
"Mama jangan bercanda!" ucap pak Lukman tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut istrinya.
"Siapa yang bercanda pa? mama serius".
"Apa maksud anda?" tanya pak Sholeh yang juga meragukan ucapan bu Ambar.
"Putra saya yang akan menikahi Adinda" jawab bu Ambar mantap.
"Hahhh,,,setelah semua yang dilakukan putra anda kepada Adinda, dan sekarang anda ingin Adinda menikah dengan pemerkosa itu?" sinis bu Atikah tak mau kalah.
"Memang benar dalam kasus ini anak saya yang bersalah. Tapi saya ibunya, saya yakin Dimas bukan orang jahat. Mungkin saat itu dia sedang khilaf. Dan jika anda mengijinkan, Dimas akan bertanggung jawab dengan menikahi Dinda".
"Hahh,,,bertanggung jawab?. Saya pikir ini akal-akalan anda agar anak anda dibebaskan dari penjara" jawab bu Atikah sengit.
__ADS_1
"Kalau anda menghendaki anak saya di penjara untuk menebus kesalahannya, saya tidak masalah. Saya cuma mau anak saya menikahi Dinda sebagai bentuk pertanggung jawaban atas perbuatannya. Dia bersalah pada Dinda, dan dia harus membayarnya dengan membahagiakan gadis itu seumur hidupnya".
"Apa anda yakin itu bukan hayalan anda saja?"
"Saya sendiri yang akan memastikan. Saya dan suami saya akan memastikan Dimas membahagiakan Adinda" ucap bu Ambar meyakinkan.
Pak Lukman dan pak Sholeh hanya diam memperhatikan perdebatan kedua wanita di depannya. Mereka menatap wajah istrinya seperti membenarkan dengan apa yang masing-masing ucapkan.
Melihat ketulusan dari kata-kata yang diucapkan oleh bu Ambar, tak terasa air mata bu Atikah menetes membasahi pipinya. Berkali-kali ia mengusapnya dengan kerudung yang menutupi kepalanya.
Sore hari Pak Lukman dan bu Ambar pamit pulang setelah pak Sholeh memutuskan menambah masa rawat Dinda.Tak lama Pak Joko dan kedua anak didiknya yaitu Guntur dan Maya pun pamit untuk kembali ke kotanya. Mereka pulang diantar oleh sopir yang dikirim oleh keluarga Sanjaya. Guntur yang semula enggan meninggalkan Dinda pun dengan terpaksa ikut pulang karena tidak ingin membuat keluarganya khawatir.
Jarum jam menunjuk di angka 9. Dinda terlihat sudah tertidur di atas bangsalnya. Sedang Pak Soleh, Bu Atikah dan juga Anisa terlihat masih berbincang di sofa ruangan. Bu Atikah mengutarakan niatnya yang akan menyetujui permintaan bu Ambar dan meminta pendapat suami dan anaknya itu. Anisa yang awalnya menolak, kini mulai ragu setelah mendengar alasan bu Atikah. Sedangkan pak Sholeh akan bertanya lebih dahulu kepada Dinda. Bagaimanapun yang menjalani adalah Adinda pikirnya.
__ADS_1
Air bening keluar dari sudut mata Dinda yang terpejam. Dengan jelas ia mendengar isakan ibunya dengan segala kekhawatiran yang membebaninya. Dadanya sesak memikirkan niatan keluarganya untuk menikahkannya. Bagaimana bisa mereka menikahkan anaknya dengan orang yang telah memperkosanya. Bagaimana bisa ia hidup dengan orang yang telah menghancurkannya. Di sisi lain, ada tangisan ibunya yang khawatir dengan masa depannya. Lelah bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Dinda pun tertidur.
Pagi hari, seorang perawat baru saja memeriksa keadaan Dinda. Sambil menyuapi putrinya sarapan, bu Atikah yang tadinya berniat bertanya kepada Dinda pun belum bisa mengutarakan niatnya lantaran ia takut membuat Dinda terpukul.
"Ibu kenapa?" tanya Dinda yang melihat ibunya gelisah.
"Nggak, ibu cuma mikir mau bawa kamu pulang hari ini" jawab bu Atikah berbohong.
"Din,"
"Lakukan saja apa yang menurut ibu baik. Dinda sudah pasrah. Ibu pasti lebih tahu yang terbaik untuk Dinda"
Jawaban Dinda yang tiba-tiba membuat bu Atikah terkejut.
__ADS_1