Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Makan Malam


__ADS_3

Tiga pria dewasa sedang berada di sebuah gym untuk mengisi waktu malam minggunya. Dimas yang baru saja turun dari treadmill meraih handuknya dan duduk di bangku yang berada tak jauh darinya. Ia meraih botol air mineral yang tadi sempat dibawanya dan meneguk habis isinya. Tak jauh dari tempatnya duduk ada Niko yang masih sibuk membentuk otot lengannya dengan dua buah barbell di tangannya.


"Habis ini kemana Dim?" Suara Devan mendekat sembari mengelap keringat di wajahnya.


"Pulang" jawab Dimas singkat.


"Gak kangen ke arena lo?"


"Gak"


"Club?"


"Gak"


"Banyakin nyebut Dim, biar terhindar dari godaan setan yang terkutuk" ucap Niko yang tiba-tiba sudah duduk di samping Dimas.


"Sialan lo, lo kira gue setan?" kesal Devan melempar handuknya ke arah Niko.


"Hahaha,,, lo juga sih, temen kita tuh udah jadi anak sholehnya mama, masih aja lo racunin"


"Hellehhh,,, kayak lo udah bener aja" elak Devan tak mau kalah. "Eh, ke kafe gue aja gimana? Ini malam minggu guys, malam minggu. Masa iya lo mau tidur jam segini?" lanjut Devan dengan menekankan pada kata malam minggu.


"Ok" jawab Dimas singkat. Kemudian berlalu meninggalkan teman-temannya untuk membersihkan diri.


"Drastis banget kan perubahannya?" Ucap Niko sembari menatap kepergian Dimas.


"Hemmm,,, dan anehnya kita jadi seperti ini pun karena ngikutin dia" jawab Devan membenarkan.


Semenjak Dimas menghentikan kebiasaan buruknya, sedikit demi sedikit kedua sahabatnya itupun mengikutinya. Devan yang notabene memang dari keluarga pengusaha membuka beberapa kafe untuk memulai usahanya. Sedangkan Niko lebih memilih bekerja dengan Dimas setelah mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja.


Mereka bertiga adalah tiga sekawan sedari SMA. Bersama mereka lah Dimas menghabiskan masa mudanya. Hingga saat ini mereka juga yang menjadi saksi perubahan pada diri Dimas. Persahabatan yang indah bukan?

__ADS_1


Minggu pagi, Talita mengajak Adinda dan juga Maya untuk jalan-jalan ke sebuah mall terbesar di kota itu. Mereka nampak sedang memilih-milih pakaian disalah satu outlet ternama. Dan begitu saja berulang-ulang, dari satu toko ke toko yang lainnya. Seperti tak ada lelahnya ketiga gadis itu melangkahkan kakinya.


Setelah hampir memutari seluruh isi mall, kini Dinda dan yang lainnya sudah duduk di salah satu restoran cepat saji. Beberapa paper bag yang berisi belanjaan mereka teronggok disalah satu kursi meja yang mereka tempati.


"Habis ini ke salon mama yuk?" ajak Talita kepada Dinda dan Maya.


"Aku sih seneng aja kak, gratis ini" jawab Maya jujur.


"Aku ngikut aja lah" sahut Dinda.


"Kamu kecapean ya Din?" tanya Maya yang melihat Dinda seperti tak bersemangat.


"Kamu gak capek apa muterin seisi mall?" tanya Dinda balik.


"Iya kak, kok kaya pucet gitu sih" Talita pun ikut memperhatikan Dinda.


"Gak papa kok"


"Emangnya ntar malem kenapa kak?" Maya penasaran.


"Ntar malem ulang tahun pernikahannya mama sama papa. Kita sekeluarga mau makan malam" jelas Talita.


"Trus emang kenapa?"


"Ihhh,,, mesti di jelasin ya?" kesal Talita karena Maya yang tak kunjung menyadari bahwa nanti juga ada Dimas di sana.


"Ooohhh,,, iya" ucap Maya seperti mengingat sesuatu. "Kamu pasti bisa Din" ucapnya kemudian sembari memegang tangan Dinda memberi dukungan.


Malam harinya, Dinda sedang bersiap di kamarnya. Ia nampak cantik dengan Tunik motif bunga yang dipadu dengan pasmina yang senada. Ia masih nampak ragu untuk keluar dari kamarnya. Beberapa kali ia mengatur nafasnya untuk mengurangi kegugupannya.


"Kak Dinda udah siap?" Tanya Talita yang tiba-tiba sudah berada di kamar Dinda.

__ADS_1


"Sudah"


"Ayo turun. Mama papa udah nunggu"


"Yuk"


Mereka berdua pun keluar kamar bersama. Di ruang keluarga sudah ada Pak Lukman dan mama Ambar yang menunggu. Setelah semuanya siap, mereka berangkat dengan menggunakan satu mobil berjenis Alphard. Selama perjalanan Talita yang memang mengetahui kegugupan Dinda pun mencoba menghiburnya dengan sesekali mengajaknya berselfie dan juga membicarakan segala sesuatu yang disenangi Dinda termasuk drama korea kesukaanya. Mama Ambar dan pak Lukman pun tak ambil pusing dengan kecerewetan putrinya itu. Mereka tau Talita sedang mencoba mengalihkan perhatian Dinda. Dan mereka pun menyadari kegugupan yang sedari tadi tergambar jelas di wajah Dinda.


Setelah setengah jam lebih perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah restoran keluarga yang terbilang mewah. Talita menggandeng Dinda berjalan di belakang orang tuanya. Di pintu masuk sudah ada pelayan yang menyambut dan mengantar rombongan keluarga itu ke arah private room yang sudah dipesan sebelumnya.


Dengan perasaan yang campur aduk, Dinda mengambil tempat duduk tepat di samping Talita. Baru saja meletakkan tasnya di kursi yang berada di sampingnya, terdengar suara pria yang membuat jantungnya semakin berpacu. Ia terus saja meremas jemarinya yang sudah bergetar di pangkuannya.


"Maaf terlambat" Ucap Dimas mencium tangan papa dan mamanya. Tak lupa ia pun mengacak rambut Talita menggodanya.


"Apaan sih kak" kesal Talita merapikan rambutnya.


"Baru pulang kamu Dim?" Tanya papa yang melihat Dimas masih mengenakan kemeja kerjanya.


"Iya pa" Dimas mendudukkan dirinya di samping mama. Dan itu membuat Dinda semakin menundukkan kepalanya karena Dimas kini berada tepat di depannya.


Dimas yang sudah duduk sempurna pun memperhatikan Dinda di depannya. Sedari dia masuk ke ruangan, gadis itu masih saja menundukkan wajahnya.


"Dinda gak papa kan?" Tanya mama khawatir.


"I,,,iya ma"


Talita yang berada di sampingnya pun menggenggam tangan Dinda menguatkan.


"Kalau kamu gak nyaman, aku bisa pergi" ucap Dimas yang ditujukan kepada Dinda.


Dinda yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau acara istimewa yang sudah disiapkan mertuanya itu harus gagal hanya karena dirinya.

__ADS_1


__ADS_2