Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Kamar Hotel


__ADS_3

Di sebuah kamar hotel, dengan masih mengenakan bathrobe Dinda duduk bersila di atas ranjang sembari membersihkan sisa-sisa make upnya. Selesai acara resepsi tadi dengan alasan ingin suasana baru, Dimas tiba-tiba mengajaknya menuju salah satu kamar di hotel tersebut. Dan sekarang, laki-laki yang hampir dua tahun berstatus sebagai suaminya itu sedang membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.


"Mas, kita ke rumah ibu aja yuk. Aku nggak suka di sini" ucap Dinda saat melihat suaminya keluar dari kamar mandi.


Dimas yang sedang mengikat tali bathrobenya itu pun hanya tersenyum menanggapi rengekan istrinya.


"Ngapain juga sih mesti nginep di sini? Kita pulang ke rumah ibu juga deket kok. Mana nggak bawa baju ganti juga. Emang mas mau apa semalaman pake handuk kaya gini?" Rajuk Dinda.


Dimas mendekat ke arah Dinda dan duduk di tepi ranjang sembari menatap ke arah istrinya. Sedangkan Dinda, gadis itu masih saja sibuk dengan cermin kecil di tangannya.


Merasa tak mendapat tanggapan dari Dimas, Dinda pun menghentikan aktifitasnya dan menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.


"Kenapa?" Heran Dinda melihat Dimas hanya terdiam menatapnya.


Masih diam.


"Masss!!!"


"Hmmm?"


"Mas kenapa sih? Ayok ah pulang aja. Dinda nggak suka di sini".


"Kenapa?"


"Nggak suka aja" lirih Dinda sembari menundukkan pandangannya.


Dimas mengubah posisi duduknya. Laki-laki itu kini duduk di belakang Dinda dan melingkarkan tangannya di perut rata istrinya itu. Meletakkan dagunya di atas pundak gadis itu dan membaui aroma sabun yang menyeruak menggelitik indra penciumannya.


"Kenapa nggak suka?" Tanya Dimas masih membenamkan wajahnya pada leher istrinya. "Kamarnya bagus kok".


Dimas mengangkat wajahnya dengan masih bersandar di atas bahu Dinda. "Maaf"


"Kenapa?" Tanya Dinda tak mengerti.


"Maaf sudah membuat kenangan buruk kamu dengan kamar hotel. Mas tau, kamu nggak suka nginep di sini karena mas".


Dinda mencoba membalikkan tubuhnya untuk melihat wajah Dimas. Namun laki-laki itu menahannya. "Mas, bukan maksud aku,,,"

__ADS_1


Belum juga Dinda menyelesaikan kalimatnya, Dimas sudah memotongnya dengan kembali meminta maaf.


"Maaf sayang. Mas janji akan membayar kesalahan mas dulu dengan bahagiain kamu. Maafin mas yang udah jahat,,,".


"Masss!!!" Dinda menyentakkan tubuhnya dan berbalik menatap Dimas. "Udah berapa kali sih Dinda bilang kalau Dinda tuh nggak suka mas ngomong kaya gitu. Aku nggak suka mas!" ucapnya menekankan kata 'nggak suka'.


"Mas tau kan artinya nggak suka? Dinda jadi mikir, selama ini tuh mas Dim beneran cinta ama aku nggak sih? Atau hanya sekedar menebus rasa bersalah mas itu? Kalau bener kaya gitu, Dinda kecewa mas. Dinda udah bener-bener sayang sama mas? Dan mas Dim sendiri cuma sebatas membayar rasa bersalah mas sama Dinda? Hhhhhh,,, " ucap Dinda frustasi.


Gadis itu kemudian beranjak turun dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari.


"Dari dulu bahas itu mulu". Gerutu Dinda.


"Nyadar nggak sih mas kalau secara nggak langsung mas Dim udah buat Dinda kembali mengingat peristiwa itu. Dinda tuh nggak suka. Kalau mas mau bernostalgia dengan peristiwa itu, inget sendiri. Jangan ajak-ajak Dinda. Kesel tau nggak sih sama sikap mas Dim yang kaya gini" ucapnya menggebu-gebu.


Dinda membuka lemari dan meraih gamis yang dipakainya tadi untuk dipakai kembali. Namun pergerakannya terhenti karena Dimas yang sudah kembali memeluknya dari belakang.


"Lepasin! Aku mau pulang!" Ucapnya berusaha melepas pelukan Dimas.


