
Kini kami telah berada diHotel termegah diBali. Aku segera menuju kamar mandi untuk merilexkan tubuhku yang gerah ini.
Sore menjelang malam, aku berdiri dibalkon kamar, sambil menanti matahari terbenam. Tiba tiba aku merasa ada yang memelukku dari belakang. Jantungku kembali berdebar tidak karuan.
"Astagaa... Kak, ngagetin aja deh" kataku mencoba melepaskan tangannya dari perutku. Aku merasa risih saat dia mengusap usap perut datarku. Namun, dia semakin erat memelukku dan mencium ceruk leherku.
"Kak geli ih" ujarku merasa geli. Dia langsung membalikkan tubuhku menjadi menghadapnya. Kini jarak wajah kami hanya tinggal beberapa centi saja. Bahkan wangi mint nafasnya sangat masuk kedalam hidungku.
"Apa kamu tidak ingin menjadi seorang ibu?" tanya nya menatap lekat bola mataku.
"Pertanyaan macam apa itu? Seorang wanita pasti sangat ingin menjadi seorang ibu! Apalagi seorang anaklah yang akan menjadi pelengkap dalam rumah tangga" ucapku cepat.
"Kalau begitu, apa aku boleh meminta hakku?" tanyanya.
Deg... jantungku berdegup kencang. Aku terdiam, tak berani menatapnya. Jujur saja, aku belum siap jika harus memberikan nya sekarang. Apalagi status kami hanya sekedar suami istri sementara.
"Baiklah, diammu aku anggap kau menolaknya! Tidak apa apa" ucapnya dengan nada kecewa sambil berjalan masuk ke kamar. Aku masih diam tanpa mencegahnya.
__ADS_1
'Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan' batinku selalu terngiang ngiang dengan pertanyaan itu.
Aku tau, jika menolak suami adalah dosa besar seorang istri, tapi aku harus bagaimana? Aku takut! Sangat takut. Apalagi dia hanya menginginkan seorang anak dariku. Setelah aku melahirkan anaknya, dia pasti akan menceraikanku.
Sanking sibuk bergelayut dengan fikiranku, ternyata hari pun sudah malam. Kak Ade membuyarkan lamunanku dengan suara dinginnya.
"Apa kau tidak ingin masuk? Apa kau tetap ingin diluar dimalam hari begini" teriaknya dari pintu balkon. Aku tersentak kaget, dan ternyata memang benar, malam hari telah tiba.
"I-iya kak, aku akan masuk" ucapku dengan gugup sambil berjalan masuk.
-------------------------------------------------------------
Prov Adelard.
Aku sangat kecewa saat dia mengatakan kalau dia belum siap mengandung anakku. Kenapa, kenapa dan kenapa? Pertanyaan itu selalu berputar putar diotakku. Padahal aku sudah meminta maaf, atas semua sikapku pertama kali kami dijodohkan. Dan dia juga sudah memaafkannya. Tapi kenapa saat aku meminta hakku dia malah menolak.
"Apa jangan jangan dia mencintai sahabatnya yang bernama Reyhan itu" fikirku.
__ADS_1
Arghh... Aku frustasi, dan aku lebih memilih untu mandi terlebih dahulu. Hari sudah sangat petang, malam pun sudah tiba, tapi kenapa sampai sekarang dia belum masuk fikirku. Aku berjalan kearah pintu, aku melihat dia masih melamun. Entah memikirkan apa, mungkin dia memikirkan perihal permintaanku. Jujur saja, aku sangat merasa bersalah. Tapi, apa boleh buat! Aku terlanjur kecewa. Dia selalu saja menolakku. Padahal aku kan laki laki normal, apalagi aku sudah beristri. Tentu saja aku butuh seseorang untuk melampiaskan hasratku.
***
Selang 20 menit, aku telah selesai mandi dan mengenakan pakaianku. Segera aku keluar, dan aku tidak mendapati suamiku.
"Kemana dia?" gumamku sambil berjalan kebalkon kamar. Aku mengira dia ada disana, namun nihil dia tidak ada disana. Aku tidak ambil pusing dan berjalan menuju meja rias.
Ceklek... pintu terbuka dan memperlihatkan sosok yang aku cari cari.
"Kakak habis dari mana?" tanyaku memberanikan diri.
"Mesan makan malam" sahutnya dingin, dan duduk disofa sambil memainkan ponselnya kembali. Aku hanya bisa menghela nafas kasar.
-------------------------------------------------------------
Jangan lupa dukungannya. Like, komentar dan vote.
__ADS_1