
Dinda dan Maya sedang berada di kafe tempat Talita merayakan ulang tahunnya. Mereka memilih meja terpisah dari rombongan teman-teman Talita karena merasa sungkan dengan seniornya itu. Dinda sendiri nampak sangat menikmati suasana itu. Suasana kafe yang nyaman dengan pertunjukan musik akustik yang menambah kesan romantis benar-benar disukainya.
Dari tempat ia duduk nampak Talita yang terlihat bahagia sedang memandu sebuah game, sesekali melambaikan tangannya mengajak bergabung.
"Heiii,,, ngapain sih pada di sini?" Tanya Andra menghampiri. "Ayok gabung sana aja".
"Kita di sini aja kak" jawab Maya sungkan.
"Ya udah kalau gitu gue juga di sini" sahut Andra menarik sebuah kursi dan mendudukinya.
"Loh kok malah duduk di sini sih" protes Maya.
"Boleh kan Din?" tak menanggapi Maya, Andra pun melihat ke arah Dinda yang tersenyum mengiyakan.
Mereka pun asik mengobrol. Maya dan Dinda yang aslinya memang ceplas-ceplos itu pun mudah saja akrab dengan Andra yang baru beberapa waktu dikenalnya. Ya walaupun memang Maya lah yang mendominasi percakapan mereka.
Dua orang laki-laki masuk kafe dimana Talita sedang merayakan ulang tahunnya. Mereke menghentikan langkahnya tak jauh dari rombongan Talita yang terlihat sangat heboh karena game yang mereka lakukan.
"Rame bener kafe lo Van" ucap Niko memperhatikan sekitar.
"Kayaknya ada yang lagi ngerayain ulang tahun" jawab Devan melanjutkan langkahnya.
"Gue duduk sini aja deh Van" ucap Niko sedikit keras karena Devan yang sudah berjalan menjauh.
Tak lama seorang laki-laki menyusul masuk menghampiri Niko. Ia menarik kursi dan menjatuhkan dirinya tepat di depan Niko.
"Tumben berisik?" Ucap Dimas melihat sekilas keramaian yang berada tak jauh darinya.
"Iya, mana ceweknya cakep-cakep lagi".
"Iket tuh mata, ntar copot lagi!" ucap Devan meraup wajah Niko.
"Apaan sih Van!"
"Duduk sana aja yuk Dim, di sini rame" Devan menunjuk ruangan dengan sekat kaca yang berada di samping meja kasir.
__ADS_1
Dimas baru saja akan melangkahkan kakinya, namun ucapan Niko menghentikan langkahnya.
"Eh Dim, itu adek lo bukan?" ucap Niko menunjuk salah satu gadis yang terlihat menonjol karena mengenakan topi ulang tahun di antara teman-temannya.
Dimas pun menoleh ke arah yang dimaksud dan menemukan sosok Talita di sana. "Iya bener".
"Wah, bisa kebetulan gini. Gue malah nggak tau itu adek lo" ucap Devan yang memang tidak pernah bertemu Talita. Sedangkan Niko, ia beberapa kali melihat Talita mendatangi apartemen Dimas. Dan terkadang juga ke kantor Dimas bersama mamanya.
Menyadari Talita yang merayakan ulang tahunnya di kafe Devan, Dimaspun menyapukan pandangannya mencari sosok Dinda yang pastinya juga berada di tempat itu. Dan benar saja, hanya selang dua meja dari tempatnya berdiri, seorang gadis berkerudung merah muda juga sedang menatap ke arahnya. Sejenak Tatapan mereka beradu, hingga akhirnya Dimas yang lebih dulu mengalihkan pandangannya. Dimas yang merasa akan mengganggu Dinda dengan keberadaannya pun segera melangkahkan kakinya mendahului dua sahabatnya menuju tempat yang tadi di tunjuk oleh Devan.
"Din, lo kenapa bengong gitu sih?" ucap Maya menyadarkan Dinda.
"Em,,, eh,,, a,,,aku ke toilet dulu yah" jawab Dinda gugup kemudian berlalu meninggalkan Maya dan juga Andra.
Maya yang merasa aneh dengan sahabatnya itupun segera menyusul Dinda meninggalkan Andra yang masih terbengong di tempatnya.
"Pada kenapa sih?" Ucap Andra membalikkan badannya melihat arah pandangan Dinda sebelumnya. Dilihatnya Niko dan Devan yang hendak meninggalkan mejanya.
Niko sama Devan? Apa mungkin tadi Dinda ngeliat Dimas? Tapi kenapa sikap Dinda kaya ketakutan gitu?
"Lo kenapa Din?" Maya mendekat ke arah Dinda.
"Aku gak tau May, padahal dari kemaren aku udah nyiapin diri mau ketemu dia, tapi masih aja kaya gini" ucap Dinda menunjukkan tangannya yang gemetar.
"Lo ngeliat Dimas?" tanya Maya yang di jawab anggukan oleh Dinda. Maya pun memeluk Dinda iba.
"Sabar Din, mungkin kamu kaget aja tadi" Dinda mengangguk di pelukan Maya. "Beneran tadi Dimas yang dateng?" Maya melepaskan pelukannya dan menatap Dinda.
"Iya, dan dia cuek aja tadi ngeliat aku" Maya mengerutkan keningnya mendengar ucapan Dinda.
"Trus kamu mau dia dateng nyamperin kamu gitu?"
"Ehh?"
"Kok kamu kaya kecewa gitu Dimas cuek?"
__ADS_1
Dinda pun berpikir sejenak mencerna ucapan Maya.
Iya juga yah. Kenapa juga aku kesel ngeliat dia cuek kaya gitu. Biasanya juga aku yang nyuekin dia. Tapi seenggaknya kan dia bisa nyapa atau minimal senyum gitu.
"Heiii,,, malah bengong!" Maya menepuk pelan pipi Dinda.
"Apaan sih May?" Dinda memegangi pipinya.
"Tapi aneh juga sih Din, kamu bahkan udah pernah makan malam bareng dia kan? Kamu waktu itu juga gemetar kaya gini?"
"Emm,,, awalnya aja sih. Setelah itu biasa aja sampai pulang kan pingsan akunya"
"Naahhh,,, itu"
"Kenapa?"
"Aku fikir kamu belum terbiasa aja dengan kehadiran Dimas. Mungkin, kamu terlalu kaget tadi tiba-tiba ketemu dia".
"Iya juga sih"
"Kamu beneran mau sembuh gak sih?"
"Ya iya lah, siapa juga yang mau kaya gini. Ngeliat orang kaya ngeliat setan aja"
"Kita keluar aja yuk. Gak enak ngobrol di sini" Maya pun mengajak Dinda duduk di kursi yang berada di bagian luar kafe.
"Kamu udah ngelakuin saran psikiater kamu belum?" Ucap Maya melanjutkan kalimatnya.
"Aku masih berusaha May. Aku juga gak tau udah maafin dia atau belum. Yang pasti aku sudah ikhlas menerima kejadian itu sebagai bagian dari garis takdirku"
"Trus pernikahan kamu? Apa kamu juga sudah menerimanya?"
"Kalau itu gak perlu di tanya lagi. Aku gak pernah ya main-main sama sesuatu yang sakral. Lagian kalau aku gak terima udah dari dulu aku minta pisah. Toh aku gak hamil juga kan?"
"Iya sih. Trus bagaimana dengan Dimas?"
__ADS_1