Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Kepikiran


__ADS_3

Sudah seminggu lebih Dinda kembali ke rumah mertuanya. Selama itu pula hari-harinya hanya diisi dengan bermain bersama Talita atau menemani mertuanya dengan segudang aktifitasnya. Bosan dan jenuh sudah pasti dirasa. Terlebih Dimas sang suami sedang disibukkan dengan urusan kantor yang banyak menyita waktunya. Membuat sang istri semakin merasa kesepiaan saat ditinggal Talita yang kadang asik berkencan dengan Andra pacarnya.


Hari ini, Dinda diajak mama Ambar mengikuti kelas yoga. Sepertia biasa, sepulang beraktifitas gadis itu langsung menuju kamar untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Selesai mandi dan berganti pakaian, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur kesayangannya. Meraih hp yang ia letakkan di sampingnya, kemudian memeriksa kalau-kalau suaminya yang sibuk itu menghubunginya. Tepat dugaannya, Dimas baru saja mengirim pesan untuknya.


Lagi apa sayang?


Tiduran, baru pulang yoga sama mama.


Kamu mau pesen sesuatu nggak? Bentar lagi mas pulang.


Nggak usah sayang. Kamu cepet pulang aja.


Ok sayang, tunggu yaaaa,,,😘


Kembali ia meletakkan hp ke atas meja kecil di sampingnya. Pandangannya menerawang menatap langit-langit kamar yang berwarna putih itu. Tanpa terasa sudut mata yang terlihat sendu itu nampak basah oleh air mata.


Flashback


Dinda duduk di samping mama Ambar yang sedang berbincang asyik dengan dua orang temannya seusai mengikuti kelas yoga. Seperti biasa, mama selalu saja mengenalkan Dinda kepada para sahabatnya itu. Terlebih pada mereka yang memang belum kenal dengan menantunya itu.


"Udah ada tanda-tanda belum nih Din?" Ucap Mira sesaat setelah bersalaman dengan Dinda.


"Tanda apa sih tante?" Sahut Dinda menanggapai pertanyaan teman mertuanya itu.


"Iihhhh,,, kamu kan udah nikah lama. Gimana, udah isi belum?"


"Doain aja tante" jawab Dinda masih dengan senyumnya.


"Ihhh,,, kamu tuh gimana sih Din. Udah satu tahun lebih lho. Masa belum hamil juga. Udah pernah periksa belum?"


"Dinda kan masih kuliah Mir. Nyantai lah" sahut mama Ambar yang menyadari perubahan ekspresi pada menantunya.


"Tapi bener juga kata mbak Mira lho jeng. Apasih yang diharapkan dari pernikahan kalau bukan anak?" Timpal Lena teman mama yang lainnya.


Tak sakit memang. Tapi kata-kata tersebut mampu menciptakan nyeri di sudut hati Dinda. Padahal selama ini dia santai-santai saja menjalani pernikahannya. Toh baru beberapa bulan ini ia memiliki hubungan suami istri yang normal layaknya rumah tangga lainnya. Tapi ucapan Lena benar-benar menciptakan gelenyar aneh di hatinya. Antara tersinggung dan khawatir, entahlah. Entah rasa apa itu, hingga tanpa sadar air bening menggenang di pelupuk matanya.


"Ma, Dinda ke toilet bentar ya" ucap Dinda sembari beranjak dengan terburu begitu sadar dirinya menangis.


Flashback end

__ADS_1


Ceklek


Nampak Dimas memasuki kamar dengan setelan kerjanya. Meletakkan tas yang berisi laptop itu di atas meja dan berjalan mendekati Dinda yang masih terbaring di atas ranjang.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di kening sang istri dan membuat gadis itu membuka matanya.


"Mas baru pulang?" Tanya Dinda sembari beranjak duduk dari tidurnya.


"Iya. Kamu kenapa?" Dimas memperhatikan wajah Dinda yang terlihat sendu. Seketika Dinda pun menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


"Emang kenapa?"


"Capek ya? Atau kangen sama mas?" Goda Dimas.


Tanpa diduga Dinda malah menubruk Dimas yang duduk di depannya itu. "Kangen bangeeetttt" ucapnya sembari mengeratkan pelukannya.


"Kenapa sih sayang? Nggak biasa-biasanya kamu kayak gini?" Ucap Dimas membalas pelukan Dinda.


"Nggak kenapa-kenapa kok. Mas mandi dulu gih, udah sore ini".


Malam telah larut. Jarum jam menunjuk angka Satu. Namun Dinda masih saja terjaga dengan kata-kata Lena yang berputar-putar di kepalanya.


Apasih yang diharapkan dari pernikahan kalau bukan anak?


Udah isi belum?


