
Malam telah larut. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Di dalam kamarnya, Dinda masih terjaga. Menatapi punggung laki-laki yang tidur di sampingnya. Ia sadar sudah melukai hati suaminya. Selama ia menikah tak pernah sekalipun laki-laki itu membentak apalagi marah padanya. Entah karena memang rasa cinta pada istrinya atau karna ia yang memang sudah merasa rendah diri di hadapan sang istri. Namun demi apapun, Dinda akan bersaksi jika suaminya adalah lelaki terbaik yang diberikan tuhan untuknya.
Sungguh, andai ucapan bisa ditarik tanpa meninggalkan luka, ia pasti akan segera menarik ucapan yg membuat suami tercintanya terluka. Namun sayangnya, angan hanya di awang-awang. Sedangkan kenyataannya sekarang sang suami mungkin teramat sakit karena lidahnya. Menyesal, itulah kini yang ia rasakan.
Pagi menjelang, seperti biasa Dinda akan sigap menyiapkan segala kebutuhan suaminya. Mulai dari pakaian hingga sarapan. Namun ada yang berbeda dalam kamar tidur pasangan suami istri itu. Jika biasanya aktivitas pagi itu disertai perbincangan ringan atau bahkan canda tawa di antara keduanya. Pagi ini suasana kamar terasa hening. Sesekali hanya terdengar suara dari gerakan Dimas yang sedang memakai pakaian kerjanya. Sedangkan di ujung tempat tidur ada Dinda yang memperhatikan seluruh gerak gerik suaminya itu.
Dengan memeluk tas kerja sang suami, Dinda berdiri tak jauh dari Dimas. Perasaan sedih karena diacuhkan kini menyesakkan dadanya. Tak pernah sebelumnya Dimas sedingin ini terhadapnya. Dan hal itu kembali membuat air matanya mengalir begitu saja.
Selesai bersiap, laki-laki itu berjalan mendekati Dinda hendak mengambil tasnya. Namun Dinda yang sudah tak tahan lagi menahan sesak, dengan segera menghambur memeluk sang suami.
"Maaf,,, maafin Dinda mas" lirihnya dalam pelukan Dimas. "Dinda sayang sama mas Dim, maafin Dinda. Jangan marah lagi".
Tak ada sahutan dari laki-laki dewasa itu. bahkan kedua tangannya pun menggantung tak membalas pelukan sang istri. Kecewa itu yang ia rasa saat ini. Bukan pada istrinya, namun lebih kepada dirinya sendiri. Sebagai seorang laki-laki tentu saja ia merasa tak sempurna karena kekurangannya. Namun apa yang diucapkan sang istri begitu menusuk relung hatinya. Ia tak marah, cuma ia sedang merasa berada di titik terendahnya. Mulai memikirkan kembali hal-hal yang sempat terlintas di benaknya seperti saat lalu di awal ia baru mengetahui kekurangannya.
Mungkinkan selama ini istrinya itu tak bahagia hidup bersamanya. Atau bahkan mungkin istrinya merasa menyesal bersuamikan dia?
"Maafin Dinda mas, jangan diemin Dinda kayak gini. Dinda salah, Dinda minta maaf"
Isakan Dinda membuat Dimas mendapatkan kembali kesadarannya. Sebenarnya ia pun tak ingin mendiamkan istrinya itu. Ia tahu Dinda pasti merasa bersalah, namun ia pun bingung harus bersikap seperti apa sementara hatinya sendiri sedang tidak baik-baik saja. Dalam keadaannya yang kacau seperti ini, ia takut jika menyakiti istrinya. Atau mungkin mengucapkan kata-kata yang akan ia sesali nantinya. Jadi mungkin diam adalah jalan keluar yang terbaik sampai perasaannya lebih baik.
Merasa tak mendapat respon dari sang suami, Dinda pun semakin mengeratkan pelukannya sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali. "Maaf,,, maaf,,, maafin Dinda mas, Dinda salah,,," lirihnya terdengar pilu.
Merasa tak tega Dimaspun mengangkat tangannya membalas pelukan sang istri. "Sudah,,, mas berangkat kerja dulu". Ucapnya datar sembari menepuk-nepuk pelan punggung Dinda.
"Nggak mau, mas Dim masih marah sama Dinda".
Dimas yang merasa pelukan istrinya semakin erat pun hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. "Enggak, mas udah nggak marah. Sekarang kita sarapan dulu yuk" ajak Dimas sembari mengusap-usap lembut kepala Dinda. "Udah yuk" bujuknya lagi.
__ADS_1
Dinda yang masih memeluk erat suaminya pun mendongakkan wajahnya demi melihat wajah sang suami yang katanya sudah memaafkannya. "Beneran mas udah maafin Dinda?".
"Iya".
