Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Emosi


__ADS_3

Adinda dan Maya sedang duduk di sebuah halte yang berada di depan kampusnya. Seperti biasa Maya selalu menemani Dinda sampai Dimas menjemputnya. Maya sendiri ngekost tak jauh dari kampus. Ia cukup menyeberang dan berjalan beberapa meter memasuki gang untuk sampai di kostannya. Tak jarang Adinda mengajaknya ikut serta untuk menemaninya dan menginap karena rasa bosan ditinggal Talita.


Seseorang dengan motor sport tiba-tiba berhenti tepat di depan Dinda dan Maya. Laki-laki berjaket kulit itupun membuka helm dan tersenyum ke arah keduanya.


"Hai Din, May" sapa Andra mengangkat tangannya.


"Kak Andra" ucap Adinda dan Maya bersamaan.


Andra turun dari motornya dan berjalan mendekat ke arah Dinda dan Maya. "Kalian sengaja nungguin gue di sini?"


"Iiihhh,,, ge er banget sih" sungut Maya.


"Kemana aja kak? Baru kliatan" timpal Dinda.


"Biasa lah. Kalian mau kemana?"


"Emm,,, nunggu jemputan. Kak Andra sendiri mau ngapain jam segini baru ke kampus?" Tanya Dinda.


"Gak sengaja lewat, eh silau ma kecantikan kalian, jadinya gue samperin deh"


"Helleeeehhh,,, inget kak. Dinda udah ada yang punya" ingat Maya


"Loohhh,,, jodoh mana tau" kekeuh Andra menatap Dinda.


Sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di belakang motor milik Andra. Dinda yang melihatnya pun tersenyum dan merapikan buku-buku yang ia taruh di sampingnya.


"Dinda udah di jemput, pamit dulu ya kak. Makasih ya May" Dinda bercipika-cipiki dengan Maya.

__ADS_1


"Eh Din, tuggu bentar dong. Kita kan baru ngobrol" sergah Andra menarik tangan Dinda yang berjalan melewatinya.


"Kak!" Marah Dinda.


Dimas yang melihat kejadian itu dari dalam mobil pun keluar dan mendekat ke arah Andra. Dengan kasar ia melepas tangan Andra yang masih memegang tangan Dinda.


"Hati-hati dengan tangan kamu Lex!" Ucap Dimas penuh penekanan.


"Ooohhh,,, ada suaminya ternyata. Kirain dah jadi janda si Dinda" sinis Andra.


"Kak Andra apa-apaan sih!" Hardik Dinda.


"Sorry Din. Gue kan baru kali ini ngeliat lo sama suami lo. Ya maklumin aja deh"


"Udah yuk mas" Ucap Dinda sembari menarik Dimas menuju mobil. "Aku duluan ya May" pamitnya kepada Maya yang dibalas anggukan oleh Maya.


"Gue akan tungguin janda lo Din" ucap Andra sedikit berteriak agar didengar oleh pasangan yang sudah menjauh itu.


Bugh


"Maaass,,,!" Teriak Dinda berlari menarik tangan Dimas.


Dimas yang masih dilanda emosi masih berusaha mendekati Andra yang sempat oleng karena pukulan darinya.


"Mas,,, udah. Ayo pulang"


"Ayo lanjutin omongan lo. Lo bilang apa tadi? Gue yang akan hancurin lo sebelum Dinda jadi janda" ucap Dimas berapi-api.

__ADS_1


"Hhhh,,, ternyata kelemahan lo udah ganti ya. Jadi makin penasaran gue" sinis Andra.


Dimas pun kembali akan menyerang Andra. Dinda yang merasa sia-sia menarik lengan Dimas pun tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang Dimas dan memeluknya dari belakang.


"Mas, ayo pulang" lirih Dinda.


Dimas yang merasakan pelukan dari istrinya pun seketika menghentikan aksinya. Pandangannya menurun menatap tangan Dinda yang melingkar erat di perutnya. Seolah terhipnotis oleh suara serak milik istrinya yang terisak, ia pun memutar tubuhnya dan merangkul Dinda membawanya masuk ke dalam mobil. Dimas tak lagi menghiraukan teriakan Andra yang masih saja memprovokasinya. Ia sendiri masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan Andra yang masih belum puas mengganggunya.


Sedangkan Maya, gadis itu masih terdiam tak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.


"Gila!!! Barusan kaya adegan di drakor. Seru banget" Maya bicara sendiri.


"Kenapa May?" Tanya Andra heran melihat Maya.


"Iiiihhh,,, kak Andra tadi harusnya bales dong biar makin seru. Kalau gini kan nanggung. Tapi gak papa sih. Tadi ada romance nya dikit"


"Aneh lo ya. Ngliat orang berantem malah seneng banget kaya gitu"


"Lagian kalian juga sih, udah pada tua juga masih aja kaya anak kecil. Udah ah, bye,,, Maya duluan ya" ucap Maya sembari berjalan meninggalkan Andra yang masih terheran dengan kelakuan gadis itu.


Sementara itu, Dinda bergegas keluar dari mobil saat Dimas baru saja mematikan mesin mobilnya. Gadis itu mempercepat langkahnya saat masuk ke dalam rumah. Dimas sendiri masih terdiam di dalam mobil menatap punggung gadis yang sedari tadi mengunci rapat mulutnya. Ia tak tahu lagi harus bicara apa dengan istrinya itu. Minta maaf? Tapi dia tidak salah. Suami manapun akan marah jika ada yang berbicara seperti itu.


Apa dia marah karena aku memukul laki-laki itu? Tapi kenapa? Apa dia menyukainya? Sepertinya tidak. Tapi kenapa dia seperti itu?


Dimas meraup wajahnya kasar. Kedua tangannya ia sandarkan di atas kemudi. Wajahnya nampak serius berfikir. Ia benar-benar tak habis pikir dengan aksi diamnya Adinda saat ini. Yah,,, ia memang tidak terlalu ahli soal wanita. Seumur hidupnya Adinda adalah gadis kedua setelah Siska yang pernah mengisi hatinya. Tapi hubungan dengan keduanya sangatlah berbeda. Siska adalah gadis dewasa yang lebih mudah ditaklukkan. Hanya dengan mengajaknya berbelanja, seketika itu Siska yang marah pun akan berubah menjadi manis kepada Dimas.


Lain halnya dengan Dinda. Rentang usia yang cukup jauh diantara keduanya membuat Dimas harus lebih sabar menghadapinya. Karena Dinda bukanlah gadis yang suka berbelanja seperti mantan pacarnya. Ia benar-benar harus bekerja keras untuk meluluhkan Dinda. Terlebih dia bukanlah sosok yang romantis yang pandai merayu. Ya,,, untuk menghadapi Dinda, ia lebih mengandalkan saran dari Maya. Diam-diam Dimas mencari segala sesuatu tentang Dinda dari Maya. Dari hal yang disukai dan tidak disukai. Sampai mencari tahu cara meluluhkan Dinda saat marah.

__ADS_1


'Dinda itu orangnya pemaaf. Dia gak bakalan betah berlama-lama marah. Cukup kakak rayu dia, terus ajak makan makanan kesukaannya pasti beres'.


Dan masalahnya di sini ia benar-benar tak tahu bagaimana harus merayu gadis itu.


__ADS_2