
Di kediaman keluarga Sanjaya
Pagi itu pak Lukman sekeluarga bersiap untuk mengantar Dimas melakukan akad nikah. Karena acara yang berada di luar kota, mereka berencana berangkat pagi-pagi dan tinggal di hotel untuk persiapan sebelum acara dimulai. Tak ada persiapan istimewa di rumah itu, semua nampak biasa saja. Bahkan tidak ada satupun anggota keluarga dari pihak pak Lukman maupun bu Ambar yang nampak akan ikut ke tempat acara.
Pak Lukman sengaja tidak memberitahu keluarga besar. Disamping karena acara yang sangat mendadak, kondisi Dinda yang belum stabil pun menjadi pertimbangannya. Ia tak mau anak dan menantunya jadi bahan gunjingan diantara keluarga besarnya. Cukup keluarganya saja untuk saat ini. Nanti setelah kondisi Dinda membaik, ia akan menggelar resepsi untuk memperkenalkan menantunya itu pada keluarga dan koleganya pikirnya.
Talita dan bu Ambar sedang mempersiapkan pakaian yang akan mereka bawa. Mereka berencana memakai kebaya yang senada dengan batik yang akan dipakai pak Lukman. Sedangkan untuk Dimas, sudah dipersiapkan jas dan kemeja untuk acara akad nikah nanti.
Disela kesibukannya menata pakaian ke dalam koper, Talita yang masih penasaran dengan pernikahan kakaknya bertanya kepada mamanya itu.
"Ma, kalau Adinda itu kelas 3 SMA, berarti lebih muda dari Lita dong?"
"Emangnya kenapa? tetep saja dia akan jadi kakak iparmu" jawab mama acuh.
"Aku jadi kasihan sama dia. Gimana nanti sekolahnya?"
"Sudahlah, nggak usah mikirin yang bukan urusan kamu. Lebih baik kamu doa saja biar nanti acaranya lancar''
"Bisa-bisanya sih kakak ngelakuin hal bejat kayak gitu" Talita geram.
"Husshhh,,,jangan ngomong kayak gitu. Yang penting sekarang kakakmu kan mau bertanggung jawab, dan semoga akan jadi lebih baik nantinya".
__ADS_1
Talita memang mengetahui kakaknya jadi tersangka kasus pemerkosaan. Dan sejak saat itu, belum sekalipun ia menemui atau berbicara dengan Dimas. Rasa empati sebagai sesama wanita membuat ia sangat membenci perbuatan kakaknya itu. Ia marah dan kecewa, tapi bagaimanapun Dimas adalah kakak kandungnya yang tak bisa ia benci begitu saja.
Semua barang-barang yang akan dibawa sudah siap. Pak Lukman berjalan menuju kamar Dimas untuk memberitahu kalau mereka akan segera berangkat.
"Dim" pak Lukman muncul dari pintu yang tak terkunci.
"Iya pa'' Dimas yang masih termenung di tepi ranjangnya menoleh.
Pak Lukman berjalan masuk ke dalam kamar dan duduk tepat disamping Dimas. Dia melingkarkan tangannya dan menepuk punggung anaknya pelan.
''Dim''
Dimas menatap wajah orang tua disampingnya.
Dimas hanya terdiam meresapi setiap kalimat yang diucapkan oleh papanya.
"Ambil hikmah dari kejadian ini. Bagaimanapun juga pernikahan ini sah dimata agama dan negara nantinya. Jadikan ini pernikahan pertama dan terakhirmu. Setidaknya papa lega kamu menikah dengannya. Papa yakin dia gadis yang baik" ucap pak Lukman mengakhiri wejangannya.
Pak Lukman beranjak berdiri dan mengajak Dimas untuk turun. Dan setelah semua siap merekapun berangkat ke Bandara dengan menggunakan 2 mobil. Dimas memilih untuk menyetir sendiri mobilnya, sedangkan pak Lukman dan yang lainnya diantar oleh sopir keluarga.
Jarum jam menunjuk diangka 2. Adinda terlihat sedang berbaring membelakangi Anisa yang sedang menemaninya. Sayup-sayup Anisa mendengar isakan dari adiknya itu.
__ADS_1
''Dek, udah ah jangan nangis'' ucap Anisa membalik tubuh Adinda menghadapnya.
''Ssssttt,,,udah'' memeluk Adinda yang semakin terisak. Dan tanpa disadari air matanya ikut menetes membasahi pipinya.
''Kak Nisa,'' panggil Dinda setelah menghentikan tangisnya.
''Hmmmm?''
''Maafin Dinda''
''Kenapa?''
''Harusnya kak Nisa yang nikah duluan''
''Ah itu,,,kakak nggak papa. Kan nanti kakak dapat mahar pelangkah dari kamu'' jawab Anisa menggoda dan menghibur adiknya. ''Kamu siap-siap aja ya, kak Nisa bakalan minta yang banyak dari kamu''
Dinda yang mendengarnya hanya sedikit menarik ujung bibirnya.
''Kak Nisa dipanggil ibu'' ucap Alfian yang tiba-tiba muncul dari arah pintu.
Anisa beranjak menemui ibunya setelah meminta Alfian menjaga Adinda lebih dulu. Meninggalkan Alfian yang duduk canggung di kursi rias milik Dinda.
__ADS_1
Sampai saat ini Alfian memang belum mengetahui kejadian yang menimpa kakaknya. Ia sendiri heran dengan perubahan sikap semua orang di rumahnya. Mulai dari orang tuanya dan juga Anisa yang terlihat khawatir pada Dinda. Dan juga sikap Adinda yang hanya berdiam di kamar setelah kepulangannya dari piknik, ditambah lagi pernikahannya yang sangat tiba-tiba membuat Alfian semakin bertanya-tanya. Rasa penasarannya tak serta merta membuatnya mencari tahu dengan bertanya kepada orang tuanya. Dengan hanya melihat raut kesedihan di wajah orang tua dan kakaknya, ia cukup tau diri untuk menyimpan saja rasa penasaran itu.
Dari arah ruang tamu terdengar dengan jelas suara seseorang yang melafadzkan ijab qobul dengan sangat lancar. Sampai pada akhirnya terdengar suara ''sahhh'' yang diucapkan serempak diiringi tepuk tangan meriah.