
Dinda terpaku melihat sosok yang berdiri di depannya. Laki-laki yang dua minggu ini begitu dirindukannya kini berdiri tepat di hadapannya.
Halusinasi **a**tau aku mimpi sih ini?
"Hai,,," sapa Dimas membuyarkan lamunan Dinda.
"M,,,mas Dim?" Ucap Dinda masih tak percaya.
"Nggak disuruh masuk?"
"Eh,,, iya. Mari" Dinda membuka pintu lebih lebar untuk mempersilahkan Dimas masuk.
"Siapa Din?" Suara bu Atikah dari ruang tengah.
Dinda pun langsung mengajak Dimas masuk ke ruang keluarga menemui ibunya. Setelah cukup berbasa-basi, bu Atikah pun mempersilahkan Dimas untuk beristirahat di kamar Dinda.
Dinda membimbing langkah Dimas menuju kamarnya. Ini adalah pertama kalinya laki-laki itu memasuki kamar istrinya. Beberapa kali ia datang ke rumah mertuanya itu, tapi belum pernah sekalipun ia melangkahkan kakinya lebih dalam dari ruang tamu rumah itu.
Dinda membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Dimas memasuki ruangan yang tentu saja nampak begitu kecil dibanding kamarnya di rumah keluarga Sanjaya. Dinda menutup pintunya dan memperhatikan Dimas yang juga sedang memperhatikan seluruh sudut ruangan itu.
Melihat koper yang masih di tangan Dimas, Dinda pun yakin, laki-laki itu memang benar-benar berniat menyusulnya.
"Mas Dim tau dari mana Dinda di sini?" Tanya Dinda membuat Dimas menoleh ke arahnya.
"Menurut kamu?"
"Mama?" Dinda yakin mertuanya itulah yang memaksa Dimas untuk menyusulnya.
"Tuh tau" Dimas mendudukkan dirinya di tepi ranjang kecil milik Dinda.
"Emm,,, mas Dim masih marah?"
"Kenapa?" Tanya Dimas bingung dengan pertanyaan istrinya.
"Bukannya waktu itu mas Dim marah sampe nggak mau ketemu sama Dinda?"
Apa ini? bukannya dia yang marah karena sikapku waktu itu. Kok malah dia mikirnya aku yang marah sih.
__ADS_1
Dimas berdiri menghampiri Dinda yang masih mematung di depan pintu.
"Jadi selama ini kamu berpikir mas marah sama kamu?" Tanya Dimas setelah berada di depan Dinda.
"Em" angguk Dinda.
Dimas pun tak kuasa lagi menahan hasratnya untuk memeluk gadis itu. Diraihnya Dinda ke dalam pelukannya.
"Ya ampun Din, mas mikirnya malah kamu yang marah sama mas. Mas kangen banget sama kamu" ucap Dimas mempererat pelukannya.
"Kenapa Dinda mesti marah sama mas?"
Dimas pun mengurai pelukannya dan menatap wajah gadis yang begitu dirindukannya itu. "Mas pikir kamu marah sama mas karna waktu itu mas,,, em,,, itu lah pokoknya. Mas malu Din sama kamu. Mas bener-bener kelewatan waktu itu. Dan kamu pasti jadi teringat kej,,,"
"Udah mas" Dinda pun memenggal kalimat Dimas dan memeluknya. Sontak Dimas pun terkejut dibuatnya. "Dinda nggak marah kok. Malah Dinda pikir mas marah karena Dinda nolak mas waktu itu"
"Ya ampun Din, sia-sia dong aku dua minggu nahan rindu hanya karena salah paham ini" Dimas tersenyum sembari mengeratkan pelukannya. Lega sudah perasaannya kini sudah bisa kembali bersama istri tercintanya itu.
