Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Bersyukur


__ADS_3

Dinda sedang mengepak beberapa pakaiannya ke dalam koper. Lusa adalah awal dari libur semester yang memang telah dinantikan olehnya. Karena pada hari itu, Dinda akan pulang ke kampung halamannya untuk membantu persiapan pernikahan kakaknya yang akan digelar seminggu kemudian.


Rencananya, Dinda akan pulang bersama Maya. Sedangkan Dimas, akan menyusulnya beberapa hari kemudian. Kesibukan Dimas dengan pekerjaannya, membuat laki-laki itu urung menemani istrinya pulang lebih awal ke rumah orang tuanya. Beruntung ada Maya yang juga berniat pulang untuk menghabiskan liburannya. Sehingga, ia pun tak begitu khawatir istrinya itu akan sendirian selama perjalanan.


Orang tua Dimas dan juga Talita pun berniat untuk menghadiri pernikahan Anisa. Namun berbeda dengan Dinda dan Dimas, ketiganya akan hadir saat acara akan di gelar.


Selesai mengemasi barang-barangnya, Dinda menyusul suaminya yang duduk di sofa sembari memangku laptopnya yang terbuka.


"Ck, sibuk terus" ucap Dinda memindahkan laptop dipangkuan Dimas ke atas meja.


Dimas tersenyum melihat tingkah manja istrinya yang menggantikan benda kotak itu duduk di pangkuannya. "Apa maksudnya coba kaya gini? Ngundang?" Dimas melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dan mengecup pipi gadis itu mesra.


"Mas Dim ih, siapa yang ngundang? Dinda nggak mau ya, di kamar ini mas masih mikirin kerjaan" Dinda menangkupkan kedua tangannya di pipi Dimas dan memainkannya dengan menekan-nekannya. membuat bibir Dimas terlihat mengerucut lucu.


"Emangnya harus ngapain kalau di kamar?" goda Dimas menyingkirkan tangan istrinya itu dari wajahnya.


"Ya ngapain kek, asal jangan kerja aja. Kerja tuh di kantor ya mas"


Dimas yang gemas dengan istrinya itu pun mengecup pipi Dinda berkali-kali yang membuat Dinda terkekeh karena geli.


"Apaan sih mas, geli tau"


"Habis mau gimana lagi. Katanya nggak boleh kerja. Ya gini aja terus" masih menciumi Dinda, kali ini berpindah ke lehernya, membuat gadis itu semakin terbahak.


"Udah,,, udahh,,, geli mas. Dinda mau ngomong ini" Dinda mendorong wajah Dimas menjauh, dan diapun duduk di samping suaminya itu.


"Ngomong apa? Dari tadi udah ngomong kan?" Dimas melingkarkan tangannya ke pundak Dinda yang sibuk memilah-milah saluran tv dengan remote di tangannya.

__ADS_1


"Gini lho" Dinda memutar tubuhnya menghadap Dimas. "Dinda kan Nikah duluan dari kak Nisa. Menurut adat di kampung Dinda, kalau seorang adik nikah duluan dari kakaknya, maka si adik harus memberikan mahar pelangkah buat kakaknya. Nah, karena kita dulu nikahnya buru-buru, jadinya Dinda belum ngasih pelangkah sama kak Nisa. Dinda mau ngasih sebelum kak Nisa Nikah mas".


"Terus kamu mau ngasih apa?"


"Eemmm,,, biasanya sih si kakak yang minta, tapi kak Nisa nggak pernah minta apa-apa sama Dinda. Gimana dong?"


"Kita beliin rumah aja gimana?"


Mendengar usul suaminya yang fantastis itu, Dinda pun mengerutkan keningnya tak percaya. Mentang-mentang kerjaannya bangun rumah, segampang itu bilang mau kasih rumah buat kakak iparnya. Mungkin seperti itu fikirnya.


"Kenapa?" Tanya Dimas yang melihat ekspresi berbeda dari Dinda.


"Mas nggak bercanda kan?"


"Enggak, emangnya kenapa kalau kasih kak Nisa Rumah sebagai pelangkah. Toh kalau di bandingin sama keikhlasannya dilangkahin sama adik cantiknya ini buat aku nikahin itu nggak ada apa-apanya lho" jawab Dimas menoel hidung Dinda.


"Ck, mas ini gombal mulu ih" kesal Dinda. "Ya nggak gitu juga kali mas. Takutnya nanti mas Fais malah tersinggung dengan pemberian kita"


"Biasanya sih cukup memberikan seperangkat pakaian atau perhiasan gitu. Mas nggak papa kan kalau Dinda beliin kak Nisa perhiasan?"


