Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Sakit


__ADS_3

"Benar ini apartemennya kak Dimas?" Tanya Maya.


"Iya" jawab wanita itu datar.


"Anda siapa?"


Wanita itupun beralih memandang Dinda sekali lagi.


"Saya? Saya orang yang mengurus Dimas"


"Maksud anda? Anda pembantunya?" Sinis Maya.


"Apa kamu pikir wajah saya cocok jadi pembantu?" Ketus wanita itu.


"Ayo Din masuk" Maya menarik tangan Dinda dan masuk ke apartemen melewati Raya yang masih berdiri di depan pintu.


"Hey! Siapa yg ngijinin kalian masuk?"


Wanita itu pun berjalan di belakang kedua gadis itu dan menjatuhkan dirinya di sofa di depan tv. Sedangkan Dinda dan Maya masih berdiri menyapukan pandangannya mencari sosok Dimas.


"Mas Dimas di mana?" Tanya Dinda mulai tak sabar.


"Tidur"


Dinda yang terlihat sudah diliputi kemarahan pun berjalan menuju pintu yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia sudah tak sabar lagi untuk memberondong laki-laki itu dengan sejumlah pertanyaan yang sudah berada di kepalanya.


Ceklekk


Dinda memasuki kamar yang masih asing baginya. Dilihatnya tumpukan kertas memenuhi meja yang berada tak jauh dari pintu masuk. Dinda menambah langkahnya memasuki kamar lebih dalam. Matanya tertuju pada tempat tidur berukuran besar yang berada di kamar itu. Seseorang dengan selimut menutupi hampir seluruh badannya nampak sedang tertidur pulas. Dinda berjalan mendekat dan memperhatikan wajah laki-laki yang tak lain adalah suaminya.


"Mas,"


Tak melihat adanya reaksi Dinda pun duduk di tepi ranjang dan memberanikan diri menggoyang pelan tubuh Dimas.


"Mas, Mas Dim,,,"


Perlahan Dimas membuka matanya. Dan hal pertama yang dilihatnya adalah wajah istrinya yang memang sedang dirindukannya. Ya sudah dua hari ini ia tidak bertemu dengan Dinda.


"Dinda," Dimas pun beranjak mendudukkan dirinya dan spontan memeluk gadis di depannya.


Deg


Perasaan Dinda tak karuan mendapat perlakuan mendadak seperti itu. Dinda memang sudah semakin dekat dengan Dimas. Tapi selama ini belum pernah ia malakukan kontak fisik yang berarti. Dan saat ini pertama kalinya Dimas memberanikan diri memeluk gadis itu. Mungkin karena saking rindunya laki-laki itu kepada istrinya. Dan Dinda sendiri hanya terdiam dipelukan suaminya.


"Mas Dim sakit?" Tanya Dinda menyadarkan dirinya.

__ADS_1


"Emm" angguk Dimas. "Maaf, tapi ijinkan aku memelukmu lebih lama. Aku kangen banget ma kamu" rengek Dimas mempererat pelukannya.


Dinda terdiam membiarkan Dimas memeluk dirinya. Sampai fikirannya teringat kembali dengan wanita hamil yang sempat membuatnya kesal. Dengan kasar iapun melepaskan diri dari pelukan Dimas. Membuat Dimas menatapnya bingung.


"Mas Dim tinggal sama siapa di sini?"


"Sendirian. Kenapa?"


"Trus siapa wanita di luar?"


"Siapa?"


"Dia bilang dia yang mengurus mas di sini"


Dimas mengernyitkan dahinya berpikir.


"Dia di luar sekarang?"


"Emm" angguk Dinda.


Tanpa berpikir lagi Dimaspun memaksa dirinya berdiri dan keluar dari kamarnya. Ia tidak ingin kecurigaan istrinya itu berlarut-larut. Sesampainya di ruang tv ia mendapati Raya sedang menonton tv bersama Maya.


"Mbak Raya ngapain di sini?"


"Ngapain lagi. Ya ngurusin kamu lah" jawab Raya acuh.


