Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Maya


__ADS_3

"Kamu mau kan jadi pacar aku?"


Maya yang sedang asik menikmati nasi goreng di depannya pun mendongakkan kepalanya menatap pria yang baru saja melontarkan pertanyaan keramat kepadanya.


"Kok bengong, jawab dong" ucap Niko menggoyangkan tangannya di depan Maya.


Acuh, Maya pun melanjutkan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Terlihat cuek memang, apalagi seolah tak terpengaruh sedikitpun dengan ucapan pria di depannya. Masih diam, Maya memasukkan suapan nasi goreng terakhir ke dalam mulutnya.


Niko yang melihat sikap cuek Maya pun terlihat gusar karena tak kunjung mendapat jawaban. Sesekali ia menyedot minuman dingin di depannya untuk sekedar menghilangkan kegugupannya karena tingkah gadis di depannya.


"Mas Niko ngomong apa tadi? Coba diulangi" ucap Maya setelah selesai dengan makanannnya.


"Hm?" Niko memperhatikan wajah di depannya bingung.


"Iya tadi mas Niko ngomong apa? Akutuh kalau lagi makan suka nggak konsen mas" bohong Maya.


"Emm,,, kita pacaran ya?"


Maya menghela nafas meredakan debaran di dadanya. Ucapan laki-laki di depannya begitu jelas, membuatnya sulit untuk menghindarinya. Entah itu pertanyaan atau ajakan, Maya sendiri susah menafsirkannya.


"Mas Niko nanya apa merintah ini? Maya jadi bingung" ucapnya setenang mungkin.


Niko pun tertawa mendengar ucapan dari gadis di depannya. Sadar dirinya jadi bahan perhatian pengunjung yang lainnya, akhirnya Niko pun menarik Maya keluar dari warung tenda itu setelah membayar makanannya.


"May, aku nanya serius kok kamu biasa aja sih" ucap Niko sesaat setelah keduanya berada di dalam mobil.


"Abisnya mas Niko, nanya kok kaya gitu. Maya kan jadi bingung mas, ini lagi ditembak apa gimana gitu" sungut Maya.


Niko kembali tertawa mendengar ocehan Maya. Beberapa kali ia nembak cewek tapi tak pernah serumit gadis di sampingnya. Biasanya mereka akan mengangguk tersipu atau bahkan langsung saja mengiyakan ajakannya. Tapi Maya? Apa ia harus belajar tata bahasa yang benar dulu untuk mengajak gadis itu pacaran.


"Maya Saraswati, maukah kamu jadi pacarku?" Ulang Niko dengan menatap Maya lekat. Sebelah tangannnya menggenggam tangan Maya yang dibiarkan saja oleh gadis itu.

__ADS_1


"Aku ditembak nih ceritanya?"


"Ck, May!" Niko mulai kesal.


" Hehehe,,, tapi maaf mas, Maya nggak mau pacaran. Maya mau fokus kuliah. Ini baru mau semester dua, masih lama mas. Lagian kata ayah Maya nggak boleh macem-macem di sini".


"Kok macem-macem sih May. Satu macem aja, kita pacaran gitu" desak Niko.


"Justru itu mas. Satu macem yang namanya pacaran itulah yang namanya macem-macem".


"Kok gitu sih May. Sesantai itu kamu nanggepinnya. Padahal aku dah seserius ini, masih ditolak juga?"


"Iya, ditolak jadi pacar. Tapi kalau mau temenan boleh kok, apalagi traktir-traktir, boleh banget pokoknya" ucap Maya sembari meninju pelan lengan Niko.


"Kok gantung gitu sih May. Nggak ngerti aku sama pikiran kamu"


Maya sedikit tersentuh menatap wajah melas di depannya. Ia sendiri pun bingung dengan perasaannya. Di satu sisi, ia juga ingin memiliki pacar sebagaimana teman-temannya yang lain. Di sisi lain, ia tak begitu yakin dengan laki-laki di hadapannya itu. Seorang pria dewasa yang setahu dia sudah berpengalaman soal pacaran. Terlebih lagi ia yang berada di perantauan membuatnya harus ekstra hati-hati untuk sekedar mengenal pria.


