Suamiku CEO Dingin

Suamiku CEO Dingin
Makan malam


__ADS_3

Malam hari, Kediaman Wijaya.


Seperti yang dikatakan sang mama kalau malam ini mereka akan makan bersama dengan calon istri nya.


"Yaudah yuk berangkat! Mereka juga udah otw kesana" ujar mama. Mereka pun keluar dari pekarangan rumah. Namun, Ade menggunakan mobilnya sendiri.


Restaurant xxx.


"Hai Lis, Vin, sorry telat" kata Vila sambil memeluk Lisa.


"Ah engga apa Vil, kita juga baru sampau kok. Ayo duduk" kata Lisa.


"Hai cantik, kamu Adel kan?" tanya Vila.


"Iya tant" jawab Adel sambil tersenyum.


"Oh iya anak kamu mana Vil?" tanya Lisa sambil celingak celinguk melihat sekitar.


"Lagi markirin mobil mungkin, dia itu memang lelet, sama kaya papa nya" kata Vila.


"Mama tu yang lelet" protes Denis.


"Maaf terlambat" uĵar Ade tiba tiba datang.


"Gapapa sayang, ayo duduk" perintah Lisa. Ade langsung duduk disamping Lisa.


'Apa ini ya, cewek yang bakal jadi calon istriku, dan berarti dia juga yang udah dijodohin sama aku waktu kecil" batin nya bertanya tanya.


'Apa dia yang bakal dijodohin sama aku? Ganteng sih tapi tampangnya nyeremin amat. Ah iya berarti dia dong temen masa kecil aku itu' batin nya bertanya tanya juga.


Karena asik bergelayut dengan fikiran masing masing, sampai tidak menyadari pesanan mereka pun tiba. Mama Vila langsung berdehem, membuyarkan lamunan mereka.


"Ekhemm... Kenapa gak dimakan?" dehem Vila menatap mereka secara bergantian. Sontak hal itu membuat mereka kaget.


"Ah i-iya tan" ujar Adel gugup, langsung melahap makanan nya yang sudah didepa nya.


Ade juga kaget, namun ia bisa menutupi rasa kagetnya dengan wajah datarnya. Mereka memang satu kampus, tapi tidak saling kenal. Hanya saja Adel yang terkenal dengan sikap ramah dan ceria nya, jadi ia hanya mengenali Ade sekilas karena Ade terkenal dengan sikap dingin dan cueknya. Tapi, tidak dengan Ade, ia hanya cuek dengan sekitarnya kecuali keluarganya.


Setelah selesai makan malam, Denis langsung membahas tentang pernikahan mereka.


"Jadi bagaimana Vin? Apa putrimu sudah menyetujuinya?" tanya Denis.


"Tentu saja Nis, dia harus setuju! Karena mereka telah dijodohkan dari kecil" jawab Kevin. "Bagaimana dengan putramu?" tanya Kevin balik.

__ADS_1


"Tentu saja dia juga harus setuju! Mereka adalah anak satu satu nya kita, lagian umur kita juga sudah menua. Dan aku sudah ingin memiliki cucu" jawab Denis semangat.


"Uhukk... Uhukk... " batuk Adel, saat ia sedang menikmati camilannya.


"Ya ampun sayang, pelan pelan dong" kata Vila sambil mengambilkan minum.


"Terimakasih tant" ujar Adel.


"Papa apaansi, nikah aja belum! Udah ngomongin cucu aja" kesal Ade.


"Loh memangnya kenapa, kalian sebentar lagi juga akan menikah! Dan wajar dong papa menginginkan cucu dari anak papa satu satu nya" jawab Denis santai.


"Iya sayang, yang dibilang papa kamu itu benar! Toh sebentar lagi kalian akan menikah juga" kata Vila.


"Sebentar lagi?" tanya Ade heran.


"Iya! Dua minggu lagi kalian akan melangsungkan pernikahan kalian, dihotel berbintang" kata Vila.


"Haaaaaa" kaget mereka berdua. Dan mereka langsung saling tatap.


"Emmm maaf nih tant, tapi apa itu gak terlalu cepat? Ah maksud Adel kami kan belum mengetahui karakter masing masing gitu" Adel mencoba menolak.


"Tidak sayang, lebih cepat lebih baik bukan? Lagian untuk masalah mengetahui karakter itu kan bisa setelah menikah nanti" jawab Vila dan diangguki oleh Lisa sambil tersenyum.


"Tidak ada penolakan!" kata Vila tegas.


"Fine, tapi pernikahan kami harus secara diam diam! Maksud Ade hanya keluarga inti saja yang hadir. Bagaimana?" ujar Ade. Mereka yang mendengar itu langsung saling pandang.


