
Lepaskan Daripada Memaksakan
Ikhlaskan Daripada Menyakitkan
Relakan Daripada harus berjuang Sendirian... ~Adelia Putri Sanjaya~
-------------------------------------------------------------
Hari yang dinanti nantikan oleh Ade telah tiba. Dimana ia akan menjemput sang pujaan hatinya, yang sudah kembali dari luar kota setelah selesai dengan pemotretannya.
Dengan senyum yang mengembang, ia menuruni anak tangga satu persatu. Saat ingin melangkahkan kaki keluar rumah, tiba tiba suara Mama nya memanggil.
"Mau kemana kamu?" tanya Mama yang sedang menonton tv.
"Mau keluar Ma, ada urusan" jawab Ade.
"Urusan apa? Apa kamu tidak ingat hari ini kamu akan memilih cincin pernikahan bersama Adel?" tanya Mama menajamkan mata nya.
"Ah ya ampun, Ade lupa Ma! Yaudah besok aja Ade pergi memilih cincin nya bersama Adel Ma" pinta Ade.
"Tidak ada kata besok! Sekarang kamu pergi jemput Adel" perintah Mama tanpa ingin dibantah lagi.
"Ade hari ini ngga bisa Ma! Ade lagi ada urusan" bantah Ade.
"Baiklah, terserahmu saja" kata Mama sendu.
'Ah shit gagalkan jadinya! Nih semua gara gara tuh cewek.' batin nya menyalahkan Adel.
"Fine Ma, Ade bakal jemput Adel! Kita akan memilih cincin sekaran! Ade pergi dulu" ucap Ade pasrah.
***
Didalan mobil Ade segera menelfon kekasihnya bernama Natalia. Mengabarinya bahwa ia tidak bisa menjemputnya, dengan alasan ada meeting mendadak yang tidak bisa diundur.
"Yank, maafin aku! Aku juga ngga tahu kalau bakal ada meeting mendadak kaya gini" ucap Ade.
"Kenapa kamu ngga kasih kesekretaris kamu aja! Kamu kan bosnya" ucap Natalia dengan nada kesal.
__ADS_1
"Ngga bisa yank! Kalau ini aku harus turun tangan sendiri. Soalnya ini proyek besar" ucap Ade.
"Yaudah terserah kamu! Tuttt.... " ucap Natalia langsung memutuskan sambungan nya.
'Ah shittt!!! Nih semua gara gara lo Del! Kenapa lo mesti dateng kekehidupan gue!" umpat Ade kesal. Lagi lagi ia menyalahkan Adel.
-------------------------------------------------------------
"Assalamu'alaikum" ketuk Ade.
"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk den!" perintah bibi. Ade mengangguk dan berjalan masuk.
"Selamat siang tant" sapa Ade.
"Siang sayang, ayo duduk" perintah Mama Lisa. Ade langsung duduk didepan Mama Lisa. "Bi tolong buatin minuman ya" perintah Mama Lisa.
"Baik Ny" ucap Bibi berjalan kedapur.
"Tadi Mama kamu sudah mengabari Tante, kalau kamu akan menjemput Adel untuk memilih cincin pernikahan bukan?" kata Mama Lisa sambil bertanya.
"Iya Tant" ucap Ade. 'Terpaksa maksudnya Tant' batin Ade.
"Nak... Kamu panggilin Adel sendiri ya ke kamarnya! Tante mau menerima telfon dulu! Kamarnya diatas, yang bagian tengah" ucap Lisa seraya berjalan meninggalkan Ade. Ade ingin menolak tapi Lisa sudah duluan pergi.
'Aishh masa iya gue harus keatas! Huftt ngga ada pilihan lain' ucapnya sambil beranjak dari duduknya.
Setelah sampai diatas, Ade langsung memegang knop pintu. Dan dengan perlahan lahan membuka nya, ternyata kamarnya tidak dikunci.
Ade menelan saliva nya dengan susah payah, saat melihat Adel sedang berdiri didepan lemari pakaian hanya menggunakan handuk kinomo sebatas lutut. Dan memperlihatkan kulit putih mulus Adel, ditambah lagi rambut yang disanggul keatas! Memperlihatkan leher jenjang Adel.
'Busett... Sexy juga' guman Ade. 'Ah apaansi De! Dipikiran lo itu cuma ada Natalia' batin nya. Namun, Ade berkali kali menelan saliva nya dengan payah.
Setelah Adel selesai memilih baju yang cocok untuknya, ia pun berbalik badan ingin meletakkan pakaian nya diatas kasur. Ia kaget dengan keberadaan Ade dibelakang nya. Saat ingin berteriak, Ade dengan sigap langsung membekap mulutnya.
"Mmm... " ucapnya tidak jelas, sambil menepuk nepuk tangan Ade yang membekap mulutnya. Ade langsung melepas bekapan nya dan menatap Adel dari atas sampai bawah.
"Kenapa lo liatin gue kaya gitu? Masuk ngga pake ketuk pintu dulu lagi" kesal Adel langsung menutup dada nya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Sorry gue lupa! Gue cuma mau bilang, kalau hari ini kita bakal memilih cincin" ucap Ade santai.
"Yaudah gue siap siap dulu!! Keluar sana!!" geram Adel sambil mendorong dada Ade. Namun, Adel merasakan handuknya akan terlepas. Dengan segera ia langsung memeluk tubuh Ade.
Deg... Jantung Ade langsung berdegup kencang.
"Kenapa lo meluk gue? Eh tapi bentar, kok ada kenyal kenyal gitu ya didada gue" kata Ade, saat merasakan ada dua gundukan terasa didada nya. "Jangan bilang handuk lo... " ucap Ade.
"Diam lo! Buruan tutup mata lo!" perintah Adel. Ade langsung menutup mata nya.
"Awas lo jangan ngintip" ucap Adel buru buru memakai handuknya kembali.
'Ah shitt!! Sangat memalukan!' batin Adel.
"Udah! Keluar sana lo! Gangguin gue aja" usir Adel. Ade langsung berjalan keluar kamar Adel.
'Tadi kenapa gue deg degan ya' tanya nya dalam hati. 'Ah itu mungkin karena kaget, dia tiba tiba meluk gue' sangkalnya.
Ade langsung duduk disofa seperti semula. Namun, art datang menyampaikan sesuatu.
"Den, tadi nyonya berpesan kalau nyonya sedang ada urusan" ucap bibi.
"Baiklah bi, terimakasih" ucap Ade. Bibi mengangguk sambil berjalan kembali kedapur.
Beberapa menit kemudian.
Adel menuruni anak tangga dengan anggun nya. Memakai setelan dress selutut, dipadukan dengan sepatu kets berwarna putih dan tas selempang berwarna hitam.
"Mama dimana bi?" tanya Adel menghampiri sang bibi.
"Nyonya sedang keluar Non, kata nya ada urusan" jawab Bibi.
"Baiklah bi, kalau begitu Adel pergi dulu bi" pamit Adel sambil tersenyum.
"Iya Non, hati hati" ucap Bibi.
Ade yang sedari tadi memperhatikan Adel berbicara dengan pembantunya itu, merasa kagum dengan sikap ramah Adel.
__ADS_1
'Jarang jarang sih, ada cewek kaya dia! Tapi sayang, gue ngga suka sama dia' batin Ade.
"Yaudah yuk kak" ajak Adel. Sikap Adel kembali normal. Adel akan bersikap kasar saat ia merasa jengkel terhadap seseorang yang membuatnya kesal. Ade mengangguk dan beranjak dari duduk nya.