
"Bagaimana bisa pak Sholeh tidak memberitahukan hal ini kepada kami. Bagaimanapun juga Dimas itu suami Dinda pak. Apa bapak melupakan itu? Bahkan pernikahannya sudah sah dimata hukum" ucap mama Ambar menahan emosi.
Bagaimanapun sikap Dinda kepada Dimas, yang pasti wanita itu sudah terlanjur menyayangi menantu barunya itu. Ia sudah menganggap Dinda seperti anak sendiri. Jadi wajar jika ia ingin tau segala hal yang berhubungan dengan Dinda.
"Maaf mbak, kami memang belum sempat menghubungi mbak Ambar. Itu karena kami terlalu sibuk mencari sekolah baru buat Dinda. Dan untungnya sekarang udah dapat sekolahnya, mbak nggak usah khawatir" ucap bu Atikah menenangkan besannya.
"Bukan itu masalahnya dek Tikah. Bagaimana bisa saya membiarkan Dinda diperlakukan seperti itu. Dia sama sekali tidak bersalah, tapi semua orang memandang dia seperti aaaahhhhh,,,,aku bahkan tidak bisa mengatakannya" mama mengepalkan tangannya frustasi.
"Sudahlah ma, Dinda baik-baik saja kok" ucap Dinda memegang tangan mertuanya.
"Maafin Dimas sama mama ya nak. Kamu jadi begini karena,,,"
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Dinda memotong ucapan mertuanya yang sudah berkaca-kaca.
"Sudah ma, Dinda gak papa. Dinda seneng diperhatiin kaya gini sama mama".
Bu Atikah dan pak Sholeh yang melihat kedua orang itu tersenyum haru. Mereka sangat bersyukur Dinda memiliki mertua yang dengan tulus menyayanginya seperti anak sendiri.
"Ini gak bisa dibiarin. Kamu harus ikut mama pulang ke rumah. Kamu sekolah di sana" tegas mama Ambar
Ketiga orang yang mendengar ucapan mama Ambar pun terkejut mendengar keputusan sepihaknya.
"Maksud bu Ambar?" ucap pak Sholeh yang lebih dulu menyadari maksud besannya.
"Iya pak. Saya akan membawa Dinda pulang" yakin bu Ambar.
"Nggak bisa gitu dong mbak" ucap bu Atikah tak mau kalah.
__ADS_1
"Lohh kenapa dek? Dinda kan istrinya Dimas. untuk saat ini suaminyalah yang berhak atas Dinda. Dan lagi, disana nanti Dinda bisa sekolah dengan tenang tanpa peduli omongan orang-orang yang usil itu".
"Iya tapi kan," Bu Atikah berpikir
"Oh ya, nanti saya juga mau bawa Dinda ke psikiater. Saya tau Dinda belum mau menemui psikiater, tapi di sana nanti saya akan mengusahakan yang terbaik buat Dinda" ucap mama Ambar meyakinkan.
"Tapi mbak, bagaimana bisa Dinda satu rumah dengan Dimas. Bahkan untuk saat ini saja dia masih belum bisa menemuinya" ucap bu Atikah mengutarakan hal yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Saya akan tinggal di apartemen. Selama Dinda belum bisa bertemu dengan saya, saya akan menjaga jarak dengannya" ucap Dimas tiba-tiba. Ternyata ia sejak tadi mendengarkan perbincangan itu di ruang tamu.
Dinda yang kembali mendengar suara Dimas pun bergetar panik. Ia menundukkan kepala dan meremas jari jemarinya. Ketiga orang tuanya pun melihatnya iba. Mama Ambar yang berada di sampingnya kemudian memeluk dan mengusap-usap punggungnya menenangkan.
"Pak Sholeh dan dek Atikah dengar sendiri kan? sekarang tidak ada lagi hal yang perlu di khawatirkan. Ijinkan saya membawa Dinda"
Tak ada alasan lagi bagi pak Sholeh untuk menahan niat bu Ambar. Ia tau pasti anaknya itu sudah bukan lagi tanggung jawabnya. Ada suaminya dan keluarga barunya yang lebih berhak. Dan ia tidak bisa melarang jika suaminya sendiri yang berniat membawa pulang anaknya itu.
Dinda sendiri masih belum bisa memutuskan untuk saat ini. Ucapan mama Ambar pun tak salah, di sana mungkin ia akan lebih tenang bersekolah karena tak ada yang tau latar belakangnya. Dan laki-laki itu bukankah dia berjanji akan menjaga jarak.
"Dinda ngikut bapak aja gimana baiknya" ucap Dinda lirih.
Setelah perundingan yang cukup alot, akhirnya diputuskan kalau Dinda akan tinggal dengan keluarga Sanjaya. Dimas pun bersedia untuk tidak bertemu atau berada di rumah itu sampai Dinda merasa nyaman untuk menemuinya.
Untuk saat ini Dimas dan mama Ambar akan pulang lebih dulu. Sedangkan Dinda akan diantarkan keluarganya esok harinya. Mama Ambar begitu senang kedatangannya kali ini tanpa diduga malah bisa membawa pulang menantunya.
Malam harinya Anisa membantu Adinda mengemasi barang-barang yang akan dibawanya pindah ke rumah mertuanya.
"Kak"
__ADS_1
"Hemmm"
"Gimana kalau kak Nisa ikut Dinda tinggal di rumah mama Ambar"
"Ngaco kamu dek. Yang mantunya kan kamu. Lagian gimana nanti kerjaan kakak? Trus kakak musti LDR an dong sama mas Faris" jawab Anisa menolak ajakan adiknya.
"Helleh,,,bilang aja nggak mau jauhan ma mas Faris" ledek Dinda
"Naaahh tuh tau" mereka berdua pun tertawa.
"Kak, makasih ya untuk semuanya" ucap Dinda tiba-tiba.
"Iyyaah. Di sana kamu jaga diri ya. Yang sopan ma keluarga barumu. Anggap mereka seperti orang tua sendiri. Kurang-kurangin tuh manjanya".
"Iyya kak"
"Kamu harus banyak bersyukur Dek. Setidaknya kamu mendapat keluarga yang baik, sayang lagi sama kamu".
"Iya sih kak, tapi Dinda masih belum sanggup kalau harus ketemu ma dia"
"Gak usah mikir yang belum terjadi. Kakak yakin seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa menghadapinya".
"Makasih ya kak" Dinda memeluk kakaknya.
"Oh iya sampe lupa. Kakak kan belum dapat pelangkah dari kamu ya".
"Iiihhhh,,,kakak inget aja sih" sewot Dinda mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
Mereka pun mengakhiri malam dengan tertawa bersama-sama. Menyiapkan esok hari yang pastinya akan terasa berat karena harus berpisah dengan orang terkasih.