Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Di Apartemen


__ADS_3

Dinda memutuskan untuk menginap di apartemen Dimas. Sedangkan Maya kembali ke kosannya dengan diantar Niko. Bagaimanapun juga Dinda adalah seorang istri yang mempunyai kewajiban merawat suaminya. Terlebih lagi suaminya itu sekarang sedang sakit. Ia tidak tega jika harus meninggalkan laki-laki itu sendiri.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dinda baru saja selesai membuat bubur untuk Dimas. Sedangkan Dimas sendiri masih tidur sedari sore tadi. Dinda masuk kamar berniat membangunkan Dimas untuk minum obat. Dilihatnya laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu masih terlelap di bawah selimutnya. Dinda mendekat dan meletakkan punggung tangannya di dahi Dimas.


Deg


Perasaan aneh merasuk ke hati Dinda tatkala tangannya menyentuh dahi Dimas. Ia menarik kembali tangannya dan memperhatikan wajah yang masih saja terlelap itu.


Kenapa denganku? Kenapa jadi aneh gini sih. Deg-degan yang sekarang kayaknya beda ama yang kemarin-kemarin.


Dinda memegangi dadanya dengan sebelah tangannya. Ia pun melangkahkan kakinya dan duduk di sofa yang berada tak jauh dari ranjang Dimas. Dari tempatnya duduk Dinda memperhatikan Dimas yang masih terlelap dalam tidurnya.


Kalau saja kita dipertemukan secara normal, aku mungkin udah jatuh cinta sama kamu mas. Tapi aku juga nggak tau kenapa aku bertahan menjadi istrimu yang sebelumnya sangat aku benci. Apa ini yang namanya jodoh? Ahhh,,, tau ah.


Dinda pun mengurungkan niatnya membangunkan Dimas. Ia masih duduk di sofa dan memilih untuk menunggu Dimas bangun sembari memainkan hpnya. Perlahan matanyapun terasa berat dan akhirnya ia pun tertidur sembari bersandar di sandaran sofa.


Dimas terbangun karena rasa haus yang menderanya. Setelah meminum segelas air yang terdapat di meja kecil di samping tempat tidurnya, ia mengedarkan pandangannya dan mendapati sosok Dinda yang sedang tertidur di sofa. Ia menarik sudut bibirnya dan berjalan mendekati gadis itu. Dengan hati-hati ia mendudukkan dirinya tepat di samping Dinda. Diperhatikannya wajah cantik yang sedang terlelap itu.


Terima kasih istriku.


Dimas mendekatkan wajahnya berniat mencium istrinya. Belum sampai ia mewujudkan niatnya itu, sebuah benda keras lebih dulu mencium pelipisnya.


Takkk


Dinda yang terbangun karena pergerakan Dimas, secara reflek melayangkan tangan kirinya yang masih menggenggam hpnya hingga mengenai pelipis Dimas.


"Awhhhh"


Dinda menggeser duduknya melihat Dimas yang berada sangat dekat dengannya.


"Mas mau ngapain?"


"Aku cuma mau ngebangunin kamu kok malah dipukul sih"


"Mma,,, maaf"


"Kamu udah makan?" Tanya Dimas masih memijit pelipisnya.


"Mas lapar? Aku udah buatin bubur tadi".

__ADS_1


"Kamu sendiri gimana? Udah makan?"


"Aku masih kenyang kok. Tadi makan bubur sama buah yang ada di kulkas. Mas mau makan buburnya?"


"Boleh"


"Bentar Dinda ambilin" Dinda beranjak keluar dari kamar Dimas.


Dimas pun mengikuti Dinda yang berjalan ke arah dapur dan duduk manis di meja makan. Diperhatikannya gadis itu yang dengan cekatan menyiapkan bubur dan teh hangat untuknya. Ia pun melahap makanan di depannya tanpa sisa.


