Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Galau


__ADS_3

Dinda meletakkan kepalanya di atas meja saat pelajaran berakhir. Teman-temannya yang lain sudah berhamburan meninggalkan kelas sedangkan dia terlihat begitu malas untuk sekedar mendongakkan kepalanya. Maya yang duduk di sampingnya pun sampai terheran dibuatnya. Nggak biasa-biasanya sahabatnya itu terlihat begitu tak bersemangat.


"Kamu kenapa sih Din?"


"May,,," Dinda menghentikan ucapannya.


"Kamu ada masalah sama kak Dimas?"


Masa iya aku ceritain masalah ini sama kamu sih May. Yang ada kamu nanti ngeledekin aku. Trus aku mesti gimana dooongg?


"Hehh,,, ditanyain malah diem aja!" Maya menyentakkan tubuh Dinda.


"Apaan sih May" kesal Dinda.


"Kamu kenapa sih? Ada masalah?"


"Laper nih. Ayok ke kantin"


"Yaahhh,,, kirain kenapa. Ya udah ayok. Traktir ya" Maya meraih tangan Dinda yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Hmm"


Dinda menghela nafas sebelum akhirnya meletakkan hpnya dengan kasar di atas meja. Membuat Maya yang saat itu sedang menikmati bakso ekstra pedasnya pun sampai terkejut dibuatnya. Pikirannya masih memikirkan tulisan berderet yang barusan ia baca di ponsel pintar miliknya.


Rasa penasaran dengan sikap Dimas yang seolah enggan 'menyentuhnya', membuat gadis itu mencari tahu dengan jalur alternatif. Ya, apalagi selain menanyakannya kepada si serba tahu prof. goog. Sederet artikel pun muncul saat Dinda selesai mengetikkan kata kunci 'penyebab suami tak tertarik dengan istri'.


Bukannya menghilang, rasa penasaran akan suaminya itu malah semakin besar tatkala ia membaca poin-poin dalam salah satu artikel tersebut.


Apa mungkin mas Dim punya wanita lain? Atau dia punya penyakit? Masa sih separah itu penyakitnya sampai nggak bisa lagi. Aaahhh,,, pikiran macam apa sih ini.


Dinda pun menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menepis pikiran buruknya itu. Ia tak menyadari jika sikapnya itu malah membuat Maya yang duduk di depannya menatap aneh padanya.


"Kamu kenapa sih Din? Dari tadi kaya mikirin apa gitu"


"Enggak kok May"


"Jangan suka mendem masalah. Ntar gila lho"


"Haisshh,,, apaan sih" Dinda memasang muka masamnya. "Talita kemana sih, lama banget" Dinda mengedarkan pandangannya mencari sosok adik iparnya itu.


Sayup-sayup terdengar beberapa orang yang menyebutkan nama Talita dan juga Andra. Dinda dan Maya yang juga mendengarnya pun memasang telinga untuk mendengar suara itu. Tak sabar, Maya pun bertanya kepada dua orang gadis yang duduk tak jauh darinya.


"Eh, mereka lagi ngomongin apaan sih?" Maya menunjuk sekompok orang dengan dagunya.


"Kamu yang sering bareng sama Talita itu kan? Masa nggak tau, sekarang dia lagi ditembak tuh di taman samping" jawab salah seorang gadis.


"Heehh??? Yang bener? Siapa yang nembak?"

__ADS_1


"Andra"


"Masa sih? Aaahhh,,, mau lihat akuuu,,," Maya pun berbalik dan menarik tangan Dinda untuk mengikutinya. "Ayok Din, cepet!"


"Kemana May?"


"Udah Ayok ikut aja"


Dengan langkah terburu-buru, Dinda dan Maya akhirnya sampai di taman yang dimaksud. Biasa saja, tak ada kehebohan seperti yang diceritakan dua gadis yang ditemui Maya di kantin tadi. Bahkan sisa-sisa terjadinya kehebohan pun tak terlihat.


"Kalian ngapain di sini?" Ucap Talita tiba-tiba dari arah belakang.


"Ehhh,,, udah selesai kak?" Tanya Maya.


"Apanya yang selesai?" Talita bingung.


"Katanya tadi kak Andra nembak kak Lita"


"Helleehh,,, gitu aja percaya kalian. Si Andra emang suka gitu. Kemaren-kemaren juga gitu kan sama kak Dinda?"


