
Sebuah mobil sport hitam membelah jalanan ibukota. Seperti biasa Dimas sedang mengantar Dinda kuliah. Namun pagi ini nampak atmosfir yang berbeda melingkupi keduanya. Gadis itu hanya diam menatap keluar kaca mengabaikan sang suami yang juga terlihat fokus menyetir tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Flash back:
Selesai makan malam yang mengakhiri kencan mereka, Dimas mengantar Dinda ke rumah orang tuanya. Nampak Dimas sedang memikirkan sesuatu menatap punggung gadis yang perlahan hilang di balik pintu rumah mewah itu. Setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya, ia memantapkan hatinya melangkah mengikuti Dinda menuju ke kamarnya.
Lama ia terdiam di depan kamar yang dulunya juga miliknya itu. Hati dan pikirannya seolah meneriakkan dua hal yang bertolak belakang antara mengetuk atau pergi saja dari sana. Namun di tengah pergumulan batinnya itu, ternyata tubuhnya lebih cepat mengambil alih. Tangannya tanpa ragu terangkat dan mengetuk pintu di depannya.
Tok,,, tok,,, tok,,,
Dinda yang baru saja menyelesaikan kewajibannya yang tertunda itu nampak terkejut dengan suara ketukan di pintu kamarnya. Dengan masih mengenakan atasan mukenanya, ia berjalan ke arah pintu kamarnya.
Ceklek
"Mas Dim?"
Dimas yang sudah melihat Dinda di depannya menatap intens kedua bola mata Dinda.
"Em,,, mas mau nginep sini boleh?" Ucap Dimas hati-hati.
Sontak Dinda yang mendengar ucapan Dimas pun terkejut dibuatnya.
"M,,,maksud mas Dim?" Tanya Dinda gugup.
"Mas mau bersama Dinda lebih lama. Mas juga pengen cerita-cerita sebelum tidur. Mas ingin sama Dinda terus. Boleh?"
Ah, apa yang kuucapkan barusan. Kenapa terlalu to the point gitu sih. Haiiisssh,,, payah kamu Dim, Dim.
Dinda membelalakkan matanya mendengar ucapan Dimas. Gadis itu seperti baru saja diingatkan kalau Dimas adalah suaminya. Seseorang yang memang sudah seharusnya tinggal bersamanya. Perlahan akal sehatnya mengambil alih. Ia tak memungkiri keadaannya sekarang sudah jauh lebih baik saat bersama laki-laki itu. Tak ada salahnya juga kan ia mencoba untuk lebih dekat dengan suaminya itu. Perlahan urat wajahnya mengendur. Tangannya yang sedari tadi masih memegang handle pintu pun bergerak membuka pintu lebih lebar untuk mempersilahkan laki-laki di depannya itu masuk. Seulas senyum tersungging di bibir laki-laki itu yang tentu saja membuat jantungnya berdetak tak berirama.
Dinda sudah berada di atas ranjang dengan selimut yang menutupi separuh tubuhnya. Detak jarum jam nyata terdengar di telinganya. Dan jantungnya? Ah,,, jika saja jantung itu tak berada di dalam tubuhnya, mungkin saja gumpalan daging itu sudah terlonjak keluar saking cepatnya ia berdetak.
__ADS_1
Dimas baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah mengganti celana jinsnya dengan celana pendek yang masih tersimpan di lemarinya. Ia berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan duduk di tepi yang berseberangan dengan Dinda yang nampak sekali terlihat gugup itu.
"Dinda kenapa?"
"Eng,,, enggak. Emm,,, mas dapat baju ganti itu darimana?" Tanya Dinda mencoba menenangkan dirinya.
"Dari lemari itu" Dimas menunjuk ke arah pintu lemari yang paling ujung.
"Emang kuncinya ada? Dinda berkali-kali penasaran pengen buka tapi gak pernah ketemu kuncinya"
"Ada dong, di laci paling bawah paling ujung" jawab Dimas tersenyum.
Dimas pun menaikkan tubuhnya dan meraih selimut yang sebagiannya digunakan Dinda. Keduanya nampak begitu canggung berada dalam situasi seperti itu untuk pertama kalinya.
"Makasih" ucap Dimas tiba-tiba menatap Dinda.
"Untuk apa?"
"Mas,,," hardik Dinda menghentikan ucapan Dimas.
Dimas pun tersadar dengan ucapannya. Gadis di sampingnya itu tidak menyukai jika ia mengungkit kejadian yang akan membuka luka lamanya.
"Maaf"
Hening
"Mas Dim kenal sama kak Andra?" Ucap Dinda setelah memutar otaknya mencari bahan pembicaraan.
"Maksud kamu Alex?"
"Ah, iya. Mas manggil dia Alex tadi"
__ADS_1
"Emm,,, gak begitu kenal sih. Cuma beberapa kali ketemu di arena".
"Arena?"
"Ohhh,,, itu, sebenarnya jalanan biasa sih. Cuma di jalan itu sering diadain semacam balapan gitu"
"Ah, iya. Talita pernah cerita kalau mas Dim dulu sering balapan ya?"
"Hmm,,," jawab Dimas sembari menggaruk tengkuknya.
"Kenapa sekarang motornya gak pernah dipake lagi?"
"Mas cuma gak pengen penyakit mas nanti kambuh lagi"
"Penyakit? Mas punya penyakit apa?" Tanya Dinda khawatir.
"Penyakit suka balapan. Hehehe,,,"
"Ihhh,,, kirain sakit apa gitu" kesal Dinda mengerucutkan bibirnya. "Padahal Dinda pengen banget lho mas naik motor kaya gitu. Tapi repot sama mama sama papa"
Ucapan Dinda berhasil membuat perhatian Dimas terfokus sepenuhnya kepadanya. Satu hal lagi yang diketahui Dimas dari gadis itu. Ternyata istri yang selama ini dipandangnya sebagai seorang yang feminim dan juga lemah lembut nyatanya tidak sepenuhnya benar. Bahkan Dinda dengan santainya menceritakan kejahilannya bersama tiga temannya saat masih bersekolah di kota asalnya. Dan hal tersebut tentu saja membuat Dimas semakin penasaran dengan kejutan-kejutan lain yang akan diberikan istri kecilnya itu.
Di saat Dinda masih asik menceritakan masa-masa sekolahnya, pandangan laki-laki itu tak lepas dari bibir Dinda yang sempat ia cicipi sore tadi. Dan semakin ia memperhatikan, semakin tak kuasa ia untuk kembali menikmati bibir mungil istrinya itu.
Perlahan ia beringsut mendekat ke arah Dinda. Dengan tatapan mata yang intens ia menatap ke arah gadis di depannya. Sadar diperhatikan, Dinda pun menghentikan ceritanya dan menatap ke arah Dimas yang sudah mulai mendekatkan wajahnya.
Perlahan Dimas mendaratkan bibirnya di atas bibir Dinda. Dengan lembut laki-laki itu menikmati bibir mungil yang sedari tadi sudah terlihat menggemaskan di matanya. Melihat tak ada penolakan dari Dinda, Dimas pun menambah aksinya dengan tangannya yang mulai bergerilya dan perlahan menurunkan resleting gamis yang dipakai istrinya itu.
Merasakan sebagian tubuh Dimas yang sudah berada di atasnya, sontak membuat tubuh gadis itu menegang. Sekelebat bayangan mengerikan melintas di kepalanya. Tanpa berpikir panjang, gadis itu mendorong tubuh Dimas hingga hampir saja terjungkal ke lantai jika kaki panjangnya itu tak menahannya.
Flashback end
__ADS_1