
Malam harinya, Dimas merebahkan tubuhnya di atas karpet seperti malam sebelumnya. Sedangkan Dinda memperhatikan laki-laki itu dari atas tempat tidurnya. Ranjang yang digunakan Dinda memanglah kecil jika dibanding dengan ranjang yang ada di rumah mertuanya. Tapi bukan berarti tidak bisa menampung mereka berdua di atasnya. Bahkan sebelumnya Anisa dan ibunya juga sering menemani Dinda tidur di kamarnya. Melihat suaminya yang malam sebelumnya susah tidur, membuat Dinda berinisiatif untuk menggantikan posisinya.
"Mas Dim tidur di atas aja, biar gantian Dinda yang di bawah" Dinda bangun dari posisi tidurnya.
"Nggak usah. Mas nggak papa kok" Dimas mengerti kekhawatiran istrinya itu.
"Atau mas tidur sini aja sama Dinda" ucap Dinda malu-malu dan menggeser posisinya.
"Di sini aja Dinda. Udah nggak papa, tidur gih"
Dimas bukannya tidak mau tidur satu ranjang dengan istrinya, mau sekali malah. Ia cuma tidak ingin lepas kendali sehingga membuat Dinda kembali teringat dengan traumanya seperti kejadian terakhir kali di rumah orang tuanya. Jika saja Dinda akan baik-baik saja, tentunya ia akan dengan senang hati menerima tawaran istrinya itu.
Brukk
Tiba-tiba Dinda berguling dan menjatuhkan dirinya tepat di samping Dimas yang masih terjaga.
"Dinda kamu ngapain? Sakit kan?" Dimas bangun dan menatap istrinya khawatir.
"Nggak kok. Udah mas, tidur di bawah gini aja berdua. Daripada Dinda nggak enak ngeliat mas tidur di sini"
Din, Din. Kamu mau nyiksa mas apa gimana sih. Masmu ini normal Din, kalau lepas kendali gimana. Hhhhh,,,
"Ya udah ayo tidur di atas aja" Dimas mengalah.
Mereka pun bangun dan berpindah ke atas tempat tidur.Dimas tidur dengan posisi membelakangi Dinda. Sedangkan Dinda masih terlentang menatap langit-langit kamarnya.
"Mas Dim sudah tidur?"
"Hmm"
Apa lagi sih Din. Ayolah, nanti mas bisa khilaf kalau kamu gini terus.
__ADS_1
"Mas Dim nggak pengen tau tadi Dinda ngomong apa sama Guntur?"
"Nggak. Tapi kalau kamu mau cerita mas dengerin".
"Mas nggak penasaran?" Dinda menatap punggung Dimas.
"Kenapa mesti penasaran?"
Ihhh,,, kok gitu sih. Biasanya kan suami cemburu kalau ngeliat istrinya sama laki-laki lain. Aishhh,,, ini kenapa malah aku yang pengen dia cemburu sih. Tapi masa iya dia nggak cemburu sama sekali. Ahhh,,, kenapa sih aku ini.
"Ya udah kalau nggak penasaran" Dinda memutar tubuhnya hingga posisinya saling membelakangi dengan Dimas.
Deg
Sebuah tangan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggang Dinda dan menariknya hingga menempel pada laki-laki yang sekarang sudah dalam posisi memeluknya dari belakang. Jantungnya berpacu tak karuan tatkala tangan itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu sedang mencari tau mas cemburu atau tidak kan?" lirih Dimas di belakang kepala Dinda.
Kenapa dia bisa tahu?
Dimas mengulurkan lengan kanannya di bawah kepala Dinda, hingga kini gadis itu sempurna dalam dekapannya. "Kalau kamu tanya mas cemburu atau tidak jawabannya iya. Tapi masmu ini masih cukup waras untuk mengijinkan kalian bicara berdua. Toh mas juga masih bisa mengawasi kalian kan? Di lihat dari raut wajahnya tadi, sepertinya dia sedang patah hati. Bener kan?"
