Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Kencan


__ADS_3

"Kita mau kemana sih mas?" Tanya Dinda yang sudah duduk di mobil bersama Dimas.


"JJS" jawab Dimas yang terlihat fokus menyetir.


"Jalan-jalan sore?"


"Naaahhh,,, tuh tau"


"Kok nggak bilang dulu sih. Mana Dinda pake daster kaya gini" sungut Dinda.


"Emang kenapa? Cantik kok" puji Dimas yang membuat Dinda merona. "Kita ke apartemen bentar ya. Mas mau mandi dulu"


"Iya. Tapi kita mau jalan-jalan kemana mas?" Tanya Dinda penasaran.


"Emm,,, kamu maunya kemana?"


"Kalau nonton boleh nggak? Ada film baru soalnya"


"Boleh"


"Emm,,, apa Dinda boleh ngajak Maya? Dinda udah janji mau nonton film ini bareng Maya. Kan nggak enak kalau ketahuan Dinda nonton duluan sama mas".


Yah Din, nggak bisa apa berduaan aja. Aku juga kan mau kencan ma kamu. Masa iya ngajak Maya sih. Hhhh,,,


"Nggak boleh ya?" Tanya Dinda yang mendengar helaan nafas Dimas.


"Ohhh,,, boleh kok. Trus kita jemput Maya sekarang?"

__ADS_1


"Kita jemput Maya nanti aja. Dia pasti juga belum siap-siap. Biar Dinda telfon dia dulu"


"Oke"


Dinda menghubungi Maya dan mengutarakan maksudnya yang tentu saja disambut antusias oleh sahabatnya itu. Lain halnya dengan Dimas, laki-laki itu memutar otaknya mencari cara agar niat kencan dengan istrinya itu terlaksana tanpa membuat Dinda kecewa. Dan seperti mendapat sebuah pencerahan, bibirnya pun menyunggingkan senyum tatkala sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya. Ia melajukan mobilnya menuju apartemen dengan senyum jahil menghiasi wajahnya.


Dinda keluar dari apartemen Dimas setelah menjalankan kewajibannya terlebih dulu. Dimas meraih tangan Dinda yang berjalan beberapa langkah di belakangnya. Dinda pun tersentak melihat Dimas yang tiba-tiba menggenggam erat tangannya.


"Mas ngapain?"


"Aku mau jalan seperti ini mulai sekarang" ucap Dimas mengangkat tangannya yang sudah terajut erat dengan jemari Dinda.


"Malu mas"


"Kita kan suami istri kenapa mesti malu"


"Ehem,,, ehem,,," terdengar seseorang berdehem yang tentu saja menghentikan perdebatan kecil pasangan itu.


"Gue ganggu nih?" Tanya Niko pura-pura.


"Eh enggak kok. Mas Niko ada urusan sama mas Dim?" Tanya Dinda sembari berusaha melepas genggaman tangan Dimas. Tapi tentu saja Dimas tak semudah itu melepasnya.


"Nggak juga. Kalian mau pergi?"


"Kita mau nonton Nik. Lo mau ikut?" Dimas menimpali


"Waaahhhh,,, boleh. Mumpung lagi nganggur nih"

__ADS_1


"Ya udah ayok"


Dimas pun berjalan dengan menggandeng tangan Dinda yang masih digenggamnya. Sedangkan Niko mengikuti mereka dari belakang sembari menghela nafas kasarnya. Ya, Dimas memang sengaja menghubungi Niko untuk membantunya menghandel Maya yang tentunya akan mengganggu kencan pertamanya.


Mereka melajukan mobilnya untuk menjemput Maya ke kostannya terlebih dulu. Seperti rencana Dimas, Niko mengajak Maya satu mobil dengannya yang tentu saja di setujui oleh Maya karena alasannya adalah untuk memberi kesempatan kepada Dimas agar lebih dekat dengan Dinda.


Maya sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan Niko yang selalu mencoba menarik perhatiannya. Baginya bisa nonton gratis saja sudah lebih dari cukup. Ditambah lagi melihat sahabatnya yang sudah lebih dekat dengan suaminya itu membuatnya ikut merasakan kebahagiaan Dinda. Ia tau betul bagaimana penderitaan dan juga perjuangan Dinda untuk bisa menonton bersama suaminya seperti saat ini. Dan itu menitikkan sedikit rasa bersalah di hatinya yang telah mengganggu kencan pertama sahabatnya itu. Tapi cuma sedikit sih, toh Dinda sendiri yang ngajak kan. Tau deh perasaan Dimas, hehehe,,,


Dimas membimbing tangan istrinya keluar dari theater. Bahkan selama menonton tadi, Dimas tak sedikitpun melepas genggamannya pada tangan Dinda yang membuat gadis itu sedikit kesal dibuatnya. Bagaimana tidak, Dinda menjadi kesulitan menikmati popcorn dan juga minuman yang sudah dibelinya hanya karena sikap Dimas yang sedikit kekanakan menurutnya. Tapi Dimas sendiri seolah tak menghiraukan raut keberatan dari wajah istrinya itu. Ia hanya melakukan apa yang ingin dilakukannya. Yaitu berkencan dengan menggenggam tangan pujaanya itu.


"Kamu nggak mau belanja dulu?" Tanya Dimas saat melewati gerai pakaian wanita.


"Nggak!" Sewot Dinda.


"Loh kok gitu sih"


"Abisnya mas Dim sih. Dari tadi ngapain coba gini terus" Dinda mengangkat tangannya yang masih terpaut dengan Dimas.


Dimas menghentikan langkahnya dan otomatis Dinda pun mengikutinya. "Emang kenapa? Kamu malu jalan sama mas?"


"Bukan gitu mas. Liat tuh pada ngomongin kita. Mana Dinda ke sini pake daster lagi"


Dimas memperhatikan orang-orang yang berjalan melewatinya. Dan benar saja, gadis-gadis itu terlihat saling berbisik saat melihat penampilan Dinda yang hanya mengenakan gamis rumahan biasa sedangkan Dimas terlihat modis dengan jins belel dan juga kaos putihnya.


"Nggak usah dipikirin. Mau pake apa aja mas tetep sayang kok. Yuk kita makan aja, kamu lapar kan?" Dinda mengangguk tersipu.


Dimas menarik tangan Dinda menyusul Niko dan Maya yang sudah berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Niko dan Maya sudah lebih dulu sampai di parkiran sebelum Dimas. Sedari tadi mereka hanya Diam karena Niko sudah kehabisan bahan untuk mengajak Maya bicara. Ya, gadis itu terlihat cuek saat niko mengajaknya berbicara. Setiap ucapan Niko hanya dibalasnya singkat sembari memainkan hpnya. Niko sendiri sampai frustasi dibuatnya.


Sesampainya Dimas di parkiran mereka pun sepakat untuk makan malam di kafe milik Devan. Seperti sebelumnya Maya masih satu mobil dengan Niko dan Dimas dengan Dinda. Bersama-sama mereka melajukan mobilnya menuju kafe milik Devan.


__ADS_2