Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Sahabat


__ADS_3

Sudah tiga hari Dinda berada di rumah orang tuanya. Tiga hari pula ia harus menjalani LDR dengan suaminya yang belum tau kapan akan menyusulnya itu. Kesibukan membuat pasangan layaknya pengantin baru itu harus menahan rindu untuk sesaat


Hari ini, Dinda berencana untuk berkumpul dengan ketiga temannya yakni Maya, Dian dan Nina. Setelah sekian lama akhirnya keempat sahabat itu memiliki waktu untuk berkumpul dengan formasi lengkap. Dengan diantar oleh Alfian, Dinda sampai di restoran tempatnya bertemu dengan teman-temannya.


"Beneran kamu nggak ikut masuk?" Tanya Dinda setelah turun dari motor dan membuka helmnya.


"Enggak ah. Berisik kalau kumpul sama temen-temen kak Dinda. Bensinnya mana kak?" Ucap Alfian sembari menerima helm dari Dinda.


"Kaya ngojek yah" gerutu Dinda.


"Yah kak, jarang-jarang kan ketemu adeknya ini. Sekali-kali bagi duit kan gak papa"


"Ck, kamu ini. Bersyukur kamu punya kakak baik hati macam kakakmu ini. Udah dibeliin motor, dikasih uang bensin pula. Nggak setiap orang seberuntung kamu Al" ceramah Dinda sembari menyerahkan selembar uang berwarna merah kepada Alfian.


"Heleh, yang beliin motor juga kak Dimas, trus uang bensin segini?" Alfian mencebikkan bibirnya menatap uang seratus ribu itu. "Kalau kak Dimas yang ngasih, ini tuh buat jajan tau kak"


"Heh, kak Dimas tuh suami kakak yah. Jadi segala sesuatu yang berasal dari suami kakak ya sama aja kakak yang ngasih" Dinda menutup kaca helm Alfian kesal. "Udah sana, hati-hati jangan ngebut".


"Iya bawel" Alfian mengerucutkan bibirnya menanggapi omelan kakaknya itu.


Senyum menghiasi bibirnya saat Dinda menatap adik laki-lakinya yang beranjak remaja itu menyalakan mesin motornya. Masih kelas tiga SMP memang, tapi perawakannya yang tinggi membuat siapa saja yang melihat Alfian pasti akan mengira remaja itu sudah SMA.


Dimas yang beberapa waktu lalu menginap di rumah mertuanya, melihat Alfian yang harus mengantar Anisa lebih dulu sebelum berangkat sekolah karena hanya ada satu sepeda motor di rumah itu. Sehingga dengan kelebihan rizki yang dimilikinya, sang kakak ipar berinisiatif membelikannya sepeda motor berjenis sport untuk dipakainya saat berangkat sekolah.


Dinda melangkahkan kakinya memasuki restoran seafood langganannya. Di dalamnya hanya ada beberapa meja yang terisi, termasuk meja tempat ketiga sahabatnya menunggunya. Suasana masih sepi karena belum waktunya jam makan siang.


"Assalamu'alaikum" ucapnya berpura-pura santun menyapa ketiga sahabatnya.


"Wa'alaikumsalam" jawab ketiganya bersamaan.


"Dindaaaaa" pekik Dian yang tanpa aba-aba menghambur memeluknya.


"Ya ampun Yan, segitu kangennya kamu sama aku"


"Iya nih, kangen kamu traktir" ucap Dian yang di angguki Nina yang masih duduk di kursinya.

__ADS_1


"Yaaaahhhh,,, kirain" Dinda melepaskan pelukannya.


"Eh, suami kamu yang ganteng nggak ikut?" Tanya Dian melongokkan kepalanya ke belakang Dinda.


"Sialan kamu!" Dinda menepuk lengan Dian.


"Udah ada yang punya woyy" Nina menimpali.


"Hehehe,,, iya tau. Gitu aja marah" Dian beranjak duduk kembali ke kursinya diikuti Dinda yang duduk di samping Maya.


"Hai May" sapa Dinda yang hanya dibalas anggukan oleh oleh Maya. "Belum pada pesen kalian?" Tanya Dinda yang hanya melihat minuman di meja mereka.


"Baru nyampe juga kali Din. Lagian gak enak kalau pesen makanan belum ada bu bos" sahut Nina.


"Bu bos?" Dinda menatap ketiga sahabatnya bergantian.


"Ya kamu lah" jawab ketiganya bersamaan.