Masmu? Pede sekali dia bilang seperti itu.
Dinda merinding merasakan hangat nafas Dimas di tengkuknya. Laki-laki itu mencium lama belakang kepala Dinda, menghirup wangi shampo di rambutnya.
"Mas," Dinda menggeliat di pelukan Dimas.
"Udah, tidur"
"Tapi ini sakit mas, rambutku, mas Dim menindihnya" rintih Dinda merasakan rambutnya seperti dijambak.
__ADS_1
"Heh,,,? Maaf" Dimas merenggangkan pelukannya.
Dinda pun meraih rambut panjangnya dengan kedua tangan dan mengarahkannya ke atas sehingga menampakkan tengkuk dan leher mulusnya. Dimas yang kala itu masih dalam posisi memeluknya pun hanya bisa menelan ludah dibuatnya. Perlahan, ia memajukan wajahnya dan mengecup pelan tengkuk Dinda yang dipenuhi anak rambut itu.
Serrrr
Darah Dinda berdesir merasakan hangatnya bibir Dimas menempel pada kulitnya. Dadanya bergemuruh merasakan lembutnya perlakuan Dimas yang beberapa kali mengecup lehernya. Tangan kokoh itupun memegang pundaknya dan perlahan menariknya hingga kini Dinda sudah menghadap ke arahnya. Dua bola mata itu beradu dengan tatapan yang serupa. Perlahan Dimas mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya tepat pada bibir mungil Dinda. Dimas mencium Dinda dengan lembut hingga gadis itupun terlihat menikmatinya. Beberapa saat kemudian Dimas menghentikan aksinya dan menatap sendu wajah Dinda.
Cup
Dimas mengecup kening Dinda dengan penuh perasaan.
"Tidurlah" ucap Dimas, kemudian membalik tubuhnya membelakangi Dinda.
Sedangkan Dinda, gadis itu masih termangu dengan perlakuan Dimas barusan. Ia menatap heran ke arah Dimas yang kini hanya terlihat punggungnya itu.
Malas berpikir lebih dalam, akhirnya Dinda pun mengikuti perintah Dimas untuk tidur. Dengan senyum mengembang di bibirnya ia mulai memasuki alam mimpinya dengan posisi menghadap punggung suaminya itu.
Pagi menyapa. Hari ini adalah hari berlangsungnya lamaran Anisa dan Faris kekasihnya. Semua sanak saudara sudah mulai datang untuk membantu persiapan acara. Termasuk pak de Munif dan juga nenek Dinda yang memang tinggal bersama di kota sebelah. Nenek Dinda yang kala itu tidak hadir dalam pernikahan cucunya itu sangat penasaran dengan Dimas cucu mantunya. Menurut cerita yang ia dengar dari Munif, Dimas adalah pengusaha muda, putra dari seorang dokter ternama di ibukota.
Dimas sendiri masih bergelut dengan mimpinya di kamar Dinda. Berkali-kali Dinda membangunkannya namun mata itu seolah saling merekat erat sehingga sulit untuk terbuka. Bagaimana tidak, semalaman Dimas terjaga karena menahan sesuatu yang dengan gigih memberontak perintahnya.
"Mas, ayo bangun. Itu di luar ada nenek mau ketemu" ucap Dinda untuk yang kesekian kalinya sembari menggoyang-goyang tubuh Dimas.
"Emmh,,, nenek siapa? Mas masih ngantuk Din" sahut Dimas dengan suara khas bangun tidur.
"Ihhh,,, udah siang ini, ntar dilanjutin lagi. Ayok keluar, udah banyak orang itu".
Dimas pun terpaksa menunda tidurnya dan masih dengan mata terpejam ia menurunkan kakinya duduk di tepi ranjang.
"Mas mandi dulu"
__ADS_1
Dinda pun mengambilkan handuk dan menyerahkannya kepada Dimas. Ia menatap heran pada suaminya yang berjalan ke luar kamar untuk mandi itu.
"Kayak abis begadang aja" gumamnya.