Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Malu


__ADS_3

Dinda memasuki rumah tanpa menghiraukan sapaan dari mbak Sari yang membukakan pintu untuknya. Dengan setengah berlari ia berjalan menuju ke kamarnya. Di belakangnya nampak Dimas yang membuat ART itu semakin heran dengan kedua majikannya yang datang bersamaan. Terlebih lagi melihat wajah Dimas yang babak belur membuat mbak Sari semakin bertanya-tanya apa yang terjadi di antara kedua majikannya itu.


"Mama belum pulang mbak?"


"Belum den. Tadi nyonya nelfon pak Samsul suruh jemput jam sebelas malam ini ke bandara".


"Ooohh,,, ya udah. Tolong siapin makan malam buat Dinda".


"Iya Den" mbak Sari pun pergi meninggalkan Dimas yang masih menatap ke arah kamar Dinda.


Mengetahui keluarganya yang belum pulang dari luar kota, membuat Dimas yang hendak kembali ke apartemennya pun mengurungkn niatnya. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar tamu untuk menemani Dinda di rumah itu. Yah, ia takut terjadi sesuatu dengan gadis itu. Sedari keluar dari Dojo tadi, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Hanya suara sesenggukan gadis itu yang mengisi keheningan suasana di mobil waktu itu. Bahkan Maya yang biasanya rame pun hanya diam memainkan hpnya menyadari suasana yang sepertinya kurang mengenakkan itu.


Dinda baru saja selesai membersihkan diri dan menjalankan kewajibannya. Bayangan pertemuannya dengan Dimas hari ini berputar-putar di kepalanya seperti sebuah film yang terus berulang. Ia merebahkan tubuhnya dan berguling menelungkupkan wajahnya di atas bantal. Nampak ia sedang memukul-mukul kepalanya seperti sedang menyesali sesuatu.


Flash back:


Dinda menangis tersedu-sedu di hadapan Dimas. Laki-laki itu duduk bersimpuh tepat di depannya. Di sela-sela tangisnya itu, dengan kepayahan Dinda mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini menyesakkan dadanya.


"Aku…benci sama …kamu. Tapi …aku malah harus… menikah… sama kamu. Huaaa,,,huaa,,,"


Dimas hanya terdiam mendengarkan istrinya yang meracau tak jelas itu.


"Kamu penjahat! Gara-gara kamu aku terpuruk seperti ini. Semua orang menganggapku aneh. Bahkan aku harus ke psikiater seperti orang gila. Kamu jahat!!!" Dinda meraih rambut Dimas, menjambak dan mengguncang-guncangnya.


"Kamu penjahatnya! Tapi wajah sialanmu itu membuat seolah aku yang jahat. Semua orang membelamu. Kamu seolah perhatian padaku, menanyakan keadaanku setiap kali bertemu. Apa kamu buta? Kamu gak lihat aku selalu ketakutan kepadamu! Dengan mudahnya kamu hanya minta maaf. Kamu menghancurkan hidupku dan kamu hanya minta maaf? Enak sekali kamu. Ini,,, buang wajah ini. Aku nggak suka wajah mengibamu" Dinda menunjuk-nunjuk dan kemudian menampar wajah dimas.


"Huaaa,,, huaaa,,, Aku susah payah menahan diri untuk bertahan. Tapi kamu dengan mudahnya malah bilang mau menjauhiku. Kamu penjahat! Jangan sok baik dengan berkata seperti itu. Huaaa,,,hua,,,"

__ADS_1


Dinda masih menangis sejadi jadinya. Ia seolah melepaskan segala emosi yang selama ini menyesakkan dadanya.


