
Kediaman Alexander.
Vila baru saja sampai kerumahnya. Vila pun masuk kedalam dan menghampiri Bundanya yang sedang bersantai di Sofa sembari menonton Tv.
"Assalamu'alaikum Bunda" ucap Vila sembari duduk disamping Bundanya.
"Wa'alaikumsalam sayang, kamu habis dari mana nak?" ucap Bunda sembari mengusap pelan kepala Putrinya.
"Vila habis dari Caffe Bun, maaf Bun Vila gak bisa temenin Bunda makan siang dirumah" ucap Vila sembari menatap Bundanya.
"Gapapa sayang, tadi Bunda ditemenin sama Ayah kamu kok" ucap Bunda sembari menatap Vila dan tersenyum.
"Bunda... Emm Vilaa" ucapan Vila terbata bata.
"Kenapa sayang ngomong aja! Apa kamu ingin bahas perihal perjodohan kamu dengan anak sahabat kami?" ucap Bunda sembari menatap Vila.
"Iya Bun, Vila sudah memutuskan bahwa Vila akan menuruti apa permintaan Ayah. Tapi Vila ada satu syarat" ucap Vila serius.
"Syarat apa itu sayang?" ucap Bunda sembari menatap Vila.
"Vila mau pernikahan Vila sama anak sahabat Mami itu public jangan sampai tahu! Lagian yang datang harus keluarga inti sama sahabat Vila aja" ucap Vila menatap Bundanya lekat lekat.
__ADS_1
"Bunda sih setuju aja sayang! Cuma kamu harus ngomong sendiri ke Ayah ya nak" ucap Bunda sembari mengusap pelan kepala Putrinya.
"Yaudah kalau gitu, Vila istirahat dulu ya Bun" ucap Vila sembari beranjak dari duduknya.
"Iya sayang! Nanti Bunda panggilin kalau udah waktunya makan malam ya nak" ucap Bunda sembari tersenyum menatap Vila. Vila hanya mengangguk sembari berjalan meninggalkan Bundanya.
Kini Vila sedang berada didalam kamar. Dan sedang duduk dibalkon kamar sembari memikirkan putusan yang telah ditetapkannya.
"Apa Gue harus menikah sama orang yang gak Gue kenal sama sekali" gumam Vila sembari menatap langit yang senja. Meratapi nasibnya yang tidak sesuai dengan ekspetasinya.
"Haa~" menghela nafas. "Pusing Gue! Mending Gue tidur" gumam Vila sembari beranjak dari duduknya. Dan langsung membaringkan badannya dikasur empuknya. Tak lama dia pun tertidur.
***
Setelah Denis pergi meninggalkan Caffe, Denis langsung menuju ke Kantor untuk membahas perihal perjodohan. Setelah menempuh perjalanan ± 15 menit Denis telah sampai dikantor. Setelah memarkirkan mobilnya, Denis pun langsung masuk kedalam kantor.
"Selamat Siang Pak" sapa Karyawan kantor sembari tersenyum. Denis hanya mengangguk, lalu melanjutkan jalannya.
"Selamat Siang Pak, tadi Pak Bagas menyampaikan kepada saya, setelah Bapak datang. Bapak diminta keruangannya" ucap Sekretarisnya sembari tersenyum centil.
"Baiklah Terimakasih" ucap Denis datar sembari berjalan meninggalkan Sekretaris centilnya itu.
__ADS_1
Setelah mengetuk pintu Ruangan Papinya, dan sudah dipersilahkan masuk. Denis langsung masuk sembari duduk didepan Papinya.
"Ada apa Papi manggil Denis?" ucap Denis sembari menatap Papinya.
"Apa kamu sudah memutuskan perihal yang kita bahas semalam?" ucap Papi sembari menatap Denis.
"Haa~" menghela nafas. "Sudah Pi, Denis sudah memutuskan untuk menikah dengan anak dari sahabat Papi. Tapi... " ucapan Denis terpotong karena Papinya sudah duluan memotongnya.
"Tapi apa nak? Pasti Papi akan mewujudkan apa kata kamu. Karena kamu sudah menyetujui permintaan Papi" ucap Papi sangat antusias.
"Pernikahan kami tidak boleh dibuat acara besar besaran! Denis mau yang datang hanya keluarga inti dan sahabat Denis saja" ucap Denis sembari menatap Papinya.
"Baiklah nak kalau itu yang kamu mau, Papi akan membicarakan hal ini dengan sahabat Papi" ucap Papi sembari tersenyum.
"Baiklah kalau gitu! Denis kembali keruangan dulu ya Pi" ucap Papi sembari beranjak dari duduknya. Dan berlalu meninggalkan Ruangan Papinya. Papi hanya mengangguk sembari tersenyum senang.
"Haa~" menghela nafas. "Gue udah mutusin ini, jadi Gue harus siap" gumam Denis sembari memejamkan matanya.
"Ah udah sore juga, mending Gue balik aja" gumam Denis sembari beranjak dari duduknya.
-
__ADS_1
-
-