Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Kenalan


__ADS_3

"Lepas!" ucap Dinda lagi. Kali ini dengan suara sedikit meninggi karena panik.


"Andra!" Bentak Lita sembari melepaskan tangan Andra dari Dinda dan menghentakannya kasar. "Pergi lo"


Melihat Dinda sudah gemetar panik, Lita pun segera memeluknya. "Gak papa kak, ada Lita"


Andra masih berdiri ditempatnya menatap kedua gadis itu bingung. "Ta,,," panggilnya mencoba mencari penjelasan.


Lita yang sudah kesal pun memelototkan matanya memberikan isyarat mengusir pada Andra.


Andra yang masih kebingungan melangkahkan kakinya menjauhi kedua gadis yang itu.


Jam kuliah Dinda sudah selesai. Kini dia bersama Maya sedang berada di kantin Menunggu Talita untuk pulang bersama. Selama ini Dinda selalu berangkat dan pulang bersama Talita. Bahkan Talita akan dengan senang hati mengantar Dinda sekalipun dirinya tidak ada jam kuliah. Kalaupun Dinda harus berangkat sendiri, pasti ada supir yang mengantarnya, karena mama Ambar yang begitu menghawatirkan kondisi Dinda.


Dinda dan Maya masih asik berbincang-bincang sembari menyantap bakso pesanannya. Sementara itu tak jauh dari tempat Dinda duduk ada Andra yang memperhatikannya.


"Tumben ke kantin Ndra" sapa Sandi yang langsung duduk di depan Andra.


"Hemmm,,," sahutnya sembari menyeruput es jeruk pesanannya.


"Ngeliatin siapa sih lo?" tanya Sandi mengikuti arah pandang Andra.


"Tuh cewek siapa sih San?" tanya Andra masih menatap ke arah Dinda.


"Yang mana?"


"Kerudung coklat"


"Oohhh,,, mahasiswa baru itu? Kenapa? Penasaran juga lo?"


"Hehh?" kali ini Andra menatap Sandi seolah menuntut penjelasan.


"Lo kira lo aja yang dibuat penasaran ma tuh cewek. Udah manis gitu, misterius pula. Siapa yang gak penasaran coba?"


"Misterius gimana maksudnya? Yang jelas kalau cerita" ucap Andra tak sabar.


"Tuh cewek aneh banget tau gak? Tiap dideketin pasti kaya panik gitu. Bahkan kabarnya dia tuh udah nikah sama kakaknya Talita yang sangar itu. Tapi siapa yang percaya coba, masih muda gitu.


"Nikah? Sama Dimas?" tanya Andra lagi.

__ADS_1


"Tau tuh, bisa-bisanya Talita aja kali, biar gak ada yang berani deketin. Lo liat aja, gadis muda, lembut kaya gitu masa iya nikah ma Dimas. Lo tau sendiri kan Dimas itu kaya gimana"


"Makin penasaran gue" ucap Andra dan beranjak berdiri dari kursinya.


"Eh, mau kemana lo?" tanya Sandi yang melihat Andra meraih tas di sampingnya.


"Nyari jawaban" jawab Andra singkat, kemudian berjalan mendekati meja Dinda.


Sesampainya di meja Dinda, Andra tak langsung menyapa Dinda. Ia terlebih dulu menyapa Maya yang duduk di depan Dinda.


"Hai,,, gue Andra" ucap Andra mengulurkan tangannya kepada Maya.


Sejenak Maya terpesona melihat Andra yang berdiri di depannya.


Ngapain nih cowok? Tapi cakep sih, tinggi pulak. Aaahhh,,, idaman banget.


"Ada urusan apa kak?" tanya Lita menutupi kekagumannya.


"Mau kenalan. Tadinya mau ngajak kenalan temen kamu, tapi dia nya malah ketakutan. Ya udah ma kamu aja" ucap Andra menatap ke arah Dinda yang masih tertunduk.


"Jujur banget kak, gak bisa apa bohong dikit" balas Maya pura-pura ngambek.


"Maya" ucap Maya menyambut tangan Andra.


"Boleh duduk?" tanya Andra melirik bangku kosong di samping Dinda.


Gak papa Din, ayo anggap ini latihan penyembuhan. Batin Dinda mencoba menenangkan dirinya.


Sebelum menjawab Andra, Maya terlebih dulu melirik ke arah Dinda. Reaksi Dinda yang masih saja menunduk membuat Maya hendak menolak permintaan Andra.


"Maaf,,,"


"Silahkan"


Ucap Dinda dan Maya bersamaan. Maya pun menatap Dinda heran.


"Ok makasih" Andra langsung mendudukkan dirinya di samping Dinda yang membuat Dinda spontan menggeser duduknya.


"Kakak ada urusan apa?" selidik Maya, karena baru kali ini ada cowok yang benar-benar nekat mendekati Dinda.

__ADS_1


"Udah dibilang mau kenalan kok masih nanya. Gak percaya?" ucap Andra dengan nada sedikit kesal.


"Sekarang kan udah kenal, jadi alasan apa lagi?" balas Maya tak mau kalah.


"Sama dia kan belum kenalan" Andra melihat ke arah Dinda yang sedang memainkan sedotan minuman di depannya.


"Cihhh,,, sebelum ke sini juga pasti kakak udah cari tau namanya kan?" tebak Maya yang sepertinya tepat.


"Tau dari mana kamu?"


"Hellehhh,,, lagu lama. Ya udah kalau mau lebih jelas aku perjelas lagi deh. Namanya Dinda, kalau kakak ngarep jadi pacarnya mending mundur aja, udah gak ada harapan"


"Loh kenapa? Sebelum janur kuning melengkung kan masih ada kesempatan"


"Sayangnya janurnya udah melengkung. Udah kering malah"


"Maksudnya?" tanya Andra semakin bingung.


"Pikir aja ndiri" kesal Maya.


"Artinya Dinda udah bersuami. Gitu aja pake mikir sih lo" ucap Talita yang tiba-tiba datang dan mendudukkan dirinya di samping Maya.


Seketika Andra melihat ke arah Dinda mencoba mencari jawaban. "Beneran Din?"


Dinda menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan kedua gadis di depannya itu.


"Udah jelas kan? Kalau udah jelas bisa minggat aja gak sih lo?" sewot Talita.


"Apaan sih Ta. Gak jadi pacarnya, jadi temennya boleh kan?" timpal Andra tak mau kalah. "Atau ma kamu juga boleh" genit Andra menatap Maya.


"Iiihhhh,,,, Oogahhh" Maya memutar bola matanya jengah.


"Helleeehhh,,, tadi gue lihat lo terpesona gitu ma gue"


"Iya tadi, sekarang udah ilfill"


"Hahaha,,,, rasain lo" ledek Talita.


Dinda yang melihat perdebatan di depannya menyunggingkan senyum tipis dibibirnya. Ia bukannya tidak bisa berdekatan dengan pria sama sekali, tapi butuh usaha keras untuk menumbuhkan rasa percaya pada pria yang baru saja dikenalnya sehingga ia merasa nyaman. Sampai saat ini hanya beberapa pria yang dikenalnya, itupun tak luput dari peran Maya dan juga Talita. Yah, Dua gadis itu selalu mengekori Dinda memastikan kenyamanan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2