
"Bapak nggak tau harus ngomong apa sama kamu. Bapak juga tidak bisa berharap banyak dari pernikahan ini. Bagaimanapun kalian sudah sah sebagai suami istri. Jadi tidak ada salahnya kan kalau bapak minta kamu menjaganya. Bapak harap kamu mengerti maksud bapak". Ucap laki-laki itu tulus.
Dimas yang sedari tadi menyimak ucapan pak Sholeh pun tak berkata apa-apa. Ia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Setelah mengutarakan maksudnya pak Sholeh segera beranjak dari tempat duduknya.
"Pak" panggil Dimas saat pak Sholeh hendak melangkahkan kakinya. "Dimas minta maaf"
Pak Sholeh yang mendengar permintaan maaf dari Dimas terdiam untuk sesaat dan kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Dimas yang masih tertunduk pasrah.
Berat sekali rasanya menyerahkan anak gadisnya kepada pria yang jelas-jelas sudah merenggut masa depan anaknya. Dan saat ini mau tidak mau Dimas sudah menjadi menantunya. Suami dari anaknya. Bagaimanapun seorang suami berkewajiban menjaga istrinya. Dan itulah yang sedang dituntut seorang mertua kepada menantunya.
Dimas sendiri sangat menyadari posisinya saat ini. Ia yang bersalah, ia juga yang harus mengalah. Sungguh kejadian itu benar-benar menjungkir balikkan kehidupannya. Rasa bersalah yang mendalam menggiringnya menjadi sosok yang lebih dewasa. Tujuan hidupnya saat ini hanyalah mengembalikan kehidupan seorang gadis yang telah direnggutnya. Gadis yang saat ini berstatus sebagai istrinya.
Malam harinya.
Adinda sedang menata pakaiannya ke dalam lemari yang berada di kamarnya. Keluarganya sudah pulang sejak sore tadi. Sekarang ia benar-benar harus menjalani hidupnya dengan keluarga barunya sendiri.
Tok tok tok
Mendengar suara pintu diketuk, ia pun menghentikan aktifitasnya. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Mama?" ucapnya melihat mertuanya berdiri di depan pintu. "Masuk ma".
"Lagi ngapain Din?" tanya mama dan berjalan masuk ke kamar Dinda.
"Itu lagi beresin pakaian Dinda ma".
__ADS_1
"Kamu beresin sendiri? kan bisa minta tolong sama mbak Sari".
"Nggak usah ma, tinggal dikit aja kok" ucap Dinda sungkan.
"Kamu jangan sungkan disini ya. Mama papa juga kan orang tua kamu" mama Ambar meraih tangan Dinda dan mengajaknya duduk di sofa.
"Iya ma"
"Oh iya, besok kita ke psikiater ya nak. Mama udah buat janji sama dokter Dita"
Dinda yang mendengar ucapan mertuanya itu nampak terkejut. "Tapi ma Dinda belum siap".
Memang selama ini Dinda selalu menghindar jika diajak untuk menemui psikiater. Bukan tanpa alasan Dinda menolak. Ia berpikir seorang psikiater pasti akan bertanya tentang kejadian yang sangat ingin dilupakannya. Tapi ia juga ingin hidup normal seperti sebelumnya. Menjadi seorang pelajar dan pergi kesekolah tanpa rasa khawatir, sungguh ia sangat merindukan hal itu.
"Din, mama tau kamu hanya tidak mau mengingat kejadian itu kan? tapi nak, jika kamu seperti ini kamu yakin bisa pergi sekolah seperti yang kamu inginkan?" ucap mama Ambar seakan mengetahui isi pikiran Dinda.
"Tapi ma, Dinda benar-benar takut"
Belum juga Dinda menjawab pertanyaan mertuanya tiba-tiba seseorang melongokkan kepalanya dari arah pintu.
"Mama disini rupanya" Talita masuk dan dengan santainya menjatuhkan dirinya di sofa di sebelah mamanya.
"Lita!. Nggak sopan kamu tuh. Main masuk aja" hardik mama Ambar.
"Ih mama apaan sih. Lagian pintunya nggak dikunci. Jadi ya Lita masuk aja. Dinda aja gak papa kok ya Din?" ucap Lita mencari pembelaan.
"Kamu tuh, Dinda itu istrinya kakak kamu. Nggak sopan kamu manggilnya kayak gitu"
__ADS_1
"Iya, kak Adinda" ucap Lita yang membuat Dinda agak canggung.
"Panggil Dinda juga nggak papa kok ma" bela Dinda yang merasa risih dipanggil 'kakak'.
"Nggak bisa gitu Din, nanti jadi kebiasaan"
"Iya mama, baru juga sehari Dinda disini, udah berasa jadi anak tiri aja aku" balas Lita tak mau kalah
"Eeehhh ni anak dibilangin" mama Ambar menjapit hidung Lita yang entah sejak kapan kepalanya itu sudah berada dipangkuan mamanya.
"Maaa,,, Lita gak bisa napas ini" berontak Lita mencoba melepaskan diri.
"Makanya jangan asal ngomong kamu"
"Iya,,,iya,,,maaf" ucap Lita mengelus hidungnya yang memerah.
Dinda yang melihat tingkah Lita pun terlihat menyunggingkan senyumnya. Ia bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik disekelilingnya.
Di tempat lain, Dimas sedang fokus didepan laptopnya. Sesekali tangannya meraih cangkir berisi kopi yang baru saja diseduhnya. Beberapa koper dan tas yang berisi pakainnya masih teronggok di sudut ruangan. Yah, ia tinggal sendiri sekarang.
Baginya bukan hal baru ia harus tinggal di apartemen itu sendiri. Sebelum menikah, beberapa kali ia menginap untuk menghindari amarah papanya yang tentu saja sebagai akibat dari perbuatannya. Yah, waktu itu berbeda dengan saat ini. Saat ini ia harus tinggal di sana sendiri sampai waktu yang ia sendiri tak tau kapan berakhirnya.
Di tengah kesibukannya, tanpa ia sadari seseorang masuk begitu saja ke dalam apartemen.
"Malam Dim"
Suara datar seorang wanita mengagetkan Dimas membuatnya menghentikan aktifitasnya. Iapun menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang wanita dengan kantong belanjaan di tangannya.
__ADS_1
"Ehh, mbak Raya ngapain sih?! ngagetin aja!" kesal Dimas.
Wanita itupun berlalu begitu saja dari hadapan Dimas menuju arah Dapur. Dengan cekatan ia segera menata belanjaannya yang berupa kopi dan beberapa camilan kedalam kitchen set. Sedangkan sabun dan keperluan mandi lainnya ia bawa ke kamar mandi yang berada di dalam kamar Dimas.