Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Dokter Kandungan


__ADS_3

"Nyonya Adinda Maharani" Suara seorang perawat yang sedang memanggil nama pasien di sebuah lorong rumah sakit.


Hari ini Dinda dan Dimas meluangkan waktunya untuk mendatangi salah seorang dokter kandungan ternama di kotanya. Berbekal referensi dari pak Lukman, akhirnya mereka memutuskan untuk mendatangi dokter Harry yang juga praktek di rumah sakit yang sama dengan sang papa.


Dinda dan Dimas yang sedari tadi sudah bersiap pun segera beranjak dari duduknya ketika mendengar namanya dipanggil. Berjalan memasuki sebuah ruangan, Dinda masih saja menautkan jemarinya pada sela-sela jari suaminya.


Setelah berbasa-basi dan berkenalan singkat dengan dokter Harry, sang dokter yang hampir semua warna rambutnya mulai memutih itu pun memulai tugasnya untuk melakukan pemeriksaan yang diawali dengan beberapa pertanyaan mendasar.


"Jadi apa yang bisa saya bantu?" Tanya dokter ramah.


"Ehemm,,, begini dok" suara Dinda mengawali kalimatnya. Ia menyondongkan tubuhnya ke depan dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, terlihat tak sabar untuk segera memulai program hamilnya. "Kami udah nikah selama dua tahun. Dan, saya pingin hamil".


Dokter pun tersenyum mendengar Dinda yang terlihat tak sabaran. Tanpa basa-basi gadis itu langsung mengatakan niatnya kepada dokter Harry. Dokter pun meraih kembali berkas pendaftaran Dinda yang masih berada di depannya. Dengan senyum mengembang, ia menatap ke arah pasien muda di depannya. "Adinda ini masih muda ya? 19 tahun, betul?" Tanya dokter Harry.


Dinda pun mengangguk mengiyakan.


"Kalau Dimas?" Dokter mengalihkan pandangannya ke arah Dimas. "Kayanya saya nggak asing sama kamu" ucap dokter mengerutkan keningnya mencoba mengingat sesuatu.


"Saya anaknya dokter Lukman dok" jawab Dimas yang langsung dimengerti oleh dokter.


"Aahhh,,, iya. Pantes, kok kaya pernah ketemu di mana gitu" Dokter Harry mengangguk-anggukkan kepalanya.


Dimas hanya tersenyum menanggapi ucapan dokter senior rekan papanya itu. Ia memang tak begitu mengenal rekan-rekan pak Lukman. Paling hanya beberapa saja yang memang dekat dengan keluarganya. Namun resepsi pernikahannya yang baru digelar beberapa waktu lalu, tentu saja membuat beberapa rekan papanya yang turut hadir masih bisa mengingat wajahnya.


"Kalian benar sudah siap untuk mengikuti program hamil ini? Terutama Dinda, kamu masih muda lho."


Dinda pun tersenyum. "InsyaAllah dok. Saya sudah nggak sabar" ucap Dinda antusias. Dimas menarik sudut bibirnya menatap Dinda yang terlihat begitu bersemangat.

__ADS_1


"Oke. Tak ada masalah dengan usia. Bisa dibilang kalian memang dalam usia yang produktif" jelas dokter. "Nggak perlu berpikiran yang macam-macam. Cukup kalian rileks dan yakin semua pasti baik-baik saja itu saja sudah cukup untuk membantu menyukseskan program ini" lanjut dokter sembari menatap Dinda. Ia seolah mengerti dengan keresahan yang dirasa gadis itu.


Dokter Harry pun beranjak dari duduknya. Ia memanggil Dinda untuk mengikutinya dan menyuruhnya berbaring di atas ranjang yang tersedia. Dengan dibantu seorang perawat, perut Dinda diolesi gel dingin sebelum akhirnya dilakukan USG untuk melihat kondisi dalam rahimnya. Dokter Harry memutar-mutar alat USG di atas perut Dinda sambil sesekali menjelaskan gambar yang muncul di layar monitor.


Selesai proses USG, Dinda kembali mendudukkan dirinya di samping Dimas. Dengan seksama mereka mendengarkan penjelasan dari dokter dan sesekali menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan kewanitaan. Bahkan mereka menjawab pertanyaan seputar hubungan suami istri dengan begitu jelas walaupun sedikit malu-malu. Bagaimanapun ini adalah langkah yang mereka pilih untuk segera memiliki buah hati. Jadi tak ada alasan sedikitpun untuk tidak bersungguh-sungguh dengan proses ini.


"Sejauh ini semua bagus" ucap Dokter setelah dirasa cukup mendapat informasi dari Dinda. "Kandungannya bersih, siklus menstruasi juga teratur, tak ada keputihan maupun gangguan yang berarti" Dokter menjeda kalimatnya dengan memperhatikan lembaran hasil pemeriksaan. "Oke, kita akhiri pertemuan pertama kita. Untuk pertemuan kali ini saya hanya akan meresepkan vitamin untuk kalian. Dan datang kembali nanti di hari pertama saat Dinda mendapat periodnya".