"Kapan lagi morotin istri pengusaha muda?" Suara Dian antusias.


Sembari menunggu pesanan mereka datang, keempat sahabat itu saling bertukar cerita tentang kesibukan masing-masing. Tak lupa Dinda pun menceritakan kisah Maya dan Niko yang tentu saja menjadi bahan bulyan untuk Dian dan Nina. Maya yang memang terlihat tak bersemangat membahasnyapun hanya menghela nafas menanggapi ocehan teman-temannya.


Kehebohan itu harus terhenti sementara karena pesanan makanan yang bisa dibilang tak sedikit itu akhirnya datang ke meja mereka. Dengan hati-hati sang pelayan restoran menata pesanan yang terdiri dari berbagai macam seafood itu di atas meja.


"Beneran kamu pesen sebanyak ini Yan?" Dinda membelalakkan matanya melihat meja mereka yang sekarang penuh dengan makanan.


"Kapan lagi makan seafood gratis kaya gini Din. Mumpung suami kamu nggak ikut" jawab Dian sembari menata makanan di depannya.


Dinda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. "Apa hubungannya sama suamiku?"


"Malu lah Din sama cowok cakep"


"Haiisshhh,,, jaga perasaan Dinda dikit kek yan. Suami dia itu" Hardik Nina.


"Udah jangan pada ribut. Ayok makan" ucap Maya mulai menyendokkan lauk ke piringnya.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, keempat sahabat itu sibuk dengan makanannya masing-masing. Sesekali terdengar suara Dian yang mengomentari makanannya dan hanya disambut anggukan oleh ketiga teman lainnya.


-


"Kamu kenapa sih May? Dari tadi aku perhatiin diem mulu. Ada masalah?" Tanya Dinda saat hanya tinggal Maya di rumahnya.


Ketiga sahabatnya itu ikut pulang bersama Dinda untuk mengambil seragam yang akan mereka kenakan saat acara resepsi pernikahan Anisa. Mereka ditunjuk sebagai penerima tamu untuk acara pernikahan Anisa yang akan digelar tiga hari lagi.


Maya yang memang berniat ingin bicara berdua dengan Dinda pun tinggal lebih lama dari dua temannya yang lain, yang sudah lebih dulu pulang beberapa menit yang lalu.


"Tau nih Din. Aku ngerasa bersalah banget tau nggak sama mas Niko" ucap Maya mendudukkan dirinya di kursi yang ada di teras rumah Dinda.


"Kenapa emang?" Dinda menyusul Maya duduk di kursi yang lain.


"Sebelum aku pulang ke sini, mas Niko tuh nembak aku lagi. Trus ak bilang aja aku nggak suka sama dia. Eh, sampai sekarang dia belum hubungin aku lagi" Maya menghela nafasnya kasar.


"Yah, kirain kenapa. Galau toh ternyata"


"Akutuh ngerasa gak enak aja gitu Din, pasti dia sakit hati banget, ya nggak?"


"Kalau kamu emang nggak suka ya mau gimana lagi May. Daripada kamu PHP in dia terus. Mending kaya gini aja kan. Biar kalian sama-sama nyaman. Jangan bilang kamu nyesel udah nolak mas Niko?" Ucap Dinda mulai menyadari sesuatu.


"Aku mesti gimana dong Din? Di satu sisi aku belum bisa menerima perasaannya. Di sisi lain aku nggak mau dia kecewa kaya gini"


"Egois kamu May. Trus alasan kamu nolak dia tuh sebenernya apa? Masih karena masa lalu mas Niko yang seorang playboy?"


"Kamu mah enak Din. Kak Dimas tipe cowok setia. Buktinya mantannya aja cuma satu. Lah mas Niko, mantannya segudang Dinda, coba kamu bayangin gimana playboynya mas Niko dulu".


"Mas Dimas juga punya masa lalu kali May. Kan kamu juga tau itu. Kamu sendiri yang bilang, untuk hanya fokus sama masa sekarang dan yang akan datang. Sekarang mas Niko tuh bener-bener pengen serius ma kamu. Dan kedepannya, semua sudah ada yang ngatur May. Kamu percaya takdir kan? Kamu jalanin aja apa adanya" ucap Dinda sok bijak.


"Tau ah Din. Pusing aku. Udah ah, mau pulang dulu" Maya beranjak dari kursinya dan berjalan menuju motornya yang terparkir di halaman Dinda.


"Ati-ati May, jangan kebanyakan ngelamun"


"Ck, iyyahh"

__ADS_1


__ADS_2