Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Belanja


__ADS_3

Dinda dan Maya sedang menunggu Talita di taman kampus. Ketiga gadis itu berencana untuk pergi menonton sepulang kuliah. Sembari menikmati cilok yang dibelinya di depan kampus tadi, Dinda nampak asik berbincang dengan sahabatnya itu.


"Pak Ilham masih sering hubungin kamu Din?" Tanya Maya di sela asyiknya menikmati cilok.


"Nggak. Aku kan udah blokir nomernya" jawab Dinda cuek.


"Duh segitunya kamu" ucap Maya menatap sahabatnya itu tak percaya.


"Kan kamu yang bilang May kalau kita tuh nggak boleh PHP".


"Iya sih" Maya membuang plastik cilok yang sudah kosong ke tempat sampah dan meminum jus jambu yang juga dibelinya bersama cilok tadi. "Tapi aku masih suka lihat pak Ilham tuh curi-curi pandang sama kamu lho Din".


"Biarin. Yang penting aku nggak nanggepin dia".


"Iya juga sih. Tapi pandangannya tuh beda Din. Takutnya nanti dia nyulik kamu lagi kaya di film-film".


"Helleehhh,,, kebanyakan nonton drama sih kamu May" Dinda menyeruput jus jambunya. "Ini anak lama banget sih" ucap Dinda yang sudah tak sabar menunggu Talita. Ia kembali memandangi jam tangannya kesal.


"Oh iya, habis nonton kita belanja ya Din?"


"Nggak usah kamu minta kalau itu sih udah pasti. Kita pergi juga sama ratunya belanja" ucap Dinda yang harusnya ia tujukan kepada Talita. Karena diantara mereka bertiga, Talita lah yang paling doyan belanja.


"Iya juga yah" Maya tertawa bodoh. "Aku nanti mau beli lingerie" bisiknya kemudian membuat Dinda melotot tak percaya.


"Apaan sih May. Mesum kamu ih" ucapnya menatap Maya jijik.


"Heleehhh,,, pura-pura kamu" Maya menoyor kepala Dinda. "Sekali-sekali kita perlu kali Din manjain suami. Kamu tau kan pelakor jaman sekarang tuh tersedia dalam berbagai bentuk dan model".


"Mas Dim nggak gitu".


"Alaaahhhh,,, cowok mah gitu. Kita kan nggak tau kalau mereka pas di luar. Terlebih kalau pas keluar kota. Kita kan nggak bisa dua puluh empat jam ngawasin para laki".


"Suudzon aja kamu sama mas Niko".


"Yeeeee,,, itu bukan suudzon Din. Tapi waspada" ralat Maya. "Tau sendiri dia mantan playboy".


Dinda terlihat memikirkan ucapan Maya barusan. Memang tak ada yang tak mungkin kalau berhubungan dengan pelakor. Suami yang awalnya setia pun bisa saja tergoda kalau khilaf. Tapi kalau khilafnya berlanjut kan bahaya. Pikir Dinda ngeri.


"Aku juga mau yang warna merah deh" ucap Dinda tiba-tiba.


"Hallaaahhhh,,, mau juga kan".

__ADS_1


Mereka pun tertawa bersama hingga Talita yang ditunggu datang menghampiri. Berjalan bersama Andra, gadis itu nampak riang menghampiri Dinda dan Maya.


"Yuk" ucapnya begitu sampai di depan Dinda.


"Main yuk, yuk aja sih kak. Dari tadi kita di sini juga nungguin kak Lita kali" sewot Maya.


"Sorry guys, kelamaan nunggu ya? Sewot amat sih May" godanya menoel dagu Maya.


"Kalau gitu aku cabut dulu ya yang" pamit Andra pada Talita. "Selamat bersenang-senang girls".


Andra mencondongkan wajahnya hendak mencium pipi Talita, namun Dinda dengan sigap menarik iparnya itu hingga terduduk di tengah-tengah antara dia dan Maya.


"Apaan sih Din?" Kesal Andra yang gagal mencium Talita.


"Apaan, apaan. Kak Andra tuh apaan. Bukan muhrim tau!" Balas Dinda. "Lagian kamu Lit, diem-diem aja mau disosor. Aku bilangin mas Dim loh" ancamnya membuat Talita mencebik kesal.


Maya pun terkekeh melihat drama kakak dan adik ipar itu. Masih tertawa, gadis itu berdiri dan menarik tangan kedua sahabatnya itu. "Udah ayuk ah. Ntar kesorean lagi kalau mesti ceramah dulu".


Ketiganya pun berjalan bergandengan meninggalkan Andra yang masih berdiri di tempatnya. "Jangan lupa telfon yang" teriak Andra melihat kekasihnya sudah mulai menjauh.


Sesuai rencana sebelumnya, selesai menonton, ketiga gadis yang masih terlihat ABG itu pun segera menjalankan aksinya untuk berbelanja. Setelah menemani Talita yang berkeliling-keliling untuk mencari sepatu, kini mereka berada di sebuah toko pakaian yang membuat sang adik ipar itu bertanya-tanya.