Udah satu tahun lebih lho. Udah periksa belum?


Aaahhhh,,, kenapa keinget itu terus sih. Baru juga beberapa bulan jadi istri beneran. Lagian kenapa mereka ngomong kaya gitu sih ah. Jadi kepikiran kan ini. Nggak papa Din, semua ada waktunya. Mungkin ini masanya kamu menikmati pernikahan kamu. Toh suami dan keluarga kamu juga baik-baik saja kan. Nggak pernah tuh mereka nuntut kamu buat cepet hamil. Abaikan saja mereka.


Berkali-kali Dinda meyakinkan hatinya untuk melupakan percakapan yang tak terlalu penting itu. Namun, entah mengapa suara-suara sumbang itu masih saja berputar di telinganya. Seolah seseorang baru saja membisikinya. Dengan kesal ia pun memiringkan tubuhnya sembari menutupkan bantal di atas telinganya. Berharap rasa kantuk akan segera menghampirinya.


Namun pergerakan Dinda itu malah membuat Dimas yang sedang memeluknya terbangun.


"Kamu belum tidur?" Tanya Dimas sembari menarik bantal yang menutup kepala Dinda.


"Mas Dim keganggu ya?"

__ADS_1


"Ada apa sih Din? Dari tadi mas perhatiin kaya ada yang kamu sembunyiin" Dimas mengangkat kepalanya dengan tangan kiri sebagai tumpuan. Sedangkan tangan kanannya masih melingkar pada perut Dinda.


Perlahan Dinda memutar tubuhnya hingga kini ia menghadap dada bidang suaminya itu. "Mas,,,"


"Hmm?" Dimas kembali merebahkan tubuhnya dan mengulurkan tangan kirinya untuk kemudian menjadi bantal Dinda.


"Mas pingin punya anak nggak?"


Dimas mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari Dinda. "Kamu ngomong apa sih? Masih mau lagi?" Tanya Dimas dengan senyum jailnya."


"Masss" rajuk Dinda.


"Habisnya nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba nanya kaya gitu. Yang tadi masih kurang ya?" Tanya Dimas kemudian mengecup bibir yang masih terlihat kesal itu.


"Mas aku serius" menjauhkan wajah Dimas yang mulai menghujaninya dengan kecupan.


"Emang kenapa sih, tiba-tiba kamu nanya kaya gitu?"


Dengan sedikit ragu, akhirnya Dinda pun menceritakan hal yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Dimas yang melihat keseriusan pada wajah istrinya pun mendengarkan dengan seksama cerita itu. Ia tahu, istrinya itu sedang tidak baik-baik saja. Terbukti Dinda yang biasanya langsung tertidur setelah aktivitas malam mereka, sampai sekarang belum juga memejamkan matanya.


"Kamu kepikiran ucapan tante Lena?" Tanya Dimas begitu Dinda menyelesaikan ceritanya.


"Emm" angguk Dinda.


Dimas mengeratkan pelukannya pada istrinya itu. "Jujur mas malah belum kepikiran ke sana. Kita nikah emang udah setahun lebih, tapi untuk urusan membuat anak kita kan baru Din. Baru juga beberapa bulan ini".


"Ih, mas kok ngomongnya gitu sih. Emang bisa apa bikin anak?"


"Istilah aja sayang. Kalau soal itu sih biar tuhan saja yang ngurus. Kita cuma bisa berusaha dan berdoa. Dan baiknya, kita berusaha aja dulu yang rajin. Ya nggak?" Ucap Dimas yang langsung mendapat hadiah cubitan dari Dinda.


"Mas nggak sedih kan kalau Dinda belum hamil?"


"Ngapain sedih? Itu artinya, tuhan masih memberi kesempatan sama kita buat pacaran sayang. Menata diri untuk jadi orang tua yang baik nantinya. Udahlah, santai aja. Nggak usah dipikirin omongan orang kaya gitu" Dimas sedikit mengendurkan pelukannya untuk menatap wajah istrinya itu. "Kamu bahagia kan jadi nyonya Dimas?"


"Emm" angguk Dinda diiringi senyum manisnya.


"Itu yang paling penting. Nggak usah mikir yang aneh-aneh lagi ya. Mas nggak mau ngeliat istri mas yang cantik ini sedih. Jelek tau?".


Dinda pun kembali membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Ada sedikit kelegaan mendengar penuturan dari laki-laki yang memeluknya itu. Benar apa yang dikatakan Dimas, semua pasti sudah ada yang mengaturnya. Bukankan kita hidup hanya menjalani saja apa yang sudah dituliskan oleh sang pemilik hidup. Semua ada waktunya, dan mungkin saat ini memang belum saatnya bagi mereka untuk menerima amanah itu.

__ADS_1


__ADS_2