Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak kepulangan Adinda ke rumahnya. Selama itu pula Dinda selalu mengurung diri dikamarnya. Beberapa tetangga mengetahui Adinda dirawat dirumah sakit saat piknik. Sebagian penasaran dengan keadaan Adinda dan bahkan berniat untuk menjenguknya. Berkali-kali Bu Atikah harus merasa tidak enak karena menolak niat baik mereka. Hal ini semata karena Adinda yang tidak menghendakinya. Bu Atikah pun memakluminya, ia tidak peduli dengan pikiran-pikiran buruk tentang putrinya yang berkembang di lingkungannya itu. Baginya kenyamanan putrinya adalah hal yang paling penting saat ini.


Sore ini Dinda bersedia menerima kunjungan dari tiga sahabatnya. Maya, Dian dan Nina saat ini sudah berada di kamar Adinda. Mereka sepakat tidak akan membahas kejadian saat piknik. Di dalam kamar sederhana itu mereka menghabiskan waktu dengan menonton drama Korea kesukaan mereka.


Dinda sendiri tidak begitu menikmati acara itu. Pikirannya kembali menerawang tatkala melihat adegan pada film yang ditontonnya. Adegan seorang wanita yang berniat bunuh diri karena pria yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab. Seketika dadanya berkecamuk memikirkan seandainya benar ia hamil. Pikirannya kembali berkelana membayangkan pernikahan yang telah disetujuinya. Di satu sisi dia tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu, di sisi lain Ia juga tidak mau menambah dosa dengan bunuh diri atau bahkan menggugurkan kandungannya jika ia benar hamil.


''Ini nih May yang aku bilang mirip si Guntur'' Nina menunjuk layar laptop di depannya. "Noh lihat, mirip banget kan?"


Seketika Dinda tersadar mendengar nama Guntur di telinganya.


"Apaan sih Nin, gantengan Kim Soo Hyun kemana-mana kali!"


Dian yang melihat ekspresi Dinda pun meremas tangan Maya memberi isyarat untuk diam.


"Apaan sih Yan?" ucap Maya mengikuti arah manik mata Dian.


Mereka pun melihat ke arah Dinda merasa bersalah.


"Maaf Din" ucap Nina


"Kenapa?"


"Em, kamu jadi inget Guntur kan?" jawab Dian ragu-ragu.


''Gak papa, sampaikan terimakasihku sama dia ya. Maaf kemarin aku gak bisa nemuin dia''.

__ADS_1


"Iya, dia pasti ngerti kok" hibur Maya.


Setelah menyelesaikan film yang ditontonnya, mereka bertiga pun pamit. Meninggalkan Dinda yang kembali bergulat dengan pikirannya sendiri.


"Din,"


Suara bu Atikah membuyarkan lamunannya.


"Iya buk"


Bu Atikah masuk mendekati putrinya.


"Kamu senang kan temanmu datang?"


Dinda mengangguk mengiyakan. "Buk,"


"Dinda mau nikahnya sekarang aja"


Bu Atikah tersentak mendengar permintaan putrinya yang tiba-tiba.


Dengan mata yang sudah basah dengan air mata, Dinda melanjutkan ucapannya. "Dinda takut buk. Bagaimana nanti kalau Dinda hamil? bukankah Dinda harus punya suami kalau beneran itu terjadi?"


"Kamu yakin nak? bagaimana kalau ternyata kamu nggak hamil?"


"Dinda ngga tau. Pokoknya Dinda mau nikahnya sekarang. Dinda takut buk" jawab Dinda semakin terisak.

__ADS_1


Bu Atikah benar-benar melihat ketakutan di wajah putrinya. Ia pun memeluk dan mengusap lembut kepala putrinya itu.


"Iya nak, terserah kamu. Tapi apa kamu bisa kalau nanti ketemu sama Dimas?"


"Dinda nggak mau ketemu dia"


"Maksud kamu?" bu Atikah melepaskan pelukannya menatap wajah Dinda.


"Yang penting kan nikah buk. Dinda nggak harus ada di sana kan?"


"Iya nak, tapi setelah nikah gimana?"


"Nggak tau, pokoknya Dinda mau dia tanggung jawab. Dinda maunya nikah sekarang. Dinda takut buk, Dinda takut kalau,,,"


"Sssttt,,,sudah nak. jangan berpikiran macam-macam. Baiklah kalau itu mau kamu. Nanti ibu suruh kak Nisa buat menghubungi keluarga Dimas''.


Bu Atikah kembali memeluk Adinda yang masih menangis. Ia tak tega melihat putrinya yang biasanya ceria itu kini terlihat sangat terpuruk.


Malam harinya, di ruang keluarga bu Atikah membicarakan tentang keinginan Dinda dengan pak Sholeh dan Anisa. Pak Sholeh yang mendengar kondisi Dinda dari istrinya segera menyuruh Anisa untuk menghubungi keluarga Sanjaya. Setelah telepon tersambung, pak Sholeh mengambil alih telepon dan mengutarakan maksudnya.


Di rumah keluarga Sanjaya


Pak Lukman yang baru saja menerima telepon dari pak Sholeh menyuruh bu Ambar untuk memanggil putranya. Mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga membicarakan rencana pernikahan Dimas.


Dimas yang baru saja mengetahui rencana pernikahannya di majukan pun nampak terkejut. Terlebih ia juga diberitahu kalau pernikahan ini hanya akan ada dirinya yang melakukan akad tanpa istri disampingnya. Terbersit keinginan untuk menolak rencana yang mendadak tersebut. Namun dengan segera akal sehatnya mengambil alih. Ia pun meng 'iya' kan saja apa yang diucapkan orang tuanya itu.

__ADS_1


Pagi harinya keluarga pak Sholeh di sibukkan dengan acara pernikahan Adinda yang akan dilakukan siang nanti. Karena waktu yang singkat tidak memungkinkan untuk melakukan persiapan pernikahan secara resmi, rencananya pernikahan akan dilakukan secara sirri. Walaupun begitu, pak Sholeh berniat mengurus segala sesuatunya setelah akad nikah selesai. Bagaimanapun juga ia tetap menginginkan putrinya menikah secara resmi di mata agama dan negara.


__ADS_2