Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Resepsi


__ADS_3

Dinda sedang bercengkrama dengan teman-temannya. Di dalam pesta yang layaknya sebuah reuni itu, Dinda tak henti-hentinya mengumbar senyum. Padahal sebelum acara, gadis itu sempat berfikir untuk menghindari teman-teman SMA nya. Bagaimana tidak, kepindahan dia dulu sempat diiringi gosip yang membuatnya enggan untuk bertemu kembali teman-temannya. Namun tak disangka, pertemuan yang tak dapat dihindari kali ini benar-benar membuatnya bahagia. Seolah menemukan kembali kenangan masa sekolahnya, Dinda dan kedua sahabatnya tak henti-hentinya berkeliling kesana kemari untuk menyapa teman-teman sekelasnya dulu.


Berbeda dengan Dinda yang dengan leluasa menyapa teman-temannya, Di atas pelaminan nampak Maya yang harus senantiasa memasang senyum manisnya. Ya, pesta kali ini adalah resepsi Maya- Niko yang beberapa saat lalu telah sah menjadi suami istri. Tak heran jika sebagian besar tamunya adalah teman-teman sekolahnya, karena pesta itu sendiri digelar di tempat kelahirannya.


Sedangkan untuk Niko, ia hanya mengundang keluarga besar dan beberapa teman dekatnya. Itupun sudah berjumlah ratusan. Belum lagi tamu-tamu dari pihak keluarga Maya. Bisa dibayangkan betapa meriahnya pesta yang dihadiri hampir ribuan tamu undangan itu.


"Kamu capek?" Tanya Niko yang melihat gerak gerik Maya yang mulai tak nyaman.


"Iya mas, gak nyangka tamunya sebanyak ini" ucapnya masih tetap tersenyum.


"Kan kamu sendiri yang bilang, kalau resepsinya sekalian aja. Ya wajarlah kalau tamunya banyak"


"Iya, mending kaya gini. Daripada resepsi masing-masing, capek tau mas. Kalau gini kan sekalian capeknya".


"Tahan bentar capeknya ya. Ntar aku pijitin" bisik Niko dan Maya pun merona dibuatnya.


Di sudut meja lain, Dimas terlihat sibuk beradu game dengan Alfian adik iparnya. Sementara Devan dan Andra yang juga duduk satu meja dengannya terlihat asik berbincang dengan pasangan masing-masing.


"Kak, kak Dinda lama banget sih baliknya" ucap Talita yang tak sedikitpun mengalihkan perhatian Dimas. "Kakk,,,!!!" panggilnya lebih keras.


"Apaan sih Ta, ntar juga balik" jawab Dimas masih fokus ke layar hpnya.


"Ck,,, suami apaan sih kakak ini. Istri pergi lama bukannya dicariin. Diculik orang tau rasa lu".


"Yaaaahhhh,,, siallll!!!" pekik Dimas diiringi tawa dari Alfian. "Lo si ah. kalah kan gue".


"Penting game apa istri sih? Aneh banget jadi orang. Dari tadi istrinya pergi bukannya dicariin" gerutu Talita. "Kamu jangan gitu ya ndra. Nggak perhatian itu namanya" lanjutnya menatap ke arah Andra.


"Jelas nggak dong Ta. Aku tuh nggak bisa tau jauh-jauh dari kamu" gombal Andra diiringi sorakan dari yang lain.


"Huuuu,,,,"


Setelah mendaratkan toyoran di kepala Andra, Dimaspun beranjak dari tempat duduknya.


"Mau kemana bro?" Tanya Devan.


"Mules gue ngeliat tu bocah berdua" balas Dimas sembari menunjuk Andra dan Talita dengan dagunya.


"Yeeee,,, bilang aja iri. Lita doain kak Dinda ketemu mantannya biar CLBK sekalian".


"Dasar adik durhaka lo. Awas lo ya" ancam Dimas sembari melangkahkan kakinya meninggalkan tempat duduknya.

__ADS_1


Disaat yang sama, Dinda beserta Dian dan juga Nina sedang asik berbincang dengan teman-teman sekelasnya dulu. Di sebuah meja bundar yang diisi delapan orang, termasuk Guntur yang juga tergabung di meja itu. Laki-laki itu masih nampak sungkan saat bertemu dengan Dinda.


"Jadi suami Maya itu temen suami kamu Din?" Tanya Dewi setelah beberapa saat mereka berbincang.


"Iya, nggak nyangka kan?" jawab Dinda.


"Trus suami kamu mana? Kok nggak dikenalin sih". Sahut Arman yang duduk di samping Guntur.


"Sengaja ditinggal emang" timpal Dian. "Asal kalian tau ya, suami Dinda tuh bbbeeeeuuhh,,, cakep bener. Ntar kalian pada naksir lagi". Lanjutnya sembari menatap ketiga teman wanitanya.


"Bener begitu Din?" Meli menatap Dinda serius.


"Ck, nggak lah. Itu sih Dian aja yang lebay" Dinda mengibaskan tangannya di depan wajahnya.


"Eh, beneran ganteng tapi" serobot Nina.


