
"Maksud kamu apa nak?" tanya bu Atikah menyelidik.
Belum juga menjawab pertanyaan ibunya, muncul pak Sholeh dan Anisa dari arah pintu. Adinda yang melihat ayahnya masuk merebahkan tubuhnya dalam posisi miring membelakangi ayah dan ibunya. Pak Sholeh memaklumi kelakuan putrinya itu karena ia sadar Dinda belum sepenuhnya mengatasi traumanya.
Dinda sendiri bukannya membenci pak Sholeh. Tapi ada semacam perasaan takut yang ia sendiri tak bisa menjabarkannya. Terlebih setiap melihat laki-laki dewasa disekitarnya, ia seperti mendapat kilatan gambaran kejadian yang menyakitkan itu.
Sampai saat ini Dinda memang bisa menerima kehadiran ayahnya disekitarnya. Tapi tidak untuk kontak fisik, bahkan berbicarapun Dinda hanya menjawab singkat tanpa membalas tatapan mata dari pria yang amat disayanginya itu. Bisa dibilang pak Sholeh adalah orang yang paling merasakan perubahan putrinya itu. Karena sebelum kejadiaan naas itu, Dinda adalah gadis yang periang. Ia sangat dekat dengan ayahnya. Sampai terkadang Alfian adik bungsunya merasa cemburu dengan kedekatan ayah dan kakaknya itu. Sering kali ia menghabiskan waktu di kios milik keluarganya hanya untuk meminta tambahan uang saku dari ayahnya.
Dinda pun menjawab rasa penasaran ibunya dengan posisi masih membelakangi orang tuanya. "Bukankah kalian akan menikahkanku dengan penjahat itu?" ucapnya sinis.
Anisa yang juga mendengar ucapan adiknya itu pun berjalan mendekatinya.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu dek?"
"Dinda sudah dengar semuanya. Tak apa Dinda menikah dengannya kalau memang kalian benar-benar ingin membuat Dinda jadi gila beneran" ketus Dinda.
"Tidak nak, jangan bicara seperti itu. Kamu tidak akan menikah dengannya kalau kamu tidak mau. Maafkan ibu nak". jawab bu Atikah terisak.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau tidak apa-apa nak. Kamu anak bapak yang kuat. Kamu pasti baik-baik saja tanpa menikah dengannya. Kami semua akan mendukung apapun itu keputusanmu". Ucap pak Sholeh mendekati putrinya.
Adinda semakin terisak mendengarkan ucapan ayahnya. Bu Atikah dan Anisa pun tak kuasa menahan air matanya.
Begitu banyak yang di pikirkan Adinda. Ia bisa memaklumi maksud orang tuanya untuk menikahkannya dengan Dimas. Bukan karena takut nanti tidak ada laki-laki yang mau menerimanya. Tapi dia takut akan ada hal yang lebih buruk terjadi. Setahu Dinda, hubungan paksa yang baru saja dialaminya bisa saja menyebabkan dirinya mengandung anak pemerkosa itu. Bagaimana nanti kalau dia benar-benar hamil dan tidak ada yang mau menikahinya? Bagaimana nanti nasib anaknya? Atau bagaimana nanti keluarganya menghadapi gunjingan tetangga, bagaimana dengan sekolahnya? Apa ia masih bisa sekolah seandainya teman-temannya tau keadaannya? Ia bahkan ingin kuliah agar bisa menjadi mahasiswa yang selalu dianggapnya keren itu.
Ahhhh,,,banyak sekali yang bersliweran di kepalanya.
"Bu," panggilnya lirih
"Iya nak"
"Jangan memaksakan diri dek. kalau kamu tidak mau tidak apa-apa. Benar apa yang diucapkan bapak. Kita akan baik-baik saja" jawab Anisa.
"Tidak kak, Dinda akan menikah dengannya" yakin Dinda.
Setelah menyampaikan alasan yang bersliweran dikepalanya, ketiga orang di depannya menangis haru. Bu Atikah dan Anisa memeluk Dinda menguatkannya. Anisa pun diminta menghubungi keluarga Sanjaya untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut.
__ADS_1
Setelah mendapat kabar dari Anisa, pak Lukman dan bu Ambar pun menuju kantor polisi untuk memberi tahu Dimas tentang rencana pernikahannya. Dimas yang terlihat masih merasa bersalah pun hanya pasrah menerima keputusan orang tuanya itu. Dengan begitu ia berharap akan benar-benar bisa menebus kesalahan yang telah dilakukannya.
Pak Lukman dan bu Ambar baru saja keluar dari kantor polisi. Sebelum mencapai parkiran dilihatnya pak Sholeh dan Anisa yang baru saja turun dari taksi. Merekapun berjalan mendekati ayah dan anak yang hampir memasuki kantor polisi.
"Pak Sholeh di sini?" sapa pak Lukman.
"Iya pak" jawab pak Sholeh menyalami pak Lukman.
"Apa anda mau menemui Dimas?" tebak bu Ambar.
"Ah tidak. Saya ada perlu dengan pak polisi"
"Apa ada masalah?" tanya pak Lukman heran.
"Tidak, saya cuma mau mencabut laporan yang kemaren"
"Maksud pak Sholeh laporan atas nama Dimas anak saya?" sela bu Ambar antusias.
__ADS_1
"Iya"
Jawaban pak Sholeh seketika membuat air mata wanita itu menetes. Berkali-kali ia berterima kasih menjabat tangan laki-laki itu. Pak Lukman yang berada disampingnya pun terlihat sangat lega dengan keputusan pak Sholeh yang bersedia mencabut laporan. Setidaknya masih ada sedikit maaf dari pihak korban untuk putranya.