
Dinda tersenyum menatap tingkah gadis kecil yang berlari-lari kecil di depannya. Gadis cilik itu seolah begitu senang setelah mendengar kabar bahwa ia baru saja menjadi seorang kakak. Memasuki rumah dengan senyum cerianya, Qila berlari lebih dulu setelah pintu dibuka oleh mbak Narti.
"Assalamu'alaikuum,,," ucap Dinda begitu sampai di ruang tamu. Sedang gadis kecil di depannya kembali menyerukan salam setengah berteriak karena tak ada sang oma yang menjawabnya.
"Bi Narti, kok sepi?" Tanya Aqila memperhatikan sekitar. "Adik Qila mana?"
"Adik Qila masih di rumah sakit sayang, nanti sore kita lihat sama ayah Dimas ya" jawab Dinda lembut. Ia meraih tangan Qila dan menuntunnya menuju lantai dua. "Sekarang Qila istirahat dulu sama bunda oke?" lanjutnya.
"Oke bunda" ucap Qila semangat.
Gadis kecil lima tahun itu melompat-lompat senang sembari berjalan menggandeng tangan budenya yang ia panggil bunda. Aqila adalah putri kedua dari Talita dan juga Andra. Pasangan itu baru saja mendapat kebahagiaan dengan lahirnya anak ke tiga mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Sedang anak pertama mereka adalah seorang gadis berusia delapan tahun yang sekarang duduk di kelas dua Sekolah Dasar.
Sedangkan Dinda sendiri, wanita yang saat ini hampir berusia tiga puluh tahun itu masih saja mengharap keajaiban dari Tuhan. Ia yakin dengan segala keyakinan dalam hatinya bahwa Tuhan yang maha pemurah akan mengabulkan doanya dengan memberinya keturunan yang ia damba selama ini di waktu yang tepat.
Dimas sendiri pun tak tinggal diam. Ia tak bisa begitu saja pasrah menerima apa yang menimpanya. Sebagai seorang hamba, sudah seharusnya ia berusaha disamping doa yang tak pernah putus ia lantunkan. Selain masih mengkonsumsi berbagai vitamin bahkan ramuan untuk penyubur, Dimas juga telah menjalani serangkaian pemeriksaan untuk mengembalikan kesuburannya. Ya, dua tahun lalu ia baru saja menjalani operasi untuk penyembuhan varikokel. Walaupun dokter sendiri tidak menjamin akan hasil dari operasi itu, tapi Dimas bersikeras menjalaninya. Dengan harapan akan adanya keajaiban setelah berbagai usaha yang dijalaninya.
Setelah sebelumnya ia begitu takut menjalani setiap rangkaian pemeriksaan, entah kenapa beberapa kali melihat wajah murung istrinya seakan memantik semangatnya untuk kembali memeriksakan diri. Bahkan sempat terlintas di benaknya untuk menjalani proses bayi tabung. Namun dengan lembut Dinda menjelaskan untuk bersabar sebentar lagi. Toh mereka sudah berusaha bukan. Jikalau memang sudah jalan dari Tuhan mereka tidak diperkenankan memiliki keturunan, Dinda akan ikhlas. Karena yang baik menurut mereka, bisa jadi sebaliknya menurut Tuhan.
Setelah selesai dengan segala upaya medis, kini mereka tinggal menunggu tangan Tuhan yang bekerja. Tidak ada yang tidak mungkin bukan. Mereka hanya harus terus berdoa kepada sang maha kuasa. Dan meyakini segala sesuatu sudah berjalan sesuai skenario sang pemilik hidup.
Sore harinya, Dinda menepati janjinya untuk membawa Aqila menemui adik barunya. Kini mereka bersama Dimas dan juga Aleysha kakak Aqila, sedang berjalan di lorong rumah sakit menuju kamar perawatan Talita.
"Assalamu'alaikuum,,," ucap Dinda membuka pintu ruang rawat Talita.
"Wa'alaikumsalam" terdengar jawaban serempak dari dalam.
"Mamiiiii,,," pekik Aqila dan Aleysha bersamaan.Kedua gadis kecil itu berlari menuju Talita yang duduk bersandar di atas brankar.
"Eeehhh,,, pelan-pelan sayang, nanti adik bayinya nangis loh" balas sang mami menyambut dua putrinya.
Seketika suasana hangat tercipta di ruang rawat VIP itu. Dinda yang memang sangat mendamba hadirnya sang buah hati pun tak melewatkan kesempatan untuk sekedar menimang sang manusia baru. Sembari sesekali berdoa dalam hati agar ia juga berkesempatan untuk mengandung dan melahirkan sebagaimana wanita lainnya.
__ADS_1
"Mirip banget sama Qila ya ma" ucap Dinda pada sang mertua yang turut memperhatikan si bayi.
"Iya, sama banget ma bayinya Qila" jawabnya.