"Kenapa harus seperti itu nak? Bagus dong kalau pernikahan kalian banyak yang tau" kata Vila.


"Tapi tant, bener juga apa kata kak Ade soalnya kita juga baru kenal. Masa iya tiba tiba udah nikah aja! Nanti orang menganggap yang aneh aneh lagi, apalagi sama fans nya kak Ade, bisa bisa aku kena terkam deh dikampus" kata Adel.


"Baiklah sayang, pernikahan kalian akan dibuat secara diam diam" kata Vila pasrah.


"Yaudah kalau sudah sepakat ayo kita pulang" ujar Lisa.


"Yaudah yuk, Ade kamu anterin Adel ya" perintah Vila.


"Ah gaperlu tant, tadi kan Adel perginya bareng mama dan papa" kata Adel.


"Tapi maaf sayang, mama mau kencan dulu sama papamu! Udah lama juga kita gak kencan" kata Lisa sambil menggandeng tangan suaminya.


"Sama dong, Ade kamu harus anter Adel sekalian kalian saling berinteraksi dan mengenal satu sama lain" kata Vila.

__ADS_1


"Kita duluan ya sayang" kata Lisa, begitu juga dengan Vila.


Kini hanya tinggal mereka berdua, hati Adel mulai berdebar karena takut melihat ekspresi wajah Ade.


"Kalau mau ikut ayo! Kalau engga yaudah" ucap Ade sambil berjalan masuk ke mobilnya.


"Iya ikuttt" ucap Adel langsung masuk dan duduk kesamping kemudi Ade.


Didalam mobil suasana nya sangat hening, Adel yang bosan pun langsung membuka ponsel nya. Dilihatnya ada notifikasi dari Reyhan teman dekat nya dikampus.


"Hai Del, selamat malam" pesan Reyhan.


"Eh maaf lama bales Rey, soalnya habis keluar sebentar" balas Adel.


"Keluar kemana Del?" balas Reyhan.


"Kesupermarket beli camilan hehe" bohong Adel.


"Oh gitu, sekarang lagi apa Del?" tanya Reyhan.


"Lagi santai aja nih, liat bintang dari balkon kamar" bohong Adel.


Ade yang melihat Adel senyum senyum sendiri langsung bertanya.


"Lo kenapa nerima perjodohan ini? Atau lo memang sengaja nerima perjodohan ini" kata Ade menatap Adel tajam.


"Ehh" kaget Adel. "Maaf kak, aku udah coba buat nolak! Tapi orang tuaku gak ngebolehin. Alasannya karena aku dari kecil udah dijodohin sama kakak" jawab Adel takut sambil meletakkan ponsel nya.


"Gue ada syarat setelah kita menikah nanti" kata Ade.


"Syarat apa kak?" tanya Adel.


"Setelah menikah, kita gak boleh mencampuri urusan pribadi! Urus urusan masing masing. Dan ya gue gak bakal nyentuh lo! Karena kita nikah hanya untuk sementara, ingat Del gue udah mempunyai kekasih! Jadi lo harus tau diri" ucap Ade tajam.


"Deg... Deg.. Deg... " jantung Adel berdetak 2 kali lebih cepat. "Maksud kakak sementara apa?" tanya Adel dengan mata yang berkaca kaca.


"Kita menikah hanya karena dijodohkan bukan? Lagian aku hanya akan menjadi suami seutuhnya untuk kekasihku! Setelah dirasa aman, baru kita bercerai. Jadi jangan berharap lebih kau ingin menjadi nyonya Ade Wijaya" kata Ade.


Lagi lagi membuat jantung Adel berdetak lebih cepat. Apalagi saat mendengar kata cerai dari mulut Ade calon suaminya. Tak terasa air matanya menetes, dengan cepat ia menghapusnya sebelum Ade melihatnya.


"Tapi kak prinsipku hanya satu, sekali menikah dalam seumur hidup" kata Adel menahan tangisnya.


"Itu terserah lo! Intinya gue akan ceraiin lo saat waktu yang tepat itu sudah tiba" kata Ade. "Udah turun! Udah sampai" perintah Ade. Adel langsung turun dan berlari kerumahnya dengan menangis. benar saja apa kata orang tua nya, ternyata mereka sedang berkencan. Adel bersyukur karena tidak ada orang tua nya yang melihat ia menangis. Dengan segera ia menaiki tangg, untuk kekamarnya.

__ADS_1


Ade langsung menjalankan mobilnya tanpa memikirkan tentang ucapannya tadi.


__ADS_2