Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Pertemuan ke 2


__ADS_3

Sore hari setelah kepulangan Dimas, Pak Lukman dan bu Ambar membawanya ke rumah sakit untuk menemui keluarga Adinda. Sepanjang perjalanan, raut gelisah terlihat jelas pada wajah Dimas. Tatapannya menerawang jauh ke luar kaca mobil yang ditumpanginya. Jauh di dalam hatinya, sebenarnya ia belum siap menemui gadis itu. Wajah yang penuh memar, dan jeritan pilu yang tertahan masih terekam jelas di kepalanya. Dadanya bergemuruh membayangkan pertemuan keduanya nanti. Bagaimana keadaan gadis itu? Apakah gadis itu akan memaafkannya? Apakah benar gadis itu mau menikah dengannya?. Berbagai pertanyaan mulai menghiasi kepalanya.


Di rumah sakit, Adinda dan keluarganya bersiap-siap untuk pulang. Bu Atikah mengemas semua barang-barang Adinda ke dalam ransel yang dibawa Adinda saat piknik. Sedangkan pak Sholeh dan Anisa mengurus administrasi perawatan Adinda. Anisa terkejut saat mendapati bahwa seluruh biaya perawatan sudah dibayar atas nama Lukman Sanjaya. Pak Sholeh pun bisa memaklumi niat baik keluarga Sanjaya. Bahkan untuk kepulangan mereka sore ini saja sudah disiapkan empat buah tiket pesawat oleh keluarga Sanjaya.


Keluarga Sanjaya tiba di rumah sakit. Mereka pun sampai di ruang rawat Dinda tepat saat Dinda turun dari bangsalnya.


"Kalian sudah mau berangkat?" ucap bu Ambar melihat Anisa yang membawa kursi roda untuk Dinda.


"Iya bu, pesawatnya berangkat jam lima" jawabnya sambil mendorong kursi roda ke arah Dinda.


kreeekkk


Pak Sholeh memasuki ruangan. Pintu kamar yang masih terbuka lebar menampakkan pak Lukman yang menunggu di luar pintu dengan seseorang di belakangnya. Sekilas Adinda melihat wajah orang yang berdiri bersama pak Lukman. Ia membelalakkan matanya. Tangannya yang saat itu memegang Hp terlihat bergetar, peluh membasahi sekujur tubuhnya. Kaki yang semula tegak berdiri, kini seakan kehilangan kekuatannya, lututnya terasa lemas. Pandangan matanya kabur sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


Beberapa saat kemudian, Dinda sadar dari pingsannya. Segera setelah ia sadar, ia pun meminta keluarganya untuk segera meninggalkan rumah sakit. Pak Sholeh yang awalnya meminta Dinda untuk dirawat kembali pun akhirnya harus menuruti keinginan putrinya yang bersikeras meminta pulang itu.


Kini Dinda dan keluarganya sudah duduk di kursi pesawat. Dengan begitu hanya butuh waktu kurang dari dua jam untuk sampai di rumahnya.

__ADS_1


Di rumah keluarga Sanjaya, Dimas yang baru kembali dari rumah sakit berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, ia merebahkan tubuhnya dengan sebagian kaki yang masih tergantung di tepi ranjang. Dengan lengan kanannya yang terangkat di atas dahinya, ia kembali mengingat kajadian saat dirinya di rumah sakit.


Flash back


Pak Lukman mengajak Dimas untuk menunggu di luar ruang rawat Dinda. Ia memberi tahu kalau saat ini Dinda belum bisa menemui tamu laki-laki. Pak Sholeh yang tadinya bersama mereka berniat masuk memanggil istrinya karena keluarga Sanjaya yang ingin berbicara dengan kedua orang tua Dinda. Saat pintu dibuka Dimas pun mendongakkan kepalanya, matanya menangkap sesosok wajah yang pernah ia jumpai. Sekilas tatapan mereka beradu


Deg


Ada perasaan aneh menyusup ke dalam hatinya. Jantungnya berdetak tak menentu. Rasa bersalah, malu dan khawatir bercampur jadi satu. Di saat ia masih sibuk mengendalikan gejolak di dadanya, terdengar teriakan dari dalam ruangan. Dilihatnya gadis yang tadi ditatapnya itu sudah terkapar di lantai. Tanpa berpikir panjang, Ia pun menghambur masuk ke ruangan dan mengangkat Dinda ke ranjangnya. Dari jarak sedekat Itu dia dapat melihat wajah polos gadis yang di depannya.


tok,,,tok,,,tok


Mendengar pintu kamarnya diketuk, Dimas beranjak duduk dari tidurnya. "Siapa?"


"Ini mama Dim"


"Masuk aja ma" ucapnya menyahuti.

__ADS_1


Bu Ambar pun masuk ke kamar Dimas sambil membawa segelas jus dan menyerahkannya kepada putranya itu. Dengan sekali teguk, Dimas menghabiskan jusnya itu dan meletakkan gelas kosong di meja kecil di samping tempat tidurnya.


"Ma," panggil Dimas ragu-ragu.


"Hmm? kenapa?" mama Ambar pun duduk di samping Dimas.


"Mama yakin gadis itu mau menikah dengan Dimas?"


"Memangnya kenapa?"


"Mama nggak lihat tadi? gadis itu pingsan begitu melihat wajah Dimas. Bagaimana bisa dia bersedia menikah kalau melihat wajah Dimas saja dia ketakutan seperti itu"


"Kamu sendiri gimana?"


"Maksud mama?"


"Dim, Gadis itu menerima tawaran pernikahan ini bukan tanpa alasan. Dia pasti sudah memikirkannya matang-matang. Mengenai dia yang ketakutan saat melihat kamu, seiring berjalannya waktu nanti kita sama-sama menyembuhkan traumanya itu. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah memperbaiki kesalahanmu. Tunjukkan padanya kesungguhanmu, tunjukkan padanya kalau kamu bukan orang jahat. Kamu mau kan?"

__ADS_1


__ADS_2