Cup
Dimas mengecup lembut kening istrinya yang memang sengaja Dinda dekatkan ke bibir sang suami demi mendapatkan sebuah kecupan seperti biasanya. Dinda sendiripun tak tinggal diam, sembari bergelayut di leher sang suami, ia pun menciumi seluruh wajah lelakinya itu hingga Dimas geli dibuatnya.
"Mas nggak usah kerja aja lah, Dinda masih kangen" ucap Dinda memeluk kembali sang suami.
Dimas yang mendengar rengekan istrinya pun hanya tersenyum menanggapi. Tak heran jika sang istri bersikap manja dengannya. Selain karena Dinda yang memang selalu seperti itu, Dimas pun yakin hal ini juga karena ia yang semalaman mendiamkan wanita itu.
"Ya mas? Mau kan nemenin Dinda di rumah?" rengeknya lagi.
"Emang mau apa sih?" tanya Dimas lembut. Pria itu sudah kembali seperti biasanya. Entahlah, ia tak bisa lama-lama marah dengan istrinya itu. Apalagi jika Dinda sudah bermanja-manja seperti ini. Sudah dipastikan ia akan semakin gemas dengan istrinya itu.
"Tapi nanti siang mas ada janji sama klien baru sayang. Besok aja gimana? Lusa kan libur, jadi mas bisa nemenin kamu dua hari berturut-turut".
"Gimana sih mas, pengennya hari ini kok malah besok. Kalau nggak mau ya udah sana kerja aja". Ngambek. Dinda menghempas kasar pelukannya pada Dimas.
Si lelaki pun melongo dibuatnya. Tak tau kenapa istrinya itu terlihat kesal. entah itu hanya akting seperti yang biasa Dinda lakukan atau itu beneran kesal, Dimas kurang bisa menyimpulkan. Yang ia tau, ia harus membujuk sang istri yang kembali merajuk itu.
Dimas berjalan menyusul Dinda yang sudah keluar dari kamarnya. Tak ingin kekesalan istrinya berlanjut, ia pun meraih tangan Dinda tepat di ujung tangga sebelum sang istri menuruni tangga menuju lantai satu rumahnya.
"Sayang, gimana kalau nanti sore kita nonton?" Bujuknya, masih menggenggam tangan Dinda.
"Maless" sewot Dinda tanpa menatap wajah pria di depannya.
__ADS_1
"Oke deh, mas berangkat nanti siang aja. Pagi ini nemenin kamu aja di rumah".
"Nggak usah, sana kerja aja. Kan lebih penting kerjaan timbang istri" sarkas Dinda sambil berjalan menuruni tangga.
"Kok gitu. Jelas penting kamu dong sayang".
"Buktinya mas lebih milih kerja daripada nemenin Dinda".
Dimas melambatkan langkahnya, berjalan di belakang Dinda menuju ruang makan. Tak tau lagi harus ia jawab apa ucapan istrinya itu. Biasanya Dinda bersikap menyebalkan seperti ini saat akan kedatangan tamu bulanannya. Entahlah, mungkin saat ini sudah waktunya. Kembali, helaan nafas kasar pun keluar dari mulutnya.
Hhhhhhhh,,,
Sesampainya di ruang makan, Dimas meraih ponsel yang ada di sakunya untuk menghubungi Niko. Melihat raut wajah istrinya yang tak juga berubah, ia pun tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan nyonya kecilnya itu.
Dimas memperhatikan sang istri yang sedang menyiapkan sarapan untuknya. Dengan wajah masam, wanita itu semakin terlihat menggemaskan dengan bibir yang mengerucut.
"Udah dong ngambeknya. Mas kan nggak jadi berangkat kerja. Nemenin kamu aja di rumah".
Dinda hanya melirik sekilas ke arah suaminya itu, sedangkan tangannya masih terampil mengambilkan lauk mengisi piring untuk sang suami.
"Sayang,,," Dimas meraih tangan Dinda yang baru saja meletakkan piring di depannya. "Mas nggak kerja sesuai keinginan kamu lho. Kamu nggak seneng?"
"Iya, makasih. Mmmuach,,," sambil tersenyum riang Dinda mencium dalam pipi suaminya.
Mau heran tapi wanita itu istrinya. Dimas pun hanya tersenyum membalas perlakuan Dinda yang bisa berubah mood secepat itu.
"Tapi maaf, nanti siang mas masih harus ketemu klien" Secepat kilat, Dinda pun meluncurkan tatapan mautnya. "Cuma sebentar sayang, satu jam. Nanti kamu ikut mas, setelah itu kita jalan-jalan oke?". Sambar Dimas melihat sang istri yang hendak membuka mulutnya dan dapat dipastikan, drama pun akan semakin jauh menuju ending.
__ADS_1
"Ck, iyaaah" jawab Dinda jutek.