"Kita ngapain ke sini sih kak?"


"Iya juga sih. Kak Dinda mau beli daleman?"


"Bukan daleman kak. Kita mau beli sesuatu yang bikin para suami seneng" sahut Maya lagi dengan suara lebih pelan.


Talita mengerutkan keningnya mendengar omongan Maya. Gadis itu pun mengikuti saja Maya dan Dinda yang memasuki toko sembari melihat-lihat barang yang dicarinya. Sampai akhirnya langkahnya terhenti saat dua gadis di depannya juga menghentikan langkahnya.


"Aisshhh,,, kalian nyari lingerie rupanya".


Dua gadis yang masih melihat-lihat berbagai jenis lingerie yang digantung pun menanggapinya malu-malu.


"Kalau ini harusnya kalian nanya aku dulu. Ayok ke sebelah sana". Lita menarik tangan Dinda dan Maya yang nampak kebingungan. Ia membawa dua gadis yang berstatus istri itu ke tempat lingerie bermerek terkenal. Berbagai jenis lingerie terpajang dengan cantiknya. Dari yang masih nampak sopan namun terlihat seksi hingga yang benar-benar menggoda iman kaum adam karena nampak transparan.


"Masa modelnya gini sih Ta" protes Dinda sembari menyentuh jijik lingerie tipis berwarna merah. "Ini sih udah kaya tel***ang".


"Kak Dinda gimana sih. Katanya mau nyenengin suami".


"Iya, tapi gak gini juga Ta. Malu ih makenya".

__ADS_1


"Isshh,,, ini tuh udah bener kak. Percaya deh".


"Kok kak Lita lebih tau soal ginian sih?" Maya menatap Talita curiga.


"Yaaahhh,,, ginian doang. Aku juga punya kali, banyak malah".


Kedua gadis yang berstatus istri orang itupun memicingkan matanya curiga. Mereka yang notabene sudah memiliki pasangan halal saja baru berniat membelinya. Kalaupun Maya punya, itupun merupakan kado pernikahan dari teman-teman usilnya. Dan apa tadi Talita bilang? Ia bilang punya banyak? Wah,,,wah,,,wah, haruskah mereka mencurigai satu-satunya gadis beneran diantara mereka bertiga?


"Nggak usah lebay gitu ngeliatnya. Emang untuk punya ginian harus nikah dulu? Aku punya, tapi yang model biasa. Bukan yang kaya gini" tunjuknya pada pakaian haram itu.


Dinda dan Maya pun bernafas lega. Baru saja pikiran negatif melintas di kepala mereka.


"Hhhh,,, kirain" ucap Dinda lega.


"Ya udah, cepetan pilih gih. Atau mau aku pilihin?" Tawar Lita.


"Eh kak, ini bener harganya segini?" Maya menunjukkan label harga lingerie hitam yang dipegangnya.


"Iya lah. Ini tuh merek terkenal tau".


"Iihhh,,, tipis gini hampir sejuta" Maya pun mengembalikan lingerie yang dipegangnya kembali ke tempat semula. "Sayang duitnya kak".


"Ck, kalian ini. Ini tuh murah tau. Ada kok yang lebih mahal dari ini" Talita mengambil kembali lingeri hitam yang tadi sudah diambil oleh Maya. "Nih, ambil aja sih. Suami-suami kalian tuh nggak bakalan miskin kalau cuma beli beginian. Mau beli selusin juga pasti dibolehin. Kan buat mereka juga".


"Iya juga sih. Ya udah deh, sekali-kali boros buat beli ginian nggak papa kali Din" cengir Maya menunjukan deretan giginya.


Mereka pun akhirnya mendapatkan apa yang mereka cari. Masing-masing memilih dua jenis lingerie dengan warna berbeda. Walaupun agak canggung saat memilihnya, namun mereka sudah memantapkan hati akan memberi kejutan untuk suami masing-masing. Yah, demi keharmonisan rumah tangga, sesekali tak apalah.


Sementara itu, Dimas dan Niko yang sedang mengunjungi proyeknya di luar kota dikejutkan dengan sebuah pesan yang masuk di ponselnya. Tak lama kemudian, sebuah senyuman menghiasi bibir keduanya.


"Ngapain senyum-senyum?" Ucap Niko menahan senyumnya.


"Lo sendiri ngapain?" Tanya balik Dimas yang melihat Niko menahan senyumnya.


"Eh, jangan bilang lo dapet kiriman gambar dari adik lo".


"Lo juga?"


Mereka pun tertawa setelah saling menunjukan layar hp yang masih memperlihatkan foto yang dikirim Talita. Foto Dinda dan Maya yang sedang memilih-milih jenis pakaian haram yang pastinya akan mereka sukai.


"Waaaa,,, jahat si Talita. Jadi nggak surprize lagi kan" protes Niko dengan wajah pura-pura kesal.

__ADS_1


"Jadi pengen cepet pulang" ucap Dimas yang tentu saja disetujuii Niko.


__ADS_2