
Siska memperhatikan gadis yang duduk di depannya. Seketika rasa iri menyeruak ke dalam hati tatkala ia melihat cincin yang melingkar di jari manis Dinda. Tiga tahun masa berpacaran dengan Dimas tidak serta merta membuat laki-laki itu berfikir untuk benar-benar memilikinya. Bahkan Siska sendiri sudah pernah secara terang-terangan meminta Dimas menikahinya dan pria itu seolah abai dengan permintaannya. Dimas seolah terbuai dengan dunianya sendiri hingga acap kali mereka bertengkar hanya karena perbedaan pandangan tentang pernikahan. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Andrew, laki-laki yang dengan manisnya menawarkan pernikahan yang memang didambanya. Dan bodohnya dia percaya pada pembual itu.
Rasa sesal kini menjalari relung hatinya tatkala ia melihat sendiri laki-laki yang dulu mencintainya itu kini sudah menikah dengan gadis yang bahkan jauh lebih muda darinya. Andai saja ia bersabar lebih lama, mungkin kini ia lah yang menjadi nyonya Dimas. Istri dari pengusaha muda yang sukses membangun sendiri kerajaan bisnisnya. Dan kini, pupuslah sudah harapannya untuk kembali pada laki-laki itu.
"Mbak Siska ada perlu apa sama Dinda?" Ucap Dinda menyadarkan lamunan Siska.
"Ah, enggak. Kebetulan aja aku tadi ngeliat kamu sendirian di sini. Kamu nungguin Dimas?"
"Iya. Mbak sendiri kenapa bisa di sini? Tinggal di sini juga?"
Siska tersenyum ambigu. "Kamu emangnya nggak tau pasword apart Dimas? kenapa nungguin dia di sini?"
Pertanyaan itu seketika melunturkan kepercayaan diri Dinda. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu? Ia tidak mungkin menjawab bahwa selama ini mereka tinggal terpisah kan. Ia istrinya, apa kata Siska nanti kalau tau keadaan yang sebenarnya.
"Mas Dim udah dalam perjalanan kok mbak. Sekalian aja nanti naiknya" Dinda tersenyum seolah puas dengan jawabannya.
"Hhh,,, jadi ingat ak dulu juga sering ke apartemen ini"
Deg
"Tapi ak nggak mau kalau di suruh nunggu kaya kamu gini. Kamu tau nggak, dulu tuh Dimas bingung banget kalau aku ngambek. Hahahaa,,,," lanjut Siska membuat Dinda menegang menahan cemburu. "Eh, maaf ya Din, malah nostalgia. Hehehe,,,"
"Hmm,,, nggak papa mbak. Emang dulu mas Dim kaya gimana orangnya?" Tanya Dinda menahan gemuruh di dadanya.
"Emm,,, gimana ya. Dimas itu cuek banget anaknya. Tapi dia tuh sayang banget sama aku. Ya seperti itulah kira-kira"
__ADS_1
"Sejauh mana hubungan kalian?" Sinis Dinda. Ia tak lagi bisa menahan rasa yang mendesak ingin segera ia luapkan. Rasa yang mereka sebut 'cemburu'.
"Ya gitu deh. Kamu tentu tau kan pacaran orang dewasa?"
Apa ini? Kenapa sakit sekali mendengar kalimat itu. Ayolah Din, wanita ini cuma mantannya. Kamu yang sekarang memilikinya, kamu istrinya.
"Ya udah Din, kalau gitu aku permisi dulu ya. Salam buat Dimas, kapan-kapan aku main lagi ke apartemennya" Siska beranjak berdiri meninggalkan Dinda. Sejenak dia berbalik demi menatap gadis yang terlihat sedang terluka itu. Samar-samar sebuah senyuman smirk menghiasi bibirnya. Puas dengan perbuatannya, ia pun melangkah keluar meninggalkan Dinda dengan sejuta tanya di kepalanya.
Dinda masih saja terdiam di tempatnya. Berbagai pikiran buruk bersliweran di kepalanya. Mungkinkah ini jawaban kenapa suaminya itu enggan tinggal bersamanya? Apa karena wanita itu? Hingga suaminya itu tak pernah berusaha untuk menyentuhnya. Dinda tau, hubungan suami istri tak hanya sebatas peluk dan cium semata. Dan selama ini, Dimas tak pernah melakukan lebih dari sekedar ciuman bersamanya.
Rasa sesak begitu terasa menyiksa tatkala ia memikirkan bagaimana tatapan penuh cinta dari laki-laki itu. Seperti itu pula kah ia menatap wanita tadi? Atau hanya dia yang ke ge er an karena perlakuan manis Dimas? Mungkinkan hanya sebatas rasa bersalah yang membuat laki-laki itu berada di sampingnya?
Aahhhh,,, sakitnya. Kenapa sesakit ini memikirkannya.
Tak terasa air mata Dinda sudah mengalir begitu derasnya. Ia pun menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan kedua tangan yang terlipat sebagai tumpuannya. Ia menangis, entah kenapa sulit sekali menghentikan air mata sialan itu.
"Kenapa Din? Lama ya nungguin mas?" Tanya Dimas yang belum tau jika istrinya itu baru saja menangis.
Dinda pun masih diam tak menjawab pertanyaan suaminya itu.
"Hey,,, kamu kenapa sih?" Dimas menyentuh lengan Dinda.
Tak mendapat respon, Dimas pun berdiri berpindah ke kursi yang ada di samping Dinda.
"Dinda, ada apa sih? Kamu kenapa?" Dimas membelai lembut punggung Dinda yang masih saja menelungkup.
__ADS_1
Melihat lengan baju Dinda yang basah, laki-laki itu pun menyadari kalau istrinya itu baru saja menangis. Raut wajahnya berubah serius dan menyapukan pandangannya ke seluruh sudut restoran. Sepi, begitu yang ia tangkap. Hanya mejanya dan dua meja lain yang terisi, dan itupun jauh dari tempatnya duduk. Lalu kenapa gadis di depannya itu menangis?
"Sayang, kamu nangis? Kita naik aja yuk" ucapnya lembut sembari mencoba mengangkat tubuh Dinda agar berdiri.
"Nggak usah!" Ketus Dinda masih bertahan dengan posisinya.
"Kamu di tontonin orang loh. Nggak malu?" Dimas mencoba bercanda.
Dan ternyata, berhasil. Dinda mengangkat kepalanya dan meraih beberapa tissue untuk membersihkan wajahnya. Dimas hanya menatap gadis itu penuh tanya, sampai Dinda selesai dengan semua aktifitasnya.
Sebengkak itu matanya, sedari kapan dia menangis?
"Kamu kenapa?" Tanya Dimas lembut. Ia pun menggenggam jemari Dinda.
"Mas jawab pertanyaan Dinda" suara Dinda tegas. Ia pun menarik tangannya dari genggaman Dimas yang tentu saja mengejutkan laki-laki itu.
"Iya, apa?"
"Jujur"
"Iya, apa dulu pertanyaannya?" Dimas tak sabar.
"Apa mas pernah tidur sama Siska?"
"Hah?"
__ADS_1
"Ayo jawab. Pernah?"
Dimas terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa pertanyaan itu. Jujur kah? Atau bohongkah? Ia sendiri belum tau apa yang difikirkan Dinda.