"Sayang, maafin mas. Mas sayang sama kamu. Cinta sama kamu. Namun mas nggak bisa pungkiri kalau rasa bersalah mas sama kamu terlalu besar. Terlebih ngeliat kamu tadi yang belain mas di depan teman-teman kamu. Mas benar-benar nggak percaya diri dihadapan kamu. Mas takut,,," ucap Dimas dengan suara bergetar.


"Mas,,," Dinda membalikkan tubuhnya menghadap Dimas. Ditatapnya wajah laki-laki yang dulu sempat dibencinya itu. "Mas Dim nangis?"


Ia bahagia mendengar istri kecilnya itu membelanya di depan teman-temannya. Bahkan dengan bangga istrinya itu mengatakan jika dia adalah orang baik. Namun di sisi lain, ia juga merasa sakit saat melihat istrinya harus dipojokkan karena kesalahannya.


"Mas,,," panggil Dinda lagi. "Udah ah, Dinda pegel ini loh" rengeknya masih dalam pelukan Dimas. Dimas yang lebih tinggi membuat Dinda harus mendongakkan kepalanya agar bisa tetap bernafas di pelukan suaminya itu.


Perlahan Dimas pun melonggarkan pelukannya. Dengan mata yang masih basah, ia menatap istri yang masih berada di pelukannya itu. Saat Dinda hendak mendongakkan kepalanya, Dimas kembali membenamkan kepala istrinya itu ke dalam dadanya.


"Maaf, mas nggak akan bahas hal itu lagi. Hari ini mas ngajak kamu nginep di sini bukan untuk mengingatkan kamu dengan hal itu. Tapi, mas ingin membuat kenangan baru sama kamu". Dimas mengecup puncak kepala Dinda. "Menghapus kenangan lama dan membuat kenangan baru yang lebih indah tentunya".


Dinda mendongakkan kepalanya. "Maksudnya?"


"Kita honeymoon di sini" bisik Dimas.


"Ishhhh,,, nggak banget deh" Dinda memukul pelan punggung Dimas. "Aku nggak terima ya kalau mas ngajakin honeymoon di sini. Aku tuh maunya jalan-jalan mas. Nggak peka banget sih" gerutunya.


Dimas yang mendengar gerutuan istrinya pun seketika tertawa. "Hahaha,,, iya sayang. Kapan-kapan kita honeymoon beneran. Mas selesein dulu kerjaan mas, terus kita honeymoon sepuasnya. Kamu mau ke mana hmm?"

__ADS_1


"Ntar dipikirin. Yang penting kan mas udah janji" Dinda mengeratkan pelukannya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan diikuti Dimas yang juga masih memeluknya.


"I love you sayang" Ucap Dimas mengecup kening Dinda. Disambut senyuman oleh gadis itu.


Sementara itu, masih di hotel yang sama namun kamar yang berbeda. Sepasang pengantin baru yang baru saja selesai membersihkan diri sedang bersiap untuk makan malam di dalam kamar tersebut. Berbagai jenis makanan sudah tersaji di atas troli yang beberapa saat lalu di antar oleh pelayan hotel. Maya yang baru selesai berganti pakaian pun berjalan mendekati suaminya yang sudah lebih dulu duduk di sofa sembari mengutak-atik hpnya.


"Kok nggak dimakan mas?" Tanya Maya melihat makanan di depan Niko masih utuh.


"Nungguin kamu lah" jawab Niko meletakkan hpnya.


"Ayok, aku dah laper banget".


"Yuk".


Maya pun memulai peran barunya sebagai istri dengan menyiapkan makanan untuk suaminya. Setelah selesai menata nasi dan lauk di piring Niko, Maya kembali mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Makan yang banyak biar,,," ucap Niko tersenyum sembari menggerak-gerakkan alisnya naik turun.


"Nggak disuruhpun makanku emang banyak kan?"


"Sekarang kan beda May. Inikan,,,"


Belum juga Niko menyelesaikan kalimatnya, Maya sudah lebih dulu memotongnya. "Eh mas nanti kita ke supermarket depan bentar ya".


"Mau beli apa?"


"Pembalut"


"Whattttt???" Pekik Niko sembari menatap tajam ke arah Maya.


"Ishhh,,, apaan sih ma teriak-teriak kaya gitu?"


"Kamu nggak bercanda kan May?"


"Ya nggak lah. Ngapain juga becanda soal gituan" ucap Maya masih asyik menyantap makanannya.


"Yaahhh,,, May. Trus mas ngapain malam ini?" Niko mengusak rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Tidur. Emang mo ngapain lagi".


"Maya!!! Aakkhhh,,," Niko membanting tubuhnya hingga menelungkup di atas sofa. Sedangkan Maya, gadis itu menahan tawanya melihat tingkah konyol suami barunya itu.


__ADS_2