"Yaahhh,,, buat apa ganteng kalau akhlak bajingan" ucap Arman seolah tak terima para gadis yang memuji suami dari temannya itu.


Deg


Dinda menatap penuh selidik ke arah Arman. Selama ia berbincang dengan teman-temannya tadi, tak ada seorang pun yang menjelekkan suaminya. Bahkan mereka semua penasaran sosok seperti apa yang dulu sempat menghebohkan sekolah mereka dengan menikahi salah satu siswi terbaiknya. Dengan gosip yang nyatanya tak terbukti, sekarang mereka malah yakin kalau Dinda menikah bukan karena hamil atau hal negatif lainnya.


Tetapi ucapan Arman seolah menyiratkan kalau laki-laki itu mengetahui sesuatu yang selama ini hanya dia dan beberapa orang yang tau. Mungkin Dinda lupa jika beberapa gurunya dulu juga mengetahui kejadian yang menimpanya, sehingga ia urung dikeluarkan dari sekolah.


"Nggak ada maksud apa-apa. Aku tuh cuma bilang, percuma wajah ganteng kalau nggak diiringi akhlak yang baik" elak Arman.


"Emang kamu kenal suami Dinda sampai ngomong kaya gitu?" Bela Dian.


"Nggak sih. Tapi gue tau kalau suami Dinda itu pemer,,,"


Belum selesai Arman menyelesaikan kalimatnya, Guntur yang tau Arman mengetahui kejadian yang melatarbelakangi pernikahan Dinda pun menghentikannya. "Man!!!"


"Kenapa suami Dinda Man?" Tanya Meli yang terlanjur penasaran.


"Kita ambil makan aja yuk Din" ajak Dian yang melihat kepanikan di wajah Dinda.


"Yuk"


Hampir saja Dinda berdiri dari tempat duduknya, namun terhenti karena suara Ina yang sedari tadi diam menyimak.


"Maksud kamu beneran kalau Dinda dulu tuh diperkosa Man?"

__ADS_1


Sontak meli dan Dewi yang tidak mengetahui kabar itupun terkejut dibuatnya. Sedangkan Dinda, gadis itu hanya tertunduk berusaha mengatasi keterkejutannya.


"Kamu juga dengar kan cerita itu?" Tanya Arman kepada Ina yang mendapat anggukan dari gadis itu. "Jadi sekarang kalian semua tahu kan penyebab Dinda nikah hingga pindah sekolah? Trus kalian percaya gitu, pernikahan Dinda baik-baik saja dengan suaminya yang notabene adalah seorang bajingan?" Arman menatap ke arah dua gadis lainnya.


"Arman cukup! Apaan sih kamu ngomong kaya gitu?!" Hardik Guntur.


"Gun,,, Gun. Udahlah, ngaku aja. Kamu sebenarnya juga berharap Dinda nggak baik-baik saja dengan pernikahannya kan? Aku tau kamu suka sama Dinda Gun. Dan bahkan kamu pernah bilang mau nunggu dia cerai dari suami bejatnya itu".


"Cukup!!!"


"Diaamm!!!"


Pekik Guntur dan Dinda bersamaan.


"Kamu!" Tatap Dinda pada Arman. "Atas dasar apa kamu ngomong kaya gitu tentang suamiku? Kamu kenal dia? Sodaranya? Bukan kan? Kamu tuh ngak tau apapun. Nggak usak sok tahu berbicara tentang suamiku".


"Tapi aku ngomong apa adanya Din. Benerkan dia udah berbuat jahat sama kamu?"


"Iya bener. Asal kamu tau ya, orang jahat itu nggak selamanya jahat. Bahkan mereka bisa jadi lebih baik dari orang-orang yang terlihat baik sekalipun. Dan suamiku, ia orang baik. Hanya saja keadaan membuatnya terlihat jahat. Dan aku nggak pernah menyesali dengan cara Tuhan mempertemukan kami".


"Dinda" lirih Guntur.


Semua terdiam mendengar ucapan Dinda. Antara kagum dan juga merasa bersalah, wajah-wajah didepannya itu masih saja menatapnya.


"Sayang" suara Dimas memecah kecanggungan itu.


Dinda pun menolehkan kepalanya menatap suaminya yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya. "Eh mas".


"Aku cariin kamu dari tadi lho" mendekat ke arah Dinda kemudian merangkulnya.


"Oh ya, kenalin dulu ini temen-temen sekolah aku dulu".


Dimas pun mulai menyalami teman-teman Dinda bergantian. Sampai giliran Guntur yang menyambut tangannya.


"Hai, kita ketemu lagi" ucapnya yang dibalas senyuman oleh Guntur.


"Udah ngobrolnya?" Tanya Dimas pada Dinda.


"Udah".


"Yuk, yang lain udah nungguin kamu dari tadi".

__ADS_1


"Yan, Nin aku duluan yah" ucap Dinda kepada dua temanya yang langsung mendapat persetujuan dari keduanya. "Teman-teman, aku duluan ya" ucapnya lagi pada yang lainnya.


__ADS_2