
Jika tujuan berumah tangga adalah hadirnya sang penerus keturunan, tidak demikian yang terjadi dengan rumah tangga Dimas dan Dinda. Pasangan yang masih berusaha menerima takdir pernikahannya itu berusaha untuk ikhlas menerima ketentuan dari sang pencipta. Bukan pasrah, tapi mereka hanya menjalani saja apa yang sudah dituliskan Tuhan untuk rumah tangga mereka.
Hadirnya seorang anak bukan lagi menjadi prioritas utama dari rumah tangga yang dijalani seorang Dimas Putra Sanjaya. Bukan menyerah, karena selama ini pun Dimas tidak diam saja menghadapi keadaan dirinya. Selain mengkonsumsi berbagai ramuan tradisional dari sang mama, ia pun menjalani beberapa rangkaian pengobatan untuk menyembuhkan 'penyakitnya' itu. Sampai Akhirnya Dinda sendiri yang menyuruhnya berhenti untuk menjalani semua itu dengan alasan memasrahkan semuanya pada yang kuasa.
Untuk saat ini, kebahagiaan seorang Adinda Maharani lah yang menjadi tujuan hidupnya. Laki-laki itu benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk istri tercintanya. Memanjakan dan mengabulkan segala keinginan sang wanita pujaan benar-benar menjadi hobi barunya sekarang.
Terserahlah orang bilang ia bucin atau suami takut istri. Hal itu bukan masalah besar selama sang istri bahagia bersamanya. Rasa takut kehilanganpun seolah menjadi momok yang setiap saat menghantui kala sang istri jauh darinya. Bukan karena ia tak percaya dengan istrinya. Namun, karena kekurangan dalam dirinyalah yang membuatnya sedikit minder hingga bersikap seperti itu.
Sedangkan Dinda sendiri, sepenuh hati ia mencoba ikhlas dengan keadaan rumah tangganya. Mencoba menerima dan sebisa mungkin menguatkan hatinya menghadapi semua kerikil-kerikil pengganggu. Sebagai seorang wanita, perasaan lembut dan mudah baper tentu saja melekat erat di dirinya. Bukan tidak mungkin omongan orang luar yang menggunjingnya karena belum hadirnya sang buah hati begitu mengiris hatinya. Bahkan beberapa kali ia diam-diam menangis menahan rasa sesak di dadanya menghadapi omongan orang di luar sana.
Ia bukanlah wanita berhati kuat sebagaimana beberapa wanita di luaran sana. Ia hanya wanita biasa yang sedang dalam keadaan sensitif. Sedikit saja pertanyaan menyinggung hal keturunan sudah tentu bisa meluruhkan air matanya. Bukannya marah, tapi ia juga tak tau mengapa air matanya begitu lancang menentang perintahnya setiap kali mendengar pertanyaan keramat itu. Dalam pikirannya, ia begitu ingin membalas ucapan mereka dengan senyum ketegaran. Setidaknya jawaban yang akan membuat mulut orang-orang itu berubah untuk mendoakannya. Namun tak disangka, kata-kata yang terangkai manis enggan keluar dari bibir mungilnya karena desakan air mata laknat yang memaksa keluar.
"Selamat pagi sayang" ucap Dimas membangunkan Dinda dengan ciuman manis yang mendarat di kening istrinya.
"Emmmh,,, pagi" terdengar suara serak Dinda membalas sapaan suaminya. "Tumben mas udah bangun?" Tanyanya begitu membuka mata.
"Kamu lupa ya, pagi ini mas ada kunjungan proyek ke kota B".
__ADS_1
Dinda menepuk sendiri keningnya karena melupakan apa yang sudah disampaikan Dimas kemarin "Ahhh iya, Dinda lupa". Ia bergegas bangun dan membersihkan diri di kamar mandi diiringi senyum gemas sang suami.
Pagi itu berlalu sebagaimana pagi-pagi sebelumnya. Dinda mempersiapkan segala kebutuhan sang suami yang hendak berangkat ke luar kota sampai menyiapkan sarapan untuk sang suami yang akan berangkat lebih pagi. Setelahnya ia pun menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga. Yah, walaupun hanya sekedar membantu saja lebih tepatnya. Karena sampai saat ini, ia masih tinggal di rumah besar bersama mertuanya.
Pernah Dimas meminta ijin untuk tinggal terpisah dari orang tuanya. Namun jawaban mellow dari sang papa menyurutkan keinginannya untuk hidup berdua dengan sang istri tercinta.
"Papa membangun rumah sebesar ini agar anak-anak papa bisa berkumpul dan tinggal di sini dengan nyaman. Papa sama mama cuma tidak ingin kesepian di masa tua. Cuma kamu sama Talita anak papa. Talita sendiri perempuan, kalau nanti dia ikut suaminya tinggal kamu yang tinggal di sini. Terus sekarang kamu mau ninggalin papa sama mama juga?" Ucap pak Lukman kala itu.
