
Niko menghela nafasnya kasar menghadapi kekerasan hati Maya. Jika saja gadis itu memberitahu alasan ia tidak bisa menerima perasaannya, mungkin ia akan dengan rela hati melepasnya. Sebelumnya ia bahkan meyakini jika gadis itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi apa daya jika semua itu hanya karena rasa percaya dirinya yang terlalu tinggi.
Beberapa kali ia mencoba menjalin hubungan dengan seorang gadis. Namun tak sampai berpikiran untuk melangkah lebih serius dengan gadis-gadis itu. Bahkan ia masih lebih memilih berkumpul dengan teman-temannya ketimbang harus berkencan dengan gadis-gadis itu.
Berbeda dengan Maya. Perkenalan singkatnya dengan gadis itu di apartemen Dimas kala itu benar-benar meninggalkan kesan tersendiri baginya. Maya yang cuek dan berpikiran dewasa membuatnya menginginkan gadis itu untuk mengisi hari-harinya. Rasa nyaman saat bersamanya dan juga candaan Maya yang selalu saja terngiang-ngiang di telinganya semakin membuatnya merindu jika tak berjumpa gadis itu.
Setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya sendiri, ia pun berniat untuk memutar kembali mobilnya. Meninggalkan rumah minimalis dua tingkat itu dengan gadis pujaan di dalamnya. Sampai akhirnya ia melihat sebuah dus terbungkus plastik yang teronggok di tempat Maya tadi duduk. Dan ia pun mengingat bahwa dus itu adalah bawaan Maya dari tempat Dinda. Aahhh,,, inikah jalan yang diberikan Tuhan untuknya?
Niko tersenyum memandangi dus yang sepertinya berisi makanan itu. Dengan mantap ia meraihnya dan keluar dari mobilnya.
Setidaknya gue sudah berusaha. Ayo Nik semangat!!!
Beberapa kali Niko menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan kegugupannya. Setelah yakin dengan perasaannya, ia pun mantap mengetuk pintu bercat putih itu.
Tok,,, tok,,, tok,,,
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam" terdengar suara sahutan dari dalam.
Ceklek
Seorang gadis kecil sekitar sepuluh tahunan membuka pintu. Ditatapnya laki-laki yang berdiri di depan pintu sembari menenteng bungkusan plastik di tangannya.
"Ayaaah,,, ada tamu" teriaknya kemudian.
"Siapa La?" Suara ayah yang berjalan ke ruang tamu. Sementara Niko masih berdiri dengan tenangnya. "Siapa ya?" Tanya ayah seteleh melihat Niko.
"Saya Niko yang tadi ngantar Maya om. Ini punya Maya" Niko menyerahkan bungkusan yang dibawanya pada Naila yang masih berdiri memegang daun pintu. "Tadi ketinggalan di mobil".
"Oh, ayo masuk dulu. La bilang kakak kamu ada temennya" ucap ayah sembari membuka pintu lebih lebar untuk mempersilakan Niko masuk.
Naila pun bergegas masuk untuk ke kamar Maya yang ada di lantai dua rumah itu.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Niko pun masuk ke dalam rumah dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Setelah ini mungkin dia harus bersiap dengan omelan dari Maya. Begitu pikirnya.
"Kamu tadi juga resepsi sama Maya?" Tanya ayah setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Iya om"
"Kenal Maya di mana?"
"Kebetulan saya temennya suami Dinda om"
"Ohh,,, dari kota juga?"
__ADS_1
"Iya om"
Di tengah perbincangan itu, datanglah ibu dengan nampan berisi dua gelas teh di atasnya.
"Silakan diminum tehnya" ucap ibu setelah menyuguhkan tehnya. Kemudian iapun duduk di sebelah ayah. "Siapa yah?" bisiknya pada ayah yang juga di dengar oleh Niko.
"Temennya Maya di kota" jawab ayah.
"Perkenalkan saya Niko tante" Niko mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan ibu.
"Beneran temennya?" ucap ibu menggoda.
"Mas Niko!" Terdengar suara Maya yang tiba-tiba saja berada di ruang tamu dengan handuk yang masih berada di kepalanya. Nafasnya sedikit terengah-engah efek berlari dari kamarnya karena Naila yang memberitahunya ada laki-laki yang mencarinya. Sontak saja ia berfikir itu Niko, karena hanya laki-laki itu yang ada di kepalanya. Eh,,, iya kah?
"Kamu kenapa sih nak?" Ibu menatapnya heran.
"Mas Niko ngapain?" tanyanya tanpa memperdulikan pertanyaan ibu.