"Apa masih lama?" Tanya Dimas yang membuat Dinda menatap penuh tanya. "Atau kita pindah tempat saja kalau kamu masih ingin melanjutkan"


Dimas melayangkan tatapannya ke arah belakang Dinda. Disana sudah ada orang-orang yang tadi menunggu bersamanya sedang menyaksikan drama sepasang suami istri itu. Kebanyakan dari mereka menatap Dimas iba. Ya, dengan penampilan yang sudah babak belur seperti itu, siapa yang tak kasihan melihatnya. Terlebih lagi Iwan yang juga ikut menyaksikan kejadian itu sempat melarang seorang ibu-ibu yang hendak memisahnya. Iwan bilang Dimas sendiri yang memintanya. Aahhh,,, bisa dibayangkan tatapan mengerikan ibu-ibu itu kepada Dinda kan?


Dinda yang menyadari dirinya sedang menjadi pusat perhatian pun menghentikan tangisnya. Ia menatap Dimas dengan wajah kesal bercampur malu.


"Aku mau pulang" ucap Dinda tertunduk.


"Ayo" Dimas membantu Dinda berdiri, tapi gadis itu dengan sigap berlari lebih dulu keluar gerbang.


Dimas berjalan keluar diiringi tatapan kagum dari ibu-ibu yang masih berdiri melihatnya.


"Yang sabar ya mas" ucap salah seorang ibu-ibu.


Di depan gerbang ia bertemu Maya yang baru kembali dari latihan. Ia menyuruhnya mengambil barang-barang Dinda dan menunggunya di mobil. Tanpa bertanya apa yang terjadi, Maya pun berlari menuruti perintah Dimas.


Flash back end.


Dinda menggerakkan kakinya menendang-nendang sembari tubuhnya masih tertelungkup. Tangannya meraih bantal dan memukul-mukulnya frustasi.


"Bodoh banget sih aku, gimana bisa kembali ke Dojo kalau gini?" Gumam Dinda merutuki perbuatannya. Ia sendiri tak habis pikir bisa berbuat seperti itu. Terlebih lagi dengan menangis meraung-raung seperti itu. Aaahhh,,, betapa malunya dia.


Jam menunjukkan pukul delapan malam. Dimas keluar dari kamarnya menuju meja makan. Dilihatnya makanan yang masih utuh tertata rapi di atas meja. Ia melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Dinda belum turun bik?" Tanya Dimas saat melihat bik Narti.

__ADS_1


"Belum den. Mungkin non Dinda ketiduran, tadi udah dipanggil sama Sari, tapi nggak ada sahutan"


"Ya udah, biarin aja"


"Iya den"


Dimas pun membalikkan badannya. Ia kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga. Dilihatnya pintu kamar Dinda yang masih tertutup. Dengan ragu ia mengetuk dan memanggil Dinda untuk makan malam. Tak mendapat jawaban, ia pun mencoba membuka pintu.


Ceklek,,,


Pintu terbuka. Dengan ragu-ragu Dimas memasuki kamar yang dulu ditempatinya. Ia menyapukan pandangannya mencari sosok Dinda di kamar itu. Sesekali ia memanggil nama Dinda memastikan gadis itu berada di kamarnya. Sesampainya di samping tempat tidur, senyumnya merekah melihat gadis yang dicarinya sedang tidur dengan posisi tengkurap. Ia mendekat dan berlutut di depan Dinda yang tertidur pulas lalu menyibak rambut yang menutupi wajahnya.


"Kamu capek menangis seperti itu? Apa kamu masih marah?" Ucapnya pada Dinda yang tertidur.


Pagi harinya Dinda bersiap untuk kuliah seperti biasanya. Ia mengenakan kacamata untuk menutupi bengkak di matanya.


"Mata kamu kenapa Din?" Tanya pak Lukman yang baru saja melihatnya.


"Nggak papa pa".


"Iya kok bengkak gitu sih. Kamu habis nangis?" Sahut mama Ambar.


"Selamat pagi semuanya" sapa Dimas mengejutkan semuanya. Semua orang di ruangan itu menatap heran kepadanya.


"Kenapa pada kaget gitu sih?"


"Wajah kak Dimas kenapa?" Tanya Lita.

__ADS_1


"Kamu berantem lagi?" Sahut mama.


__ADS_2