Dinda sendiri pun tak mempermasalahkan mau tinggal di mana. Toh ia memiliki mertua yang baik yang menyayanginya layaknya anak sendiri. Ia pun tak memiliki masalah dengan ipar perempuannya seperti yang kebanyakan terjadi di luaran sana. Nyaman, itu yang ia rasakan selama tinggal bersama keluarga Sanjaya.
"Kamu nggak kuliah Din?" Tanya mama yang melihat Dinda menyusulnya ke taman belakang.
Dinda meraih selang yang tergeletak dan masih mengucur airnya untuk menyiram bunga-bunga kesayangan sang mertua. Sementara sang mertua sendiri terlihat baru saja menyelesaikan kegiatannya memotong daun-daun bunga yang mulai kelihatan tak rapi.
"Duduk sini Din" perintah mama Ambar yang sudah lebih dulu duduk di bangku panjang tak jauh dari Dinda berdiri.
"Iya ma". Dinda pun menyusul mertuanya setelah lebih dulu mematikan kran air yang ia gunakan untuk menyiram bunga.
__ADS_1
"Berapa hari Dimas ke luar kotanya?"
"Kata mas Dim sih dua hari ma. Besok sore juga udah pulang".
Mama Ambar menghela nafasnya sebelum kemudian melanjutkan ucapannya. "Kalian nggak kepengen gitu berobat ke luar negeri?" Tanya mama membuat Dinda mengkerutkan keningnya. "Kamu jangan salah paham ya nak. Bukannya mama menuntut kalian untuk segera memiliki keturunan. Mama cuma pengen lihat kalian bahagia. Mama tahu, selama ini kamu pasti kepikiran tiap kali ada yang membahas soal anak sama kamu".
"Ma,,," panggil Dinda menghentikan ucapan mertuanya. "Dinda bahagia seperti ini. Mas Dim sangat baik sama Dinda. Untuk masalah omongan orang, pelan-pelan Dinda nanti juga terbiasa. Selama mas Dim, mama dan yang lainnya selalu ngedukung Dinda, Dinda pasti bisa menghadapi semuanya ma".
"Mama tahu nak. Tapi apa nggak lebih baik kalian melanjutkan pengobatan yang kemarin? Siapa tahu dengan memaksimalkan usaha, doa kalian akan terkabul".
"Untuk itu sudah Dinda putuskan untuk menghentikannya ma. Dinda nggak tega ngeliat wajah sedih mas Dim tiap kali mendengar penjelasan dokter. Mas Dim juga nampak tertekan tiap kali mau berkunjung ke dokter. Dan lagi, kita juga udah berusaha kan dengan mas Dim yang selalu meminun ramuan penyubur. Semua itu juga usaha ma" Dinda menghentikan sejenak ucapannya sembari memegang tangan mertuanya.
"Mama tenang saja, kami baik-baik saja kok" lanjutnya tersenyum menenangkan sang mertua.
Mama menghela nafasnya mendengar penjelasan Dinda. Tak ada yang bisa dilakukannya jika yang menjalani saja sudah bertekad seperti itu. Ia sendiri sangat tahu bagaimana tertekannya sang menantu saat menghadapi omongan orang. Dan hal itu pulalah yang menyebabkan Dinda enggan lagi ikut ke salon ataupun ke acara-acara yang biasa didatanginya bersama sang mertua.
Beberapa kali Dinda menolak ajakan mama Ambar untuk datang ke arisan, atau bahkan menemani yoga seperti biasanya. Bukan tanpa alasan gadis itu menolak keinginan sang mertua. Rasa sensitif yang mendominasi memaksanya untuk membatasi bertemu dengan orang-orang yang berpotensi untuk membuatnya menangis. Ya karena sampai saat ini ia masih belum bisa menahan laju air matanya tiap kali ada yang menanyakan perihal keturunan padanya. Entahlah, tapi itulah yang bisa ia lakukan untuk saat ini. Membatasi Diri dan lebih banyak diam.
__ADS_1
Dan kebiasaan barunya itu, membuat Dinda yang sekarang jadi Dinda yang pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Kalaupun ia keluar, itupun harus dengan Dimas yang menemaninya. Terlebih untuk menghadiri acara keluarga yang pastinya akan banyak pertanyaan yan teramat ia hindari. Maka Dimas lah yang akan ia gunakan sebagai tamengnya.
Jika ia tidak bisa membawa dan memamerkan anak sebagaimana pasangan lainnya. Maka ia akan memamerkan betapa sempurnanya suaminya itu, begitu pikirnya. Bukan fisiknya saja, melainkan perhatisn sang lelaki yang tentunya akan membuat orang-orang iri melihatnya. Sehingga tak ada lagi yang memandang sebelah mata padanya, atau bahkan merasa kasihan karena belum hadirnya keturunan diantara mereka. Ia tak mau dikasihani, karena ia tak butuh itu. Ia hanya ingin menunjukkan kepada dunia kalau dia juga bisa bahagia. Dengan atau tanpa hadirnya sang buah hati, ia bahagia bersama suami yang teramat mencintainya.