Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Permintaan Mama


__ADS_3

Talita sedang memainkan hpnya saat seseorang mengetuk kaca mobilnya.


Tok,,,tok,,,tok


Talita menurunkan kaca untuk melihat seseorang yang sudah berdiri di samping mobilnya.


"Andra!" Pekik Lita begitu melihat sosok yang menyapanya. Ia pun bergegas keluar dari mobilnya untuk menemui laki-laki yang dipanggil Andra itu.


"Haiii cantik" ucap Andra memeluk Lita yang sudah berada di depannya.


"Haiiisss,,, apa-apaan sih lo. Kalau cowok gue lihat gimana?" Hardik Lita melepaskan pelukan Andra.


"Baru juga gue tinggal bentar udah laku aja lo"


"Sialan lo. Gue tuh cantik tau? Elo aja yang buta" sombong Lita.


"Iya,,, iya percaya kok" Ucap Andra menoel dagu Lita.


"Eh, dari mana aja lo? Baru kliatan".


"Gue ambil cuti Lit. Kenapa? Kangen ya?"


"Hadeeehhh" Jengah Lita memutar bola matanya.


Dari tempatnya berdiri, Lita melihat Dinda yang melambaikan tangannya kepada Maya. Maya berjalan keluar kampus sedangkan Dinda menuju ke arahnya.


Sesampainya di mobil Lita, Dinda berlalu begitu saja dan masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan Lita yang sedang berbicara dengan Andra. Andra pun terbengong melihat gadis yang baru saja dilihatnya.


"Siapa Lit?" tanya Andra kepada Lita. Matanya tak lepas dari gadis yang sekarang duduk di dalam mobil memainkan hpnya.


"Kakak gue. Udah ya, cabut dulu" jawab Lita hendak membuka pintu mobilnya.


"Eehh,,, tunggu dulu" sergah Andra memegang lengan Lita. "Sejak kapan lo punya kakak cewek? Mana kliatan mudaan dia lagi. Bohong lo ya?" Tanya Andra menyelidik.


"Sialan lo. Gue juga masih muda tau!" Sungut Lita melepaskan pegangan Andra.


"Hehehe,,, iya maaf. Eh, kenalin dong" rajuk Andra memainkan alisnya naik turun.

__ADS_1


"Ogahhh,,, dah ah. Bye!!!" Lita memasuki mobilnya dan ia pun segera melajukan mobilnya ke luar area kampus. Meninggalkan Andra yang masih penasaran di tempatnya berdiri.


Malam harinya, Dinda sedang melakukan video call dengan ibunya saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia pun mengakhiri panggilannya dan beranjak membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Lit?" ucapnya begitu melihat Lita berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kak Dinda dipanggil mama tuh"


"Ooohh,,, ayuk" Dinda pun menutup pintu kamarnya dan berjalan menggandeng Lita menuruni tangga.


Sesampainya di ruang keluarga, sudah ada mama Ambar dan pak Lukman yang menunggunya sembari menonton Tv.


"Belum tidur kan Din?" tanya mama begitu melihat Dinda mendekat.


"Belum ma. Barusan telfonan sama ibu" jawab Dinda mendudukkan dirinya di samping mertuanya.


"Din, mama mau ngomong sama kamu"


"Ada apa ma?"


"Oh ya? Yang keberapa ma?" sahut Dinda antusias.


"32 tahun Din"


"Waaah,,, selamat ya ma, pa. Semoga langgeng, bahagia terus sampai kakek nenek" ucap Dinda tulus.


"Emang Papa harusnya udah kakek-kakek kan Din" sahut pak Lukman yang membuat Dinda tersenyum canggung.


"Ciiieeehh,,, papa ngarep" timpal Lita menggoda papanya.


"Hush, ngomong apa sih" hardik mama yang mengetahui kecanggungan menantunya itu. "Sebenernya mama pengen ngerayain secara sederhana saja Din. Kamu bisa ngga?"


"Maksud mama?"


"Mama mau kita sekeluarga makan bersama" mama menghentikan ucapannya memperhatikan ekspresi Dinda.


Dinda yang merasa semua orang sedang memperhatikannya pun menatap Lita bingung.

__ADS_1


"Maksud mama, kak Dinda mau kan kalau kak Dimas juga diundang?"


Deg


Jantung Dinda seakan berpacu saat menyadari ia harus bertemu Dimas


Aahhh, aku bahkan belum benar-benar bertemu dengannya, kenapa seperti ini rasanya. Tapi apa aku harus menolaknya?


"Apa Dinda harus ikut ma?" ucap Dinda setelah bisa menguasai keterkejutannya. Ia menyembunyikan tangannya yang mulai bergetar dibalik bantal sofa yang berada di pangkuannya.


"Kenapa nak? Apa masih begitu sulit untukmu bertemu dengan Dimas?" tanya mama hati-hati.


"Din, sampai kapan kamu akan seperti ini? Papa tau ini berat untukmu, tapi apa kamu tidak mau mencobanya? Bukannya psikiater mu mengatakan untuk bisa sembuh dari trauma mu, kamu harus menghadapinya. Bukan malah menghindarinya. Ini sudah setahun Din, apa kamu mau seperti ini terus? Cobalah kali ini saja. Kamu belum tau hasilnya kan?"


Dinda terlihat memikirkan ucapan papa mertuanya itu. Memang benar selama ini Dinda hanya menghindari Dimas. Dan hal itu terus berulang setiap kali mereka bertemu. Mungkin hal itu pulalah yang menyebabkan ketakutannya kepada Dimas tak kunjung menghilang. Karena ia sendiri tak pernah berani menghadapinya.


"Baiklah ma, Dinda mau" ucapnya tiba-tiba.


"Beneran Din? Makasih ya sayang. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kesembuhanmu" mama Ambar pun memeluk Dinda saking senangnya, diiringi tatapan haru dari pak Lukman dan juga Lita.


Senyum terus mengembang di bibir mama Ambar. Betapa bahagianya wanita paruh baya itu mendengar jawaban dari menantunya. Ia sudah tak sabar melihat anak dan menantunya itu bersama layaknya pasangan lainnya.


"Dinda ke kamar dulu ya ma" ucap Dinda setelah mama melepaskan pelukannya.


"Iya sayang"


Dinda pun beranjak dari Duduknya dan berjalan menuju tangga yang merupakan penghubung menuju kamarnya.


Dinda kini sudah berada di kamarnya bersama Lita yang sedang menonton drama kesukaanya. Ia berencana tidur di kamar Dinda malam ini.


Sejak kedatangannya ke rumah keluarga Sanjaya, Dinda selalu mendapat kenyamanan dari keluarga itu. Sikap pak Lukman dan mama yang selalu memperlakukannya seperti anak sendiri membuatnya betah tinggal di rumah itu. Lita pun tak kalah hangat dari kedua orang tuanya. Usianya yang dua tahun lebih tua tidak menghalanginya untuk dekat dengan kakak iparnya itu. Bahkan bisa dibilang Dinda malah lebih dewasa dalam bersikap dibanding Talita.


"Lit, aku boleh nanya sesuatu nggak?"


"Apa?"


"Kakak kamu orangnya gimana sih?"

__ADS_1


__ADS_2