"Itu tadi ada barang kamu yang ketinggalan"
"Ohh,,, terima kasih. Emm,,, mas tadi katanya ada urusan. Ntar dicariin sama kak Dimas loh kalau kelamaan".
"Urusan apa? Nggak ada kok, tadi juga Dimas udah tau kalau aku nganterin kamu" Niko menahan senyumnya melihat kepanikan di wajah Maya. Ia tahu gadis itu sedang berusaha mengusirnya.
"Kamu ini May. Ada temennya dateng bukannya seneng malah di usir. Biarin nak Niko minum dulu tehnya. Ayo nak diminum" ucap ibu mengalihkan pandangannya ke arah Niko.
Tak ingin Niko berbicara aneh-aneh, Maya pun ikut mendudukkan dirinya di sofa tunggal yang berada di antara ayah dan Niko.
"Loh,,, loh,,, kok malah ikut duduk di sini. itu handuknya di lepas dulu dong May. Nggak sopan ah"
"Ntar aja ah buk"
"Kalian pacaran?" Tanya ayah tiba-tiba.
"Nggak kok yah, beneran Maya nggak pacaran sama mas Niko"
"Terus kenapa kamu gugup kaya gitu?"
"Nggak kok, Maya nggak gugup" kilah Maya.
"Kalau Niko sendiri gimana? Bener cuma temenan sama Maya?" Ayah menatap Niko tajam. Namun laki-laki itu masih terlihat tenang di tempat duduknya.
"Ehemmm,,, maaf om" Niko menghela nafasnya. Kemudian menatap ke arah Maya yang menggelengkan kepalanya seolah melarang Niko mengucapkan apapun yang ada di kepalanya. "Sebenarnya saya memang menyukai anak om, tapi mungkin saya belum pantas untuknya sehingga dia nolak perasaan saya"
Satu kalimat terakhir dari Niko membuat ketiga orang di ruang tamunya itu memunculkan ekspresi yang berbeda. Maya yang yang memejamkan matanya entah karena malu atau terharu, ibu yang menahan senyumnya melihat ekspresi anak gadisnya, sedang ayah dengan ekspresi seriusnya menatap tajam ke arah Niko.
__ADS_1
"Kamu kerja apa kuliah juga?" Tanya ayah dengan suara sedikit lebih tegas.
"Saya udah kerja om. Dan saya kerja sama Dimas di perusahaannya".
"Orang tua kamu?"
"Orang tua saya tinggal sama kakak saya di kota B om. Saya tinggal sendiri di kota, sesekali saya pulang mengunjungi orang tua"
"Pekerjaan orang tua kamu?"
"Yah,,," sahut Maya cepat. Inilah yang dikhawatirkan Maya karena ia tahu ayahnya masih berfikiran sangat kolot. Hal itu pula yang membuatnya enggan untuk terlibat hubungan yang namanya pacaran. Karena ayahnya pasti akan menentangnya.
Niko menatap Maya yang terlihat keberatan dengan pertanyaan ayahnya itu.
"Mas Niko cuma temen Maya yah. Kenapa mesti ditanyain seperti itu sih" kesal Maya.
"Kenapa? Ayah cuma nanya kok. Kamu nggak keberatan kan Nik?"
"Nggak kok om. Orang tua saya hanya tinggal ibu om. Beliau seorang ibu rumah tangga" lanjutnya menjawab pertanyaan ayah.
"Terus apa yang membuatmu nggak suka sama Niko?" Tanya ayah beralih kepada Maya yang seketika itu gelagapan dibuatnya.
"Maksud ayah apa sih?"
"Kamu beneran nggak suka sama Niko?" tegas ayah.
"Bukannya nggak suka yah, cuma ayah kan nggak suka kalau Maya pacaran".
"Ya udah nggak usah pacaran"
Niko yang mendengarnya pun seketika menunduk lesu.
"Kalian nikah aja langsung" lanjut ayah yang seketika membuat ketiga pasang mata membelalak ke arahnya.
"Ayah ih, bikin ibu takut aja" ibu menepuk pelan paha ayah.
"Beneran boleh om?" Ucap Niko berbinar yang diangguki oleh ayah.
"Kok gitu sih yah" protes Maya.
"Apalagi? Sekarang kamu tentuin. Kamu bener-bener nggak berhubungan sama Niko atau ikut aturan ayah?"
"Maya kan masih kuliah yah".
"Kamu boleh nglanjutin kuliah kamu kok May" sahut Niko tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
__ADS_1
Nggak percuma gue nekat. Terima kasih tuhaannn,,,