. Dimas yang sedah tersungkur hanya bisa pasrah menerima segala perlakuan Guntur padanya sebelum akhirnya seorang polisi menjauhkan tubuh Guntur darinya.
__ADS_1
Pak Lukman dan istrinya yang melihat kejadian itu di depan matanya hanya bisa diam melihat putranya diperlakukan seperti itu. Dia sendiri pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi keluarga korban. Petugas tadi memberitahunya bahwa keluarga korban datang untuk menemui Dimas.
Pak Joko yang melihat Guntur masih menyala-nyala amarahnya pun membawanya keluar. Meninggalkan dua keluarga inti yang masih sama-sama terdiam.
"Benar kamu yang memperkosa adikku?" tanya Anisa membuka suara.
"Maaf" jawab Dimas lirih hampir tak terdengar suaranya.
plakkk
Sebuah tamparan kembali menghiasi wajah Dimas. Bedanya kali ini berasal dari pria yang tak dikenalnya. Pria paruh baya yang tadinya duduk disebelah Anisa kini berdiri tegak di hadapannya dan sedang menatapnya penuh emosi.
"Kenapa harus putriku? dia cuma anak-anak, apa dia berbuat salah sehingga kau hukum dia seperti itu? apa kesalahannya? kenapa harus dia?" tangis pak Sholeh pecah dihadapan pria yang merenggut masa depan putrinya. Anak keduanya yang selamanya akan tetap jadi putri kecil dihatinya.
__ADS_1