Dimas yang asik bermain dengan Qila pun memperhatikan sekilas Dinda yang tampak senang memangku sang bayi. Ada sebersit perasaan nyeri menghinggapi hati Dimas melihat tatapan sang istri yang begitu mendamba pada si bayi. Dan bahkan, ia sendiri tau betapa istrinya itu sudah menguatkan hatinya untuk sekedar memberi selamat kepada orang lain atas kelahiran bayi mereka.
Ya, tak dapat dipungkiri, rasa iri sering kali hinggap di hati Dinda. Layaknya manusia biasa, ia yang memang sangat mendamba hadirnya sang buah hati pun sering sekali dilanda iri setiap kali mendengar kabar kehamilan atau kelahiran. Namun ia tak begitu saja larut dalam perasaan sesat itu. Bahkan dengan sangat apiknya ia menyembunyikan rasa itu dan berbesar hati memberikan selamat dengan tulus.
"Sayang udah malam, pulang yuk" ucap Dimas menginterupsi keasyikan istri dan mamanya.
"Iya Din, kasian anak-anak kalau kelamaan di rumah sakit" sahut mama Ambar.
"Mama nggak ikut pulang?" Tanya Dinda pada sang mertua.
"Bentar lagi mama pulang kalau Andra udah dateng".
"Mama pulang aja nggak papa. Bentar lagi Papinya anak-anak juga dateng" ucap Talita.
"Ya udah Dinda pulang duluan kalau gitu" Dinda menyerahkan bayi yang di pangkunya ke gendongan omanya. "Bude pulang dulu sayang, besok sini lagi ya" ucap Dinda dengan suara menyerupai anak kecil.
"Iya bude, makasih udah jenguk Alvin" jawab Talita mewakili sang putra. "Titip anak-anak ya kak".
"Beres, kamu tenang aja, Lisa sama Qila aman".
"Ayok sayang, salim oma dulu" Dimas menuntun Qila yang masih asyik bermain dengan bonekanya. Sedangkan Aleysha sudah lebih dulu memeluk sang mami.
………
Dinda merebahkan dirinya setelah beberapa saat lalu menemani Qila dan Lisa di kamarnya. Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan menyembulkan suaminya yang masih terlihat gagah di usia empat puluhannya.
"Aaa,,, gantengnya suami tuaku" ucap Dinda manja sembari menaikkan kedua tangannya menyambut Dimas.
__ADS_1
Dimas yang melihat tingkah manja Dinda pun hanya tersenyum menanggapi. Dan tanpa banyak kata, laki-laki itu mendudukkan dirinya di tepi ranjang sembari masuk ke dalam pelukan sang istri.
Bukan sekali dua kali Dinda bersikap seperti itu. Entahlah, semakin kesini wanita yang berstatus sebagai istrinya itu semakin manja saja. Bahkan, beberapa kali Dinda meminta Dimas menggendongnya keliling rumah saat sedang tak ada orang di rumah. Dan Dimas pun meladeni saja kemanjaan istrinya itu dengan senang hati. Baginya, kebahagiaan Dinda adalah prioritas utamanya.
"Kenapa sayang? Capek?" Tanya Dimas sembari mengecup pipi Dinda sayang.
"Sedikit" jawab Dinda masih merangkul leher Dimas erat.
"Mau aku pijitin?"
"Mau dong, tapi mas kan juga capek".
"Kan bisa gantian" ucap Dimas sambil melepaskan diri dari belitan tangan Dinda.
"Nggak usah ah" Dinda pun melepaskan rangkulannya. "Sini-sini, kita cerita-cerita aja" lanjutnya sembari menepuk-nepuk sisi sampingnya yang kosong.
Tanpa aba-aba, Dimas pun naik ke atas ranjang dengan melompati Dinda yang masih berbaring. Dengan sigap ia menjulurkan lengannya untuk digunakan sebagai bantal oleh istrinya dan meraih tubuh Dinda ke dalam pelukannya.
"Hmmm,,, nyamannyaaa" ucap Dinda pelan.
"Kenapa? Kamu nggak lagi sedih kan?" Tanya Dimas curiga. Beberapa kali ia mendapati Dinda yang bertingkah berlebihan karena wanita itu sedang sedih. Entah ia sendiri kepikiran dengan kehamilan atau ada orang yang menyinggungnya. Dimas paham itu, namun istrinya itu tak pernah mau bercerita sendiri sebelum Dimas yang bertanya.
"Nggak kok. Aku seneng aja punya ponakan baru".
"Kita nanti juga punya baby lucu kaya Alvin" hibur Dimas yang tau kegelisahan istrinya. "Kan kamu sendiri yang bilang, Tuhan sudah menyiapkan waktu terbaik untuk kita" lanjutnya, kemudian mengecup mesra kening Dinda.
"Iya, Dinda tau. Kita nanti pasti juga dapat giliran. Langsung kembar malah. Cowok cewek, seru kali ya mas".
"Aamiin,,, kita berdoa ya sayang. Semoga saja kita diberi kesabaran yang lebih sampai waktunya nanti".
"Aamiin,,, semoga saja suami tuaku ini masih tetap tampan sampai nanti nantiii" Ucap Dinda terkikik geli karena sang suami yang menghujaninya dengan kecupan.
__ADS_1