
"Diaaammmmm!!!"
Hening, tak ada satupun dari keempat laki-laki di ruangan itu yang bersuara. Hanya helaan nafas Dimas yang terdengar kasar karena luapan emosinya.
"Jika kalian sudah selesai, kalian bisa keluar" ucap Dimas dingin. "Satu lagi, jangan sekali-kali kalian membicarakan hal buruk tentang istriku!".
"Hhhhh,,," Tersadar dari keterkejutannya, Indra berdiri dan membenahi jasnya. Ia baru menyadari telah membuat tersinggung laki-laki di depannya itu. "Maaf, kami permisi" ucapnya langsung berjalan menuju pintu keluar diikuti Gunawan yang masih terkaget dengan situasi yang dihadapinya.
"Cihhh,,,nggak ada sopan-sopannya tuh orang berdua" sinis Niko mengkritik dua rekannya yang keluar tanpa berpamitan terlebih dulu.
"Kamu juga keluar deh, pusing aku" sentak Dimas sembari menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa. Dengan kasar ia mengendurkan dasi yang melingkar rapi di lehernya.
"Udahlah Dim, nggak usah terlalu dipikirin omongan mereka. Anggep aja anjing menggonggong" hibur Niko.
"Panas nih kuping Nik. Baru gitu aja udah emosi banget aku. Gimana Dinda nggak nangis coba" Dimas memejamkan matanya mengingat kembali istrinya yang beberapa kali kedapatan menangis karena baper dengan omongan orang.
"Iya sih. Tapi aku yakin, Dinda cukup kuat menghadapi semuanya. Dia kan istrimu".
"Maksudmu apa?" tanya Dimas masih memejamkan matanya.
"Iya lah, secara untuk jadi istrimu aja dia udah ngelewatin hal yang jauh lebih berat dibanding apa yang kalian alami sekarang".
"Setttan lo!!!" umpat Dimas menegakkan tubuhnya dan melempar bantal sofa ke arah Niko. Sedang si tersangka hanya tertawa saja menanggapinya. "Ngingetin dosa aja" gumamnya yang masih terdengar di telinga Niko.
Di dalam toilet, Dinda membasuh mukanya untuk menghilangkan rasa panas di kepalanya. Kesal, emosi, sedih, entahlah, ia tak tau lagi apa yang ia rasa sekarang. Bukan sekali dua kali ia mendapat sangkaan orang bahwa dialah yang bermasalah dengan masalah kesuburan. Mungkin itulah mindset orang-orang di luaran sana. Bahwa kaum wanita lah yang harusnya bertanggung jawab bila sebuah rumah tangga kesulitan mendapatkan keturunan. Mungkin mereka lupa, untuk mendapatkan padi yang bagus tidak hanya dibutuhkan sawah yang subur saja. Namun juga bibit yang berkualitas tentunya.
Dan Dinda begitu kesal dengan pemikiran kolot sebagian orang itu yang terlalu memojokkan pihak perempuan. Tidakkah mereka berpikir untuk mendoakan saja daripada menerka-nerka siapa yang patut dipersalahkan?
Ia kesal bukan hanya pada rekan Dimas yang tadi membicarakannya. Namun saat ini, ia juga kesal dengan sikap suaminya yang diam saja saat dirinya digunjing dengan hal yang kurang sopan menurutnya. Bahkan kedua rekannya itu tak segan menawarkan solusi yang 'gila' menurut Dinda. Bagaimana tidak, mereka terang-terangan menyuruh Dimas untuk mencari wanita lain agar bisa mendapatkan keturunan. Gila kan itu namanya? Dan lebih gilanya, si suami tuanya itu diam saja tak bereaksi dengan ucapan yang kurang ajar itu.
Tidak bisakah suaminya itu membelanya walau sekedar menyuruh mereka diam misalnya. Atau lebih bagus lagi suaminya itu menggebrak meja di depannya, dan meraup kedua mulut kotor itu. Kan pasti dia akan merasa tersanjung dibela seperti itu oleh Dimas. Tapi kembali lagi semua itu tidak dilakukan oleh Dimas suaminya.
"Hhhuuftt,,,menyebalkan" umpat Dinda di depan kaca toilet. Ia menghapus kasar air mata yang turun begitu saja membasahi pipinya.
Setelah cukup tenang, nampak Dinda kini sedang membenahi kerudung yang sedikit basah di ujungnya. Setelah rapi, ia membuka waistbagnya dan mengambil hp dari sana. Seperti sudah terbiasa saat membutuhkan teman, dengan otomatis jemarinya menekan nama Maya di antara deretan kontaknya. Beberapa kali tersambung tanpa ada jawaban, ia pun mengurungkan niatnya karena pasti sahabatnya itu sibuk mengurus kedua anaknya yang berusia enam dan tiga tahun.
__ADS_1
Bersandar di meja wastafel, Dinda pun kembali berfikir untuk menghilangkan kesalnya. Hingga seseorang masuk dan mengagetkannya.
"Mbak Dinda,"
Dinda menoleh "Eh, hai Nid" di depan pintu toilet ada Nida yang berjalan masuk ke arahnya.
"Kirain di ruangan pak Dimas mbak".
"Oh, dia masih ada tamu. Tadinya aku mau balik ke ruangan kamu, eh kamunya malah ke sini".
"Hehehe,,, iya mbak. Aku mau makan siang nih. Sekalian beliin pesanan mbak Dinda"
"Aku ikut aja gimana? Mas Dim juga kayaknya lama deh".
