Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Di Rumah Mertua


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sebuah mobil memasuki halaman rumah keluarga Sanjaya. Halaman yang cukup luas dengan sebuah taman dan kolam tepat berada di depan teras. Rumah mewah bergaya minimalis itu semakin terlihat Asri dengan adanya pohon mangga yang berada di sisi kiri halaman.


Mobil terus melaju menuju teras samping rumah dimana di ujungnya terdapat sebuah garasi yang memamerkan sejumlah mobil mewah. Cukuplah untuk menggambarkan bahwa sang pemilik bukanlah orang biasa. Di teras itu sudah ada Bu Ambar dan Talita yang Menanti kedatangan keluarga Adinda.


Mobil pun berhenti tepat di depan bu Ambar. Pak sopir dan seorang ART membantu membukakan pintu. Terlihat pak Sholeh dan bu Atikah turun terlebih dahulu dan kemudian diikuti ketiga anaknya. Mama Ambar membimbing mereka semua memasuki ruang keluarga rumah tersebut. Pandangan takjub terus terpancar dari wajah-wajah yang baru saja menginjakkan kaki di rumah itu.


"Bik tolong bawaan Dinda ditaruh ke kamarnya yah" ucap mama Ambar kepada ART yang membawa koper dan juga tas Dinda.


"Baik nyah"


Mama Ambar pun mengajak tamunya untuk duduk di sofa yang berada di ruangan itu.


"Maaf ya pak Sholeh, suami saya masih ada kerjaan di rumah sakit. Nanti sebentar lagi juga pulang"


"Iya bu tidak apa-apa. Pak dokter pasti sibuk" jawab pak Sholeh.


"Gimana tadi perjalanannya?" ucap bu Ambar basa-basi.


"Berkat mbak Ambar semuanya lancar" jawab bu Atikah tersenyum.


"Ini nanti nginep kan?" tanya bu Ambar lagi.


"Maaf mbak, kami nanti pulang. Anisa kan besok kerja, Alfian juga sekolah"


"Anisa sama Alfian ijin aja. Nemenin Dinda dulu lah barang sehari nginep disini"


"Maaf tante, tapi Anisa udah banyak ijinnya. repot kalau mesti nambah lagi" Anisa menjawab dengan senyum canggung.

__ADS_1


"Yaaahh,,,tante kecewa dong Nis" balas mama Ambar dengan ekspresi lucu.


Sesaat kemudian dua orang ART keluar membawa nampan berisi minuman dan juga cemilan.


Setelah cukup berbasa-basi mama Ambar pun mengajak tamunya menuju kamar yang akan ditempati Dinda. Kamar yang luas dengan cat abu-abu putih yang mendominasi membuat keluarga pak Sholeh memandang takjub. Ia sama sekali tak menyangka bahwa besannya itu orang yang benar-benar kaya. Cukup di pikirannya bahwa putrinya itu menjadi menantu di keluarga terpandang. Karena setau dia pak Lukman adalah seorang dokter. Dan mama Ambar pun tak pernah sekalipun menceritakan tentang bisnis keluarganya.


Mama Ambar meninggalkan mereka untuk beristirahat sejenak di kamar Dinda.


"Kak Dinda beruntung banget, tinggal di rumah sebesar ini. Mana kamarnya luas banget lagi. Hampir separo luas rumah kita ini kak" cerocos Alfian mengamati kamar Dinda.


"Ya udah kamu tinggal disini aja nemenin kakak" sahut Dinda.


"Emang boleh kak?" tanya Alfian antusias.


"Yeeeehh,,,enak aja. Ntar yang bantuin bapak di toko siapa?" sambar Nisa.


"Ibu bener-bener bersyukur Din. Mertua kamu selain kaya juga baik. Nanti kamu pasti betah di sini" ucap bu Atikah mulai berkaca-kaca.


"Biarpun mertuamu kaya, kamu harus tetep tau diri ya Din, ingat jangan sombong dan hormati semua yang ada di rumah ini. Jaga nama baik keluarga kita ya nak" ucap bu Atikah menasehati.


"Iya buk"


Ketiga kakak beradik itupun memilih menghabiskan waktu dengan bercanda dan menonton tv yang ada di kamar itu. Sedangkan bu Atikah dan pak Sholeh memilih keluar kamar untuk menemui besannya.


Jam makan siang pun tiba. Pak Lukman yang baru datang pun langsung menuju ruang makan setelah membersihkan dirinya. Acara makan siang berlangsung sangat hangat. Keluarga Sanjaya benar-benar tau cara memperlakukan tamunya.


Seseorang berjalan mendekat ke arah meja makan.


"Selamat siang semuanya" sapanya kemudian mendekat dan mencium tangan pak Lukman dan mama Ambar.

__ADS_1


"Udah makan Dim?" tanya bu Ambar pada putranya yang baru saja datang.


"Ntar aja ma"


"Tuh ada mertua kamu kok diem aja" ucap mama Ambar mengingatkan Dimas.


Dimas yang mengetahui maksud mamanya pun mendekat ke arah pak Sholeh dan bu Atikah. Ia pun mencium tangan kedua orang itu canggung.


Triinggg


Semua mata tertuju pada Dinda yang baru saja menjatuhkan sendok yang dipegangnya. Ia berusaha menyembunyikan tangannya yang bergetar hebat dengan menggenggamnya membawanya ke pangkuannya. Sedangkan wajahnya, aaahhh,,,apa masih ada darah yang mengalir di wajah sepucat itu.


Itu adalah kali pertama ia berada sedekat itu dengan Dimas sejak berstatus sebagai istrinya. Ia pun tak menginginkan hal seperti itu. Tapi bagaimana lagi, tubuhnya selalu bereaksi berlebihan saat melihat atau bahkan mendengar suara laki-laki itu.


"Maaf, aku cuma mau ambil pakaianku. Aku akan tinggal di apartemen. Kamu tenang saja" ucap Dimas kemudian berlalu dari ruangan itu.


Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya Dimas berjalan menuju mobilnya. Di sana sudah ada bi Marni dan pak Yanto yang sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil.


"Nak Dimas" suara pak Sholeh memanggilnya saat ia baru saja keluar dari pintu.


"Iya pak"


"Bapak mau ngomong sebentar sama kamu" pak Sholeh mengarahkan Dimas untuk duduk di kursi teras.


"Titip Dinda ya Dim"


Deg


Jantung Dimas seakan bergemuruh mendengar ucapan orang tua itu.

__ADS_1


Dia menitipkan anak gadisnya kepadaku? Orang yang telah merusak masa depan anak gadisnya. Benarkah yang aku dengar ini? Bahkan anaknya sendiri ketakutan melihatku. Bagaimana bisa ia menitipkannya padaku?


__ADS_2