"Maaf mas" lirih Maya.


Niko melajukan mobilnya untuk mengantar Maya kembali ke kosannya. Suasana hening di dalam mobil membuatnya mengendarai mobilnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Penolakan yang ia terima tidak membuatnya sakit hati. Tapi ia begitu kecewa dengan sikap gadis di sampingnya itu yang seolah tak menganggap apa-apa perasaannya.


Maya yang merasakan perubahan dari pria di sampingnya pun hanya diam saja tak berkomentar. Ia cukup tau diri untuk membiarkan laki-laki itu meluapkan kekesalannya. Ia juga sadar sudah membuat mas Niko nya itu kecewa.


Aahhh,,, jahatnya aku. Maaf mas.


-


"Cie yang habis ditembak" goda Dinda menghampiri Maya yang duduk di bangku yang berada di lorong kampusnya. Maya memang menceritakan perihal pertemuannya dengan Niko semalam.


"Ck, kayanya aku udah nggak berani nemuin mas Niko lagi deh Din" ucap Maya lesu.

__ADS_1


"Kenapa? Bukannya kamu bilang masih berteman?" Dinda mendudukkan dirinya di samping Maya.


"Iya, tapi aku ngerasa jahat banget sama dia. Udah dua kali aku tolak Din, masa iya aku mau aja dibaik-baikin sama dia. Sama aja aku ngasih harapan palsu ya nggak?"


"Dua kali? Kapan? Kamu nggak cerita May"


"Iya, waktu itu aku pikir dia bercanda. Sampai semalam dia ngomong lagi"


"Ooohh,,," Dinda mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kamu bneran nggak ada rasa sama mas Niko? Kata mas Dim, dia beneran suka sama kamu lho May"


"Tau ah Din. Tau sendiri kan ayah tuh nggak suka kalau anak perawannya ini pacaran. Dan lagi, mas Niko tuh udah dewasa, playboy pula. Aku takut nanti bakalan sakit hati kalau mesti ngelewatin fase pacaran yang namanya 'putus'. Ngeri ih." Maya bergidik.


Dinda sampai melongo mendengar penjelasan sahabatnya itu. Ia tak habis pikir, Maya yang terlihat bijaksana setiap kali menasehatinya, kini terlihat begitu galau dengan masalahnya sendiri. Mungkin benar kata orang, berucap memang lebih mudah daripada menjalani.


"Terserah kamu lah May. Kamu yang lebih tahu yang terbaik buat diri kamu sendiri" ucap Dinda akhirnya. "Satu lagi, kamu nggak usah berpikiran terlalu jauh kaya gitu. Nggak semua yang pacaran itu bakal putus. Bisa jadi malah menikah pada akhirnya. Dan lagi, putus nggak selalu menyakitkan seperti bayangan kamu. Nggak serumit itu May, kalian masih bisa berteman kan?"


"Heleh, sok tau kamu. Kamu sendiri kan nggak pernah pacaran".


"Hehehe,,, lagian kemana Maya yang bijaksana sih?" Dinda memukul lengan sahabatnya pelan.


"Hehhh,,," Maya tersenyum miris. "Nggak semua orang sehebat ucapannya Din. Kaya kamu nih, terlihat rapuh padahal mah kuat. Salut aku sama kamu" ucap Maya jujur.


Bagi Maya, sahabat di depannya itu benar-benar membuatnya kagum. Dari mulai Dinda yang begitu terpuruk karena kejadian yang menimpanya, hingga kini, gadis itu sudah kembali pada kehidupan normalnya. Perjuangannya mengalahkan dirinya sendiri benar-benar membuat seorang Maya begitu mengagumi sahabatnya itu.


"Apaan sih kamu May, aku kuat juga berkat kamu. Makasih ya" Dinda tiba-tiba mellow.


"Ck, mulai deh lebay" ucap Maya kemudian tertawa yang diikuti oleh Dinda.


Sampai seseorang tiba-tiba berdiri di hadapan keduanya dan mengucapkan nama salah satunya.


"Dinda,,,"

__ADS_1


__ADS_2