"Emangnya sejak kapan sih mas ngelarang kamu beli ini itu? Kamu kalau mau pun boleh beli" Dimas meraih Dinda ke dalam pelukannya. "Besok, ajak mama beli perhiasannya biar dipilihin yang bagus. Yah, itung-itung sebagai ucapan terima kasih mas juga udah diijinin nikahin adiknya yang cantik ini"


"Tuh kan lagi" Dinda mencubit pelan perut Dimas disambut tawa mengaduh dari suaminya itu.


Rasanya baru kemarin ia dinikahkan dengan laki-laki yang dibencinya. Mendengar suaranya saja ia muak, apalagi melihat wajahnya. Kontras sekali dengan keadaannya sekarang. Berada di pelukan Dimas seperti itu membuatnya begitu nyaman. Bahkan ia tak ragu lagi untuk sekedar bermanja-manja dengan suaminya itu.


"Maafin mas ya sayang" Dimas mengecup pucuk kepala Dinda.

__ADS_1


"Untuk?"


"Karena mas, kamu nggak mendapatkan pernikahan impian kamu"


Dinda menjauhkan wajahnya yang menempel di dada Dimas, kemudian menengadah untuk menatap wajah suaminya yang juga menatapnya.


"Mas Dim kenapa ngomong gitu sih? Semua sudah ada yang mengatur mas. Bahkan Dinda bersyukur dengan kejadian yang dulu, Dinda bisa dapat suami yang yaaahhh,,, bisa dibilang lumayan ganteng lah" ucap Dinda sembari memicingkan matanya mengukur kegantengan suaminya itu.


"Ooohhh,,, gitu, jadi kamu sudah mengakui kalau suamimu ini ganteng, hm?" Dimas mengeratkan pelukannya.


"Yaaahhh,,, mayan lah" ucap Dinda yang langsung mendapat ciuman bertubi-tubi dari suaminya itu.


"Mas janji, mas akan menggantinya dengan resepsi kita nanti yang akan mewujudkan pernikahan impianmu" Dimas kembali memeluk Dinda erat.


"Dinda sebenarnya malu mas. Nikah udah lama juga. Harusnya nggak usah resepsi juga nggak papa"


"Sayang, keluarga besar mas juga harus tau kalau kamu sekarang udah jadi bagian dari keluarga. Sekalian biar dunia tau kalau Adinda Maharani yang cantik ini sudah ada yang punya. Biar nggak ada lagi Ilham-Ilham yang lainnya".


"Ck, mas lebay ah" Dinda mendorong tubuh Dimas menjauh.


"Mas bersyukur banget dipertemukan sama kamu Din. Terlepas dari pertemuan kita yang tak pantas untuk dikenang, mas beruntung waktu itu kamu yang datang. Mas juga bersyukur kamu mau menerima penjahat ini untuk menjadi suamimu. Dan juga terima kasih, berkat kamu mas jadi lebih baik. Mas merasa berguna sebagai manusia. Makasih sayang, mas janji hanya akan ada kebahagiaan kedepannya. Maaf, untuk waktu itu" Dimas menatap Dinda yang sudah berkaca-kaca.


Entah mengapa rasa bersalah itu masih saja bertengger di hati Dimas. Ia bahkan tahu, istrinya itu sudah sepenuhnya memaafkannya. Tapi rasa sakit setiap kali teringat wajah istrinya yang tergolek tak berdaya waktu itu seolah enggan meninggalkan relung hatinya.


Dimas juga tak memungkiri, kehadiran Dinda membawa banyak perubahan baginya. Dari mulai berkurangnya kebiasaan-kebiasaan buruk Dimas, sampai sekarang Dimas yang lebih rajin beribadah karena ada Dinda yang selalu mengingatkannya.


"Kenapa mas selalu saja mengingat hal itu?" Dinda membelai lembut pipi Dimas. "Dinda sudah ikhlas mas, Dinda bahagia sekarang. Mas bukan penjahat. Mas Dim suami Dinda yang bertanggung jawab. Dan Dinda bersyukur banget dengan kehidupan Dinda yang sekarang. Terima kasih sudah mencintai Dinda sebesar ini" Dinda pun melingkarkan tangannya memeluk suaminya itu.

__ADS_1


Dimas menjauhkan wajah Dinda dan menangkupnya dengan kedua tangannya. Perlahan ia mendaratkan bibirnya pada bibir mungil di depannya dan menikmatinya. Sebelah tangannya mulai turun dan mencari-cari posisi favoritnya. Belum sampai pada tujuannya, aksinya itu dihentikan dengan Dinda yang lebih dulu melepas pagutannya.


"Udah mas, ntar keterusan, Dinda lagi dapet" ucap Dinda tersenyum geli.


__ADS_2