"Kenapa? Dia marah? Cemburu? Lagian punya suami sakit dibiarin sendirian. Kalau mati gimana?"


"Mbak!" Hardik Dimas.


Dinda yang mendengar ucapan Raya pun terdiam menyadari kesalahannya. Tak salah memang jika orang-orang berpikir dia keterlaluan. Kalau ibunya tahu hal ini pun pasti sudah memarahinya habis-habisan. Bagaimana tidak? Suaminya sakit dan dia malah sibuk dengan pikiran jeleknya.


"Tumben rame. Ada apaan nih?" Ucap Niko tiba-tiba datang.


"Udah ah. Kamu urus nih Nik bos kamu. Aku pulang dulu" Raya meraih tasnya dan beranjak berdiri meninggalkan apartemen.


"Aku ke dalam dulu ya" ucap Dimas sembari memijat keningnya.


Dinda pun mengikuti Dimas yang berjalan masuk ke dalam kamar. Dimas yang memang masih merasa pusing menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan menarik selimutnya. Dinda sendiri masih berdiri menatap laki-laki itu iba.


"Kenapa gak kasih tau Dinda kalau mas sakit?"


"Aku gak mau kamu khawatir. Lagian hp aku diambil sama mbak Raya. Biar bisa istirahat katanya. Oh iya, dia itu asisten aku. Dia udah nikah" jelas Dimas yang tentu saja membuat Dinda malu.


"Mas Dim udah ke dokter?" Ucap Dinda sembari membenahi selimut Dimas.

__ADS_1


"Udah, tadi pagi dokter Hasan kemari"


"Obatnya udah diminum?"


"Sudah"


"Ya udah, istirahat aja aku mau,,,"


Belum juga Dinda menyelesaikan kalimatnya, Dimas memegang tangannya.


"Apa kamu nggak bisa disini aja?"


"A,,aku,,,"


"Please,,," ucap Dimas memohon.


"Baiklah, kamu istirahat" Dinda mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


Dimas pun tersenyum mendengar ucapan Dinda. Dengan sebelah tangan yang masih menggenggam tangan Dinda, Dimas mulai memejamkan matanya.


Sementara itu di luar, Maya dan Niko saling terdiam canggung. Sesekali Niko mencuri pandang ke arah Maya yang saat itu sedang fokus menyaksikan acara tv.


"Kamu temennya Dinda ya?"


"Emm" angguk Maya.


"Kenalin, aku Niko" menjulurkan tangan ke arah Maya.


"Maya" jawab Maya cuek dengan pandangan masih fokus ke arah tv. "Dapurnya sebelah mana mas? Aku haus".


"Ahh, mau aku ambilin?"


"Boleh, dari tadi kek"


Niko menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Maya yang terlihat cuek itu. Ia pun beranjak menuju dapur untuk mengambil beberapa minuman ringan dan juga snack.


Beberapa saat kemudian, Dinda pun keluar dan bergabung dengan kedua orang yang nampak tengah asik menonton itu.


"Mas Niko, apa mas Dimas sering kecapekan kaya gini?"


"Nggak juga. Tapi seminggu terakhir dia emang sedikit ngoyo sih. Kamu tau sendiri kan dia seneng banget bisa ketemu kamu. Dia nggak mau sedikitpun terlewatkan untuk bisa jemput kamu. Akibatnya ya gitu, suka maksain diri. Kaya kemaren kita lagi di luar kota, eh dia maksa pulang biar bisa jemput kamu katanya. Jadinya besoknya harus balik lagi kan karena kerjaan sebelumnya belum selesai".


"Jadi gara-gara Dinda ya mas?"


"Ehh, bukan gitu Din. Kamu nggak salah kok. Aku malah seneng sejak hubungan kalian membaik dia lebih banyak punya waktu untuk dirinya sendiri".

__ADS_1


"Eh Din, udah sore nih" sergah Maya.


"Eemmm,,, May, kayaknya aku mau nginep deh".


__ADS_2