Dinda sendiri merasa canggung berada dalam satu ruangan bersama Dimas yang notabene adalah suaminya sendiri. Ia memilih menonton tv untuk menghilangkan rasa gugup yang dialaminya.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Dimas mendekat ke arah Dinda yang masih asik menonton tv. Ia duduk tepat di samping Dinda hingga membuat gadis itu tak nyaman dan menggeser duduknya.


Kenapa kaya abis lari gini sih jantungku.


"Kenapa Din?" Tanya Dimas mengagetkan Dinda.


"Em,,, eh,,, gak papa"


Dimas kembali menggeser duduknya mendekat ke arah Dinda. Sedangkan Dinda kembali menjauhkan dirinya sampai menyentuh sandaran tangan yang ada di tepi sofa.


"Mas ngapain sih?" Kesal Dinda yang melihat senyum usil Dimas.


"Emang ngapain? Lagi duduk ini"


"Ya nggak usah deket-deket dong"


"Emang kenapa? Sama istri sendiri juga"


Deg


Perasaan Dinda berkecamuk mendengar ucapan Dimas. Mungkin saat itu Dimas mengucapkannya untuk menggoda Dinda. Tapi bukan tidak mungkin Dimas benar-benar akan meminta haknya kan? Terlebih saat ini mereka hanya berdua di apartemen.


"Din" Panggil Dimas serius menatap Dinda. "Kamu masih takut sama mas?"


Dinda menggelengkan kepalanya pelan.


"Kamu sudah maafin mas belum?"

__ADS_1


"Bisa nggak mas Dim nanya yang lain aja?" Lirih Dinda.


"Ohh,,, berarti belum ya?" Ucap Dimas menyimpulkan sendiri jawaban Dinda. "Maafin mas ya Din"


"Udah deh, kalau mas masih mau bahas itu lebih baik Dinda pulang aja" kesal Dinda dan berdiri hendak meninggalkan apartemen.


"Eh,,, eh,,, udah malem. Mau kemana?" Dimas meraih tangan Dinda.


"Pulang!"


"Please, duduk dong. Temenin mas di sini. Please Dinda, kamu nggak kasian lihat mas sakit kaya gini? Ayo duduk dulu. Mas janji nggak bahas itu lagi"


Dinda pun mendudukkan kembali dirinya. Dengan bibir yang masih mengerucut ia pun meraih remot dan memindah saluran tv di depannya.


"Makasih ya Din udah mau nemenin mas"


"Iya!"


Dimas yang sedari tadi menahan senyumnya melihat tingkah lucu Dinda pun tak bisa lagi menahan tawanya.


"Ha,,, ha,,, ha,,,"


"Apaan sih mas?"


"Kamu lucu banget sih kalau cemberut kaya gitu. Jadi pengen cium tau nggak"


Suasana canggung pun kembali menyelimuti keduanya. Menyadari kesalahannya Dimas pun kembali membuka suaranya.


"Emm,,, kamu udah nggak karate lagi?"


"Nggak"


"Kenapa?"


"Malu lah mas. Gara-gara mas Dim sih"


Mereka pun berbincang layaknya sahabat yang terpisah setelah sekian lama. Dinda sendiri sudah mulai terbuka dengan Dimas dan menceritakan aktifitasnya saat kuliah. Yah,,, sifat asli Dinda yang terbuka dan ceria nampaknya perlahan muncul dengan sendirinya.


Tak terasa malam pun larut. Dinda sudah berkali-kali menutup mulutnya karena menguap. Dimas pun menyadari istrinya itu sudah mengantuk. Mengetahui istrinya yang merasa belum terbiasa dengannya, ia pun mempersilahkan Dinda untuk tidur di kamar dan dia sendiri tidur di sofa tempat ia menonton tv. Nampaknya ia harus bersabar untuk benar-benar bisa mendekati istrinya itu. Statusnya sebagai suami tak serta merta membuatnya bertindak sebagai seorang suami yang bisa dengan mudah mendekati istrinya. Ya, karena istrinya itu masih menyimpan luka di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2