Dinda dan Dimas mengangguk mengerti. Sebelumnya dokter memang menjelaskan untuk memulai pemeriksaan dari Dinda terlebih dahulu. Setelah diketahui tak ada masalah dengan pihak istri, barulah akan dilakukan pemeriksaan kepada suami.


Selesai mendengar penjelasan dan juga menerima resep dari dokter, keduanya pun bergantian bersalaman dengan dokter Harry tanda akhir pertemuan.


"Oh iya. Perlu diingat, nggak boleh stres. Dan sabar adalah kunci untuk sebuah keberhasilan" pesan Dokter lagi.


Sebagai dokter senior, dokter Harry sudah pasti tau kesulitan-kesulitan yang dialami oleh pasutri yang mendamba hadirnya buah hati. Bukan lagi dari pandangan medis, bahkan serangan mental adalah hal terbesar yang harus diwaspadai sebagai penghambat utama proses pembuahan. Terutama bagi pihak istri yang lebih dominan menggunakan perasaan ketimbang logika. Daripada harus berfikir bahwa dirinya baik-baik saja, seorang wanita biasanya akan terbawa perasaan dengan omongan orang luar yang kebanyakan menyalahkan dirinya sebagai pihak yang gagal memberikan keturunan. Dan hal itulah nantinya yang menyebabkan stress berkepanjangan. Bahkan tak jarang sampai ada yang depresi hanya karena suara yang tak bertanggung jawab itu.


Setelah itu mereka pun berpamitan dan keluar dari ruangan dokter dengan perasaan lega.


 


"Kenapa sayang?" Tanya Dimas kepada Dinda saat mereka dalam perjalanan pulang. Gadis itu terlihat melamun dengan pandangan yang lurus ke depan.


"Nggak apa-apa kok mas". Jawab Dinda begitu merasakan tangannya digenggam oleh Dimas.


"Ingat kata dokter tadi kan? Nggak boleh stress" Dimas menekankan kalimatnya. Ia tahu istrinya itu cukup dibuat stres dengan omongan orang-orang di luar sana. Bahkan beberapa kali Dimas memergoki Dinda menangis setelah mendapat cibiran tentang belum hadirnya keturunan di antara mereka.


Selama ini bukannya Dimas tak tau dengan segala keresahan istrinya itu. Baginya, mungkin dengan ia dan keluarganya bersikap santai dan tidak menuntut perihal kehamilan, akan membuat gadis itu lupa dan baik-baik saja. Namun nyatanya ia keliru dan bahkan salah besar. Nyatanya omongan orang di luar sanalah yang lebih mempengaruhi pikiran istrinya

__ADS_1


"Iya. Dinda cuma seneng aja dengan hasil pemeriksaan tadi. Semoga semuanya baik-baik saja ya mas" ucap Dinda menatap suaminya yang sedang fokus menyetir.


"Semua pasti baik-baik saja. Yakin saja" Balas Dimas sembari menoleh sejenak dan mengusap kepala istrinya.


Setidaknya secuil ketakutan Dinda memudar hari ini. Selama ini ia begitu takut jika ada masalah dengan kandungannya yang menyebabkannya tak kunjung hamil. Namun berkat pemeriksaan yang dijalaninya tadi, ia bisa bernafas lega karena penjelasan dokter yang menyatakan tak ada masalah dengan kandungannya.


"Sekarang mau kemana?" Tanya Dimas kepada istrinya.


"Emangnya mas nggak balik ke kantor?"


"Nggak lah, ngapain? Enakan juga nemenin istri".


"Beneran nih mas Dim mau nemenin Dinda jalan-jalan?" Tanya Dinda tak percaya. Pasalnya, akhir-akhir ini suaminya itu selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan di akhir pekan yang biasanya libur pun, tak jarang Dimas masih bergulat mengais rupiah.


"Iya sayang. Udah terlanjur keluar ini. Biar kantor diurus sama mbak Raya".


"Ihhh,,, kasian mbak Raya dong mas. Mana dia punya bayi lagi. Kalau harus lembur kan capek".


"Siapa bilang lembur? Sejak punya bayi Raya tuh paling anti sama yang namanya lembur. Makanya akhir-akhir ini mas sama Niko sibuk banget. Berasa diakalin sama Raya tau nggak sih sayang" ucap Dimas mengiba.


Dinda terkekeh melihat ekspresi lucu suaminya. "Ihh mas, maklum lah mas. Mbak Raya kan emang punya bayi. Dia masih kerja aja udah hebat menurut aku".


"Iya sih. Bagaimanapun juga mbak Raya itu paling kompeten di bidangnya. Nggak kebayang repotnya kalau dia resign".


"Nah makanya. Biarpun judes, tapi Dinda suka kok. Setidaknya mas nggak harus berurusan dengan sekretaris seksi nan genit yang menjengkelkan".


"Kebanyakan nonton drama nih jadinya gini" Dimas mencubit pipi istrinya gemas. "Mas kan udah punya kamu" lanjutnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2