"Oke mbak, mbak Dinda tunggu aja di luar. aku mau absen dulu" ucapnya sembari menunjuk ke arah bilik toilet.
"Hmm,,, aku tunggu di lobby ya. Sekalian mau nitipin ini dulu buat mas Dim" Dinda meraih paper bag bawaannya hendak berjalan menuju pintu keluar.
"Oke mbak,,,"
Sedangkan Nida, gadis itu sudah nampak gelisah sedari tadi. Beberapa kali ia terlihat melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam istirahatnya sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu, namun sang nyonya bos masih belum beranjak dari tempat duduknya. Ia sendiri heran dengan istri bosnya itu. Sudah sering ia makan bersama Dinda, tapi baru kali ini ia sungguh dibuat melongo dengan tingkah wanita di depannya itu. Dua porsi ayam penyet, satu ikan bakar ukuran besar, dan satu porsi gulai kepala ikan tandas oleh wanita bertubuh ramping itu. Belum lagi nasi, satu porsi es campur dan dua gelas jus jambu yang tinggal setengah gelas saja. Waaaooowww,,, sungguh ajaib bisa muat di perut yang terlihat rata itu.
"Ehemmn,,," Nida bermaksud menginterupsi keasyikan Dinda. "Mbak,,," panggilnya.
"Hmmm,,," Dinda mengalihkan sebentar pandangannya ke arah Nida, sebelum kembali lagi fokus dengan kepala ikannya.
"Mbak Dinda masih lama nggak?" Tanya Nida yang kelihatan sekali basa-basinya.
"Kenapa? Kamu mau pesen lagi?"
"Eh, enggak mbak" ucapnya sembari mengisyaratkan dengan menggoyangkan telapak tangannya.
"Nggak papa, pesen aja lagi" Dinda masih tak peka dengan niat gadis itu. Bahkan dengan asyiknya ia menyesap-nyesap tulang dari kepala ikan yang dipegangnya. Uuhhhh,,, sungguh tidak elegan sekali sebagai ibu bos.
"Nggak mbak, makasih. Tapi itu,,, emm,,, jam istirahat saya udah habis dari tadi" ucap Nida terbata. Tak enak rasanya mengganggu keasyikan nyonya bosnya itu.
__ADS_1
"Ohhh,,, kamu mau balik ke kantor?"
"Iya mbak"
"Ya udah balik sendiri nggak papa kan?"
"Loh,,, mbak Dinda gimana?"
"Udah nggak papa. Atau kamu bolos aja nemenin aku?" Bujuk Dinda. Ia memang butuh teman saat ini. Yah, walaupun ia tak bisa menceritakan apa masalahnya pada bawahan suaminya itu, tapi setidaknya ada orang yang menemaninya ngobrol.
"Aduh, gimana ya mbak?"
"Ya udah nggak papa kalau nggak bisa. Kamu balik duluan aja, aku masih mau ngabisin ini" tunjuknya pada piring di depannya.
"Maaf ya mbak, bukannya saya nggak mau nemenin mbak Dinda. Tapi di kantor lagi banyak kerjaan, repot sama yang lain mbak". ucap Nida mengutarakan alasannya.
"Iya nggak papa. Aku ngerti kok"
"Maaf ya mbak, nanti biar saya suruh sopir jemput mbak Dinda" tawar Nida, karena makan siang yang tak terencana ini membuat mereka harus pergi tanpa supir yang biasanya mengantar Dinda tadi.
"Emh,,, gak usah" tolak Dinda terburu-buru di tengah keasyikannya menyeruput jusnya. "Aku nanti naik taksi aja. Nggak usah bilang pak Samsul ya".
"Beneran mbak nggak papa? Nanti kalau pak Dimas marah gimana?" Nida tau bosnya itu tak pernah mengijinkan istrinya pergi sendiri tanpa supir.
"Nggak akan kalau kamu nggak bilang" Dinda tersenyum meyakinkan. "Udah gih balik, oh iya nanti suruh pak Samsul langsung pulang aja ya. Kasihan kalau mesti nunggu di kantor".
"Iya mbak. Terima kasih makan siangnya, maaf saya tinggal dulu ya". Nida sudah akan meninggalkan tempat duduknya. Walaupun merasa tak enak, tapi mau gimana lagi. Ia harus kembali jika masih ingin kerja.
"Iya, hati-hati di jalan".
Sepeninggal Nida, seketika Dinda menghentikan kegiatannya. Kepala ikan yang masih separuh utuh itu ia sorongkan menjauh darinya. Ia kembali kesal teringat kembali kejadian beberapa waktu lalu. Beranjak dari tempat duduknya, Dinda berjalan menuju wastafel yang tak jauh dari mejanya untuk mencuci tangan. Setidaknya ia berpikir perutnya sudah cukup kenyang untuk mengatasi kekesalannya. Dan lagi tenaganya melimpah untuk sekedar melepas penat di waktu bebasnya ini.
Yah, bebas dari suami yang ia anggap menyebalkan untuk saat ini. Ia berniat akan menghabiskan waktu sendiri hari ini. Benar-benar sendiri.
Menatap pantulan wajahnya di cermin yang terpasang di atas wastafel, dengan pasti ia membulatkan tekadnya dan menyemangati dirinya sendiri.
Sendiri juga berani. Sorry mas, mungkin kamu akan kesal, tapi saat ini aku lebih kesal. Hayuk Din, semangat senang-senang...
__ADS_1