
Dinda menjatuhkan dirinya di atas kasur. Bayangan pertemuannya dengan Siska benar-benar memenuhi kepalanya. Rasanya teramat sakit membayangkan suaminya itu pernah memiliki hubungan yang teramat intim dengan wanita lain.
Tok,,, tok,,, tok,,,
"Masuk" ucap Dinda mendengar pintu kamarnya diketuk.
Terlihat mama Ambar berjalan memasuki kamar dan mendekat ke arah Dinda. Ia mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur gadis yang sudah terduduk di atas ranjang itu.
"Kamu kenapa Din?" mama memandang Dinda lembut.
"Nggak papa kok ma"
"Kamu bertengkar sama Dimas?"
"Enggak"
Mama meraih tangan Dinda dan menggenggamnya.
"Jangan bohong. Kamu bisa cerita sama mama. Apa ini karena Dimas?"
Mama memang begitu memperhatikan menantunya itu. Ia sudah cukup senang dengan perubahan Dinda yang terlihat lebih ceria sepulangnya dari kampung halamannya. Dan hubungan Dinda dengan anaknya pun terlihat membaik walau Dimas masih belum bersedia tinggal di rumah. Tapi setidaknya dua orang yang disayanginya itu sudah terlihat saling mencintai dan menerima. Dan waktu makan malam tadi, ia harus kembali melihat wajah murung menantunya itu.
"Maaf ma, tapi Dinda belum bisa cerita sama mama" Dinda menundukkan wajahnya.
"Ya udah. Kamu selesaikan baik-baik ya nak. Mama nggak mau mantu mama yang cantik ini sedih. Bilang aja sama mama kalau Dimas bikin ulah. Biar mama yang kasih pelajaran anak nakal itu" ucap mama dengan sedikit penekanan bermaksud menghibur Dinda.
__ADS_1
"Iya ma" Dinda tersenyum.
Di tempat lain, Dimas duduk di balkon apartemennya dengan sebatang rokok yang terselip di jarinya. Sesekali ia menghisap rokok itu tanpa sedikitpun terlihat menikmatinya. Pandangan matanya menerawang jauh entah apa yang dipikirkannya.
Flash back:
"Mas pernah melakukannya dengan dia kan?" Tanya Dinda dengan kilatan emosi di matanya.
"Dinda, kamu ini kenapa sih? Ayo kita bicara di apartemen aja" bujuk Dimas.
"Jawab Dinda mas" Dinda merendahkan suaranya.
"Iya, iya! Tapi itu dulu Din. Sekarang aku bahkan tak pernah melihatnya"
"Dinda, kamu kenapa sih? Kamu mau marah sama mas? Oke, ayok pukulin mas lagi biar kamu puas" Dimas meraih tangan Dinda dan mengarahkannya untuk memukul pipinya.
"Mas!!!" Dinda menghentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Dimas.
"Mas minta maaf kalau mas salah Din. Kalau perbuatan mas dulu membuatmu marah mas juga minta maaf. Tapi mas bisa apa? Semua sudah berlalu Dinda. Sekarang mas cuma sayang sama kamu. Mas cintanya sama kamu Dinda" Dimas merendahkan suaranya. Ia masih sadar berada di tempat umum. Dan ia tak mau drama rumah tangganya itu menjadi konsumsi orang lain. Untung saja tempat itu sepi.
"Din, mas cinta sama kamu. Kamu bisa ngrasain itu kan sayang?"
Ungkapan cinta itu begitu dalam, jika saja Dinda tidak sedang dikuasai emosi saat ini, mungkin kata-kata itu akan dengan mudah melelehkannya.
"Cinta? Apa cinta namanya kalau suami istri tapi tinggal terpisah? Atau memang mas sengaja biar bisa bebas ketemu sama mantan mas itu? Mas sangat mencintainya kan? Ah iya, dulu pas kejadian itu, mas mabuk juga karena dia kan? Dinda baru ingat sekarang. Atau memang benar mas nikah sama Dinda karena kasihan? Hanya sebatas membayar kesalahan yang udah mas perbuat sama Dinda?"
__ADS_1
"Dinda" lirih Dimas. Ia tak habis fikir istrinya itu bisa berfikiran seperti itu.
Dinda sendiripun sudah kembali mengeluarkan air matanya. Mengalir deras bak anak sungai dimusim penghujan. Ia kembali menelungkupkan wajahnya ke atas meja.
Lama Dimas menunggu hingga gadis itu selesai dengan isakannya. Rasa malu karena beberapa orang yang menatap ke arahnya sudah tak dihiraukannya lagi. Yang ada di benaknya saat ini hanya Dinda. Istrinya itu kini sedang marah padanya. Entah kenapa ia seperti terhempas ke posisi saat Dinda masih begitu membencinya. Tatapan Dinda saat itu dan tangisannya sekarang menimbulkan rasa sakit yang sama. Begitu menyesakkan dadanya. Ia seperti melihat istrinya itu sangat terluka karenanya.
Setelah cukup tenang, Dinda mendongakkan wajahnya dan tanpa kata beranjak berdiri meninggalkan Dimas yang masih terpaku di tempatnya.
Flash back end.
Pagi harinya, seperti biasa Dimas menjemput Dinda untuk berangkat kuliah. Namun pagi ini Dimas datang dengan sebuah koper di tangannya. Yah, ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah orang tuanya. Ia akan menghabiskan hari-harinya dengan tinggal bersama Dinda istrinya.
Di meja makan, pak Lukman dan istrinya terlihat begitu senang dengan keputusan Dimas. Sesekali mereka melirik ke arah Dinda yang masih saja terdiam, fokus dengan sarapannya. Entah apa yang mengusik rumah tangga anaknya itu, tapi mereka merasa kali ini Dinda benar-benar tak menghiraukan putranya itu. Padahal sebelumnya, Dinda lah yang meminta sendiri pada Dimas untuk pulang ke rumah dan tinggal bersamanya. Dan kali ini saat Dimas sudah bersedia pulang, gadis itu malah nampak biasa saja. Bahkan terkesan tidak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya.
Perjalanan menuju kampus pun berlalu dengan kebisuan di antara keduanya. Sesekali Dimas melirik ke arah Dinda yang masih saja terdiam menatap ke luar kaca. Laki-laki itu terlihat bingung bagaimana menyikapi tingkah istrinya itu. Sampai pada akhirnya mobil pun berhenti tak jauh dari gerbang kampus. Dimas sengaja tidak menurunkan Dinda di tempat biasanya karena ia ingin memastikan terlebih dahulu apa yang di pikirkan istrinya itu.
Dinda yang merasa mobil yang ditumpanginya berhenti pun segera meraih handel pintu hendak keluar. Namun Dimas dengan gesitnya mengunci pintu hingga Dinda mengurungkan niatnya. Gadis itu masih diam, ia tak protes dengan tindakan Dimas. Hingga Dimas semakin heran dibuatnya.
"Kamu kenapa seperti ini sih Din? Mas salah apa? Ngomong dong, biar mas tau apa yang kamu inginkan. Mas benar-benar nggak tau mesti berbuat apa. Kalau mas salah mas minta maaf. Tapi jangan gini dong sayang. Mas tersiksa ngeliat kamu kayak gini".
"Nanti gak usah jemput Dinda. Dinda nggak mau ngeliat mas. Setidaknya untuk saat ini. Dinda nggak suka!"
*Deg,
Kamu kenapa sih Din? Segitu marahkah kamu hingga gak mau ngeliat wajah suamimu ini? Please Din*,
__ADS_1