Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Hasil Tes


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya, Dinda kembali mengunjungi suaminya yang masih bekerja di kantor. Hari ini adalah jadwal untuk mengambil hasil tes kesuburan yang dilakukan Dimas beberapa waktu lalu. Dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya, Dinda menyapa karyawan Dimas yang juga melempar senyum ramah kepadanya.


Sekeluarnya dari lift, Dinda melangkahkan kakinya menuju ruangan sang suami. Gadis itu baru saja mengulurkan tangannya hendak membuka pintu saat Raya lebih dulu membukanya dari dalam ruangan Dimas.


Dinda yang tak menyangka akan ada yang keluar dari ruangan Dimas pun berjingkat kaget. "Astaghfirullah,,," pekik Dinda memegangi dadanya.


"Dinda? Sorry, kaget ya?" Raya membuka pintu lebih lebar menampakkan Dimas dan Niko yang sedang menoleh ke arahnya.


"Aduh mbak Raya, kaget akutuh" Dinda mengusap-usap dadanya yang masih terasa berdebar. "Mas Dim masih sibuk mbak?" Tanyanya sembari melangkah masuk.


Raya menoleh ke arah Dimas yang sudah berjalan ke arah pintu. "Nggak juga sih".


"Loh, baru aja mau aku jemput udah nyampe aja". Dimas menghampiri Dinda yang sudah masuk ke ruangannya. Laki-laki itu pun meraih Dinda ke dalam pelukannya, mencium kening dan pipi gadis itu sekilas. Membuat Dinda tersipu dibuatnya.


"Ehemmm" suara Niko menginterupsi.


"Udah Nik, ayok keluar. Mau jadi obat nyamuk lo?" Ujar Raya yang masih berdiri di depan pintu.


"Nggak lah mbak" Niko beranjak berdiri dari tempat duduknya. "Gue juga bisa kali kaya gitu. Nggak usah pamer" ucap Niko saat melewati Dimas yang masih memeluk istrinya.


"Siapa juga yang pamer". Balas Dimas sembari menatap Niko dan Raya yang keluar dari ruangannya.


"Mas Dim ih, nggak malu apa?" Ucap Dinda begitu tinggal mereka berdua di ruangan itu.


"Ngapain malu. Istri sendiri juga"


Cup


Cup

__ADS_1


Sebuah kecupan bertubi mendarat di pipi dan bibir Dinda.


"Ck, iiihhh jorok ah" pekik Dinda merasakan basah pada bekas kecupan Dimas di pipinya.


Dimas tergelak melihat ekspresi sang istri yang mengusap-usap pipinya sembari memasang wajah kesal. Ia pun menuntun Dinda untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Udah makan siang?"


"Udah tadi di kampus".


"Kamu tunggu bentar ya. Mas mau beresin ini dulu" ucap Dimas yang sudah berada di balik mejanya sembari merapikan berkas-berkas di atas mejanya.


Dindapun hanya mengangguki ucapan suaminya itu dengan posisi yang masih duduk di sofa.


Siang ini mereka memang berencana untuk mengunjungi dokter Harry bersama-sama dari kantor Dimas. Selesai kuliah, Dinda menyusul Dimas yang masih berada di kantornya dengan taksi yang dipesannya. Sebenarnya Maya yang sekarang sudah membawa mobil sendiri bisa saja mengantarnya. Namun ia tak mau merepotkan sahabatnya itu karena jarak apartemen Niko yang cukup jauh dari kantor.


"Sayang, aku kok deg-degan ya" ucap Dimas begitu menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit. Sesekali laki-laki itu memegangi dadanya yang terasa berdebar.


Dinda dan Dimas sudah duduk di depan meja dokter Harry. Raut cemas tercetak jelas di wajah pasangan suami istri itu, saat sang dokter dengan seksama mengamati kertas yang berada di tangannya.


"Ehemmm,,," suara deheman sang dokter membuat kedua sejoli itu semakin menajamkan pendengarannya untuk menyimak apa yang akan disampaikan.


"Kuantitas spermanya cukup banyak" ucap dokter membuka penjelasan. Ada pandangan tak enak yang dokter Harry lemparkan untuk pasangan suami istri di depannya yang sudah terlihat tak sabar menanti penjelasan selanjutnya.


"Ada berbagai macam gangguan yang menyebabkan ****** tidak dapat membuahi sel telur. Tapi semua gangguan tersebut secara medis masih bisa diatasi selagi masih ada ****** dalam semen". Lanjut dokter mengamati reaksi dari pasiennya.


"Bisa diperjelas dokter?" Ucap Dimas tak sabar.


"Kandungan ****** dalam semen anda memang cukup banyak untuk memenuhi syarat terjadinya pembuahan". Dokter menghela nafas pelan. "Tapi kondisi ****** yang keluar sebagian besar dalam kondisi mati. Bahkan, jumlah yang hidup jauh dari kata baik untuk sebuah proses pembuahan. Kondisi ini dikenal dengan necrozoospermia. Dan yang terjadi pada anda termasuk necrozoospermia jenis berat. Karena jumlah ****** yang mati lebih dari 80% dari keseluruhan kandungan ****** yang terdapat dalam semen".