Pagi harinya, Dinda membangunkan Dimas yang masih tidur di balik selimut. Semalaman Dimas tidur di lantai beralaskan karpet dan baru subuh tadi dia pindah ke tempat tidur. Itupun karena Dinda yang sudah lebih dulu bangun dan sibuk di dapur bersama ibu dan kakaknya. Setelah membersihkan diri, Dimas pun bergabung dengan semua keluarga yang sudah berada di meja makan bersiap untuk sarapan.
"Gimana tidurnya Dim? Kamar Dinda kecil kan nggak kaya kamar kalian di sana" ucap bu Atikah.
"Terus rencana kamu mau ngapain hari ini?" Tanya pak Sholeh.
"Ngikut Dinda aja pak"
"Emh,,, mas Dim di rumah aja sama Al ya. Dinda hari ini mau ikut ibuk ke pasar, trus ada janji juga mau ketemu temen-temen Dinda"
"Mana bisa dek. Ibuk perginya kan sama kakak, emang muat kalau kamu ikut?" Sahut Anisa.
"Dinda kan bisa bawa motor sendiri kak. Nanti ketemuan di pasar. Habis itu baru Dinda ketemuan sama temen-temen Dinda"
"Kalau gitu nanti mas ikut" sahut Dimas.
"Iya Din, kamu ajak aja suamimu keliling-keliling. Lagian ibuk sama Nisa cuma bentar kok. Tinggal ambil pesanan sama jahitan aja". timpal bu Atikah.
"Hhhh,,, iya deh buk"
__ADS_1
Selesai sarapan, bu Atikah dan Anisa berangkat ke pasar dengan mobil pick up keluarganya yang disupiri oleh pak Sholeh. Sedangkan Dinda hanya bersantai menyaksikan Alfian dan Dimas yang sedang asik main game.
"Kamu janjian jam berapa?" Tanya Dimas di sela-sela permainannya.
"Jam sepuluh"
Dimas pun melihat jam dinding yang tergantung di atas tv sudah menujuk angka sembilan. Ia pun menghentikan permainannya dan tentu saja membuat Alfian jengkel.
"Ayuk siap-siap" ajak Dimas.
"Kak Dimas curang ih. Al kan udah mau menang ini" protes Alfian.
"Ya udah kakak kalah. Nih nanti kakak tambahin lagi" ucap Dimas seraya menyelipkan lipatan kertas biru di tangan Alfian yang seketika membuat remaja itu mengembangkan senyumnya.
"Mas apaan sih. Nanti kebiasaan tuh si Al" protes Dinda yang juga melihatnya.
"Nggak papa, ayok" ajak Dimas meraih tangan Dinda.
"Weeekkk,,," ejek Alfian melihat Dinda mengerucutkan bibirnya.
Dinda sedang menunggu dua sahabatnya di sebuah food court dan tentu saja ditemani oleh Dimas. Tak lama kemudian, dua gadis itu pun datang dan terciptalah kehebohan di tempat itu. Berteriak dan berjingkrak-jingkrak, ah, kekanakan sekali mereka. Dimas yang menyadari mereka menjadi pusat perhatian pun menarik tangan Dinda dan langsung disadari oleh gadis itu. Setelah tenang, Dinda pun memperkenalkan Dimas kepada dua sahabatnya itu.
"Eh kenalin, ini mas Dimas"
Dian dan Nina pun terlihat sedikit canggung dengan Dimas. Mereka tak menyangka, Dinda benar-benar bertahan dengan laki-laki itu.
"Dimas" ucap Dimas mengulurkan tangannya.
"Dian"
"Nina"
"Em,,, Din. Maaf ya, kami tadi sebenernya datang bertiga" ucap Dian tiba-tiba.
"Sama siapa? Kenapa nggak sekalian diajak ke sini?"
"Ah, itu dia"
__ADS_1
Dinda dan Dimas pun berbarengan menatap ke arah yang baru saja ditunjuk oleh Dian. Betapa terkejutnya ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya mendekat ke arahnya dengan paper bag di tangannya.