"Iya juga sih"


"Ya udah ah ayok pulang" Talita menyahut tangan Dinda yang masih bebas. Sedangkan tangan satunya masih terkait dengan tangan Maya.


Malam harinya, Dinda sedang menonton tv yang ada di kamarnya. Namun tak sedikitpun ia memperhatikan layar yang terpampang di depannya itu. Ia masih saja memikirkan tentang artikel yang dibacanya. Ia kembali mengutak-atik hpnya untuk memuaskan rasa penasarannya. Rautnya semakin nampak serius saat matanya menangkap sebuah tulisan yang menyebutkan kalau mungkin saja suaminya itu tak tertarik padanya. Tapi apa mungkin? Dimas terlihat begitu bahagia saat bersamanya, bahkan memeluk dan menciumnya pun tak pernah terlewat setiap kali mereka bersama.


Dengan mata yang masih fokus dengan hpnya, Dinda pun tak menyadari kedatangan Dimas yang sudah berdiri menatapnya. Ia berdiri di depan Dinda sembari melipat kedua tangannya.


Seketika Dinda mendongakkan kepalanya dan menatap bingung ke arah suaminya itu.


"Loh, mas Dim kapan masuk?" Tanyanya sembari mematikan hpnya.


"Serius amat, ngeliatin apa sih?" Dimas berjalan mendekati istrinya itu dan duduk di sampingnya.


Cup


Kecupan singkat mendarat di pipi Dinda.


Tuh kan. Kalau nggak suka nggak mungkin cium-cium kaya gini kan?


"Kamu kenapa, hm?" Dimas menatap istrinya yang terlihat sedang berfikir itu. "Ada masalah di kampus?"


"Enggak kok"


"Trus kenapa manyun gini?" menyentuh bibir Dinda kemudian mengecupnya.


"Mas Dim ihh,,," Dinda menjauhkan wajahnya.

__ADS_1


"Kamu kangen sama ibuk?"


"Kenapa mas Dim mikir gitu? Dinda nggak papa kok"


"Dinda, mas itu merhatiin kamu loh. Dari kemarin kamu tuh kaya mikir sesuatu. Kalau ada masalah cerita dong. Jangan dipendem sendiri. Ingat kan perjanjian kita? Ayok sekarang cerita" Dimas memutar tubuhnya menghadap Dinda.


"Eh, mas tau nggak tadi di kampus kak Andra nembak Lita loh. Tapi Lita nya nggak percaya. Dia bilang Andra emang suka bercanda kaya gitu" ucap Dinda mengalihkan pembicaraan.


"Masa sih? Berani juga si Alex"


"Iya, tapi mungkin nggak sih kalau kak Andra beneran suka sama Talita? Mereka kan udah kenal lama".


"Mungkin saja. Si Lita aja yang nggak peka"


"Heh? Maksud mas?"


"Udah ah, nggak usah ngurusin urusan orang. Kamu sendiri gimana? Pertanyaan mas belum kamu jawab tadi"


Iiihhhh,,, masih inget aja sih. Masa iya aku mesti ngomong ke dia sih.


"Din, mas ngomong sama kamu. Kok didiemin sih".


"Emm,,, Dinda boleh nanya sesuatu sama mas?" Dinda ragu-ragu.


"Apa?"


"Mas sayang nggak sama Dinda?" Dinda menundukkan wajahnya, malu.


Dimas mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Dinda. "Pertanyaan macam apa itu?"


"Masss,,, jawab dong" rajuk Dinda.


"Kamu tentu tau jawabannya kan Din? Udah berkali-kali mas bilang kalau mas sayang sama kamu. Apa lagi?"


"Eemm,,, Dinda cantik nggak?" Tanya Dinda diiringi rona merah di pipinya.


"Hahaha,,, kamu ini kenapa sih?" Dimas menangkup wajah Dinda dan menciumnya berkali-kali.


"Masss,,, jawab dong!" Kesal Dinda mengerucutkan bibirnya.


"Iya,,, iya,,, cantik banget istriku ini. Mmmuuach" mengecup pipi Dinda lagi.


Terus apalagi? Masa iya aku nanyain hal itu sama dia sih. Gini aja malu banget. Aaahhh,,, kenapa sih aku ini.


"Kamu sebenernya mau ngomong apa sih Din?"


"Emm,,, mas nggak selingkuh kan?"

__ADS_1


Dimas mengernyitkan dahinya heran.


Kenapa lagi sih ini? Hhhh,,,


__ADS_2