__ADS_1


Deg


Bagai dihantam batu besar di dadanya, Dimas merasa seolah tak ada lagi pasokan oksigen di sekitarnya. Sesak dan nyeri menghunjam dada. 'Mati' hanya kata itulah yang menjadi fokus pendengarannya. Selebihnya tak ada lagi penjelasan dokter Harry yang benar-benar masuk ke telinganya.


****** yang keluar sebagian besar dalam kondisi mati. Mati? Ulangnya dalam hati.


"Tapi masih ada harapan untuk sembuh kan dok?" Tanya Dinda setelah lebih dulu menguasai keterkejutannya.


"Seperti yang saya sampaikan tadi, semua masih bisa diperbaiki selama masih ada ******. Yakinlah pada kuasa tuhan. Memang harapannya kecil, tapi selagi masih ada harapan, bukankah itu masih lebih baik?" Dokter menatap Dimas yang nampak tak fokus dengan penjelasannya.


Dinda menggenggam erat tangan suaminya untuk sekedar menyalurkan kekuatan yang ia punya. Dilihatnya wajah yang selalu menatapnya penuh cinta itu kini terdiam, pandangannya kosong dan tangannya, ah terasa dingin dan berkeringat.


"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya dok?" Ucap Dinda lirih.


"Kita akan melakukan pemeriksaan terlebih dulu untuk mengetahui penyebabnya. Setelah itu barulah kita menentukan untuk langkah pengobatan yang tepat. Normalnya, beberapa orang yang mengalami kondisi ini didapati tak lebih dari 30% ****** yang mati. Tapi pada Dimas ada sekitar 80% lebih jumlah ****** yang mati. Dan itu sudah jauh di atas batas normal. Jujur kondisi yang dialami Dimas ini termasuk kejadian langka. Bahkan, sampai saat ini belum ditemukan penyebab pasti terjadinya kondisi seperti ini. Banyak hal yang masih menjadi perkiraan sebagai penyebab, diantaranya pola hidup yang tidak sehat, gangguan pada testis dan bahkan ada yang disebabkan karena adanya antibodi yang menyerang ****** itu sendiri. Semua masih belum bisa dipastikan sebelum kita melakukan pemeriksaan lebih lanjut". Ujar dokter panjang lebar. Namun tak sedikitpun yang ditangkap oleh telinga Dimas. Laki-laki itu seolah sedang menyelami pikirannya sendiri.


Dinda yang lebih bisa menguasai perasaannya lebih banyak bertanya kepada dokter. Satu hal yang di tangkapnya dari penjelasan dokter adalah 'masih ada harapan'. Dan hal itulah yang membuatnya tenang. Walaupun disampingnya, nampak suaminya itu masih terlihat shock dengan kenyataan yang barusan didengarnya, Dinda berusaha untuk tetap terlihat biasa saja untuk suaminya.


Setelah mendapat imformasi yang ingin didengarnya, Dinda pun mengakhiri pertemuannya dengan dokter Harry. Beranjak berdiri, gadis itu menyambut uluran tangan dari sang dokter.


"Berdoa saja, selagi masih ada harapan, sekecil apapun itu, bukankah sudah cukup untuk membuatnya menjadi sebuah keajaiban". Pesan dokter menguatkan. "Yakinlah, tidak ada yang tidak mungkin dengan kuasa tuhan".


"Terima kasih dok" Setelah melepas jabatan tangan sang dokter, Dinda menatap suaminya yang masih duduk dan sibuk dengan pikirannya sendiri. "Mas,,," panggil Dinda meletakkan tangannya di pundak Dimas.


Dimas yang tersadar dari lamunannya pun menoleh menatap Dinda dengan tatapan kagetnya. "Hm?"


"Ayok kita pulang".


"Ah,,, iya" Dimas beranjak berdiri. Entah apa yang dipikirkannya, laki-laki itu langsung saja berbalik keluar ruangan dokter tanpa menyalami sang dokter yang menatapnya iba.

__ADS_1


Dinda yang melihatnya pun hanya menatap dokter Harry dengan tatapan meminta maaf. Ia tahu, kondisi suaminya sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Dimas menghentikan mobilnya di halaman rumah Sanjaya. Selama perjalanan pulang, tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutnya. Bahkan, Dinda yang beberapa kali mengajaknya berhenti di kedai eskrim pun dihiraukannya. Dunianya seakan berhenti saat dokter Harry menjelaskan hasil pemeriksaannya tadi. Bagaikan rekaman yang diputar berulang-ulang, kata-kata sang dokter masih saja memenuhi kepalanya. Rasa takut dan juga kecewa mengisi relung hatinya.


__ADS_2