
Setelah selesai makan malam, Denis langsung mengajak Vila melihat Menara Eifel.
"Vil lihat Menara Eifel yuk" ajak Denis sembari menatap Vila. Vila yang sedang asyik bermain ponselnya. Lalu, menoleh kearah Denis.
"Ayuk! Kebanyakan kata orang, lihat Menara Eifel dimalam hari jauh lebih indah" jawab Vila dengan semangat.
Mereka segera keluar dari Hotel menuju Menara Eifel. Dengan menggunakan mobil yang sudah Papi Denis sewa waktu itu. Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di Menara Eifel tersebut.
"Wah... " kagum. "Indah banget kan Nis! Benar apa kata orang, ternyata melihat Menara Eifel dimalam hari itu jauh lebih indah" ucap Vila sembari melihat lampu di Menara Eifel yang kelap kelip.
"Iya Vil, Indah banget! Apalagi lampu nya kelap kelip. Menambah kesan Romantis" ucap Denis sembari menatap Vila.
"Iya Nis, Loe bener! Menambah kesan Romantis untuk pasangan yang saling mencintai" sahut Vila tersenyum getir. Denis yang mendengar itu pun menjadi merasa bersalah.
"Yaudah yuk kita cari makanan! Lalu, kesini lagi untuk melihat keindahan Menara Eifel kembali" ucap Denis menatap wajah Vila dengan tersenyum, sembari menggenggam tangan Vila. Vila merasa ada yang hangat menyentuh kulit nya dengan segera menoleh kearah Denis.
"Yaudah yuk" sahut Vila sembari menatap Denis dengan tersenyum.
__ADS_1
'Loe kenapa sih Nis? Kadang dingin, kadang hangat! Kadang Gue merasa kalau Gue ini prioritas Loe! Kadang juga bukan' gumam Vila dalam hati sembari terus berjalan.
'Gue merasa Loe sedang mempermainkan perasaan Gue Nis' gumam Vila lagi. Vila tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai dipenjual makanan.
"Vil Loe mau makanan apa?" tanya Denis sembari menatap Vila. Vila hanya diam. Karena sedang asyik bergelayut dengan fikiran nya. Denis yang merasa aneh dengan sikap Vila, langsung menundukkan kepala nya menatap Vila lekat lekat.
"Vill... Loe mau pesen apa?" ucap Denis menatap Vila.
"Eh" kaget. "Loe kok didepan muka Gue sih! Bikin kaget aja deh" kesal Vila sembari memundurkan badan nya.
"Loe tuh! Dari tadi ditanya bukan nya dijawab! Tapi malah bengong. Mikirin apa sih Loe" jawab Denis menatap Vila kesal.
'Tuh kan balik ngeselin lagi' gumam Vila dalam hati.
"Loe lagi ngelamunin apaansi? Belakangan ini kaya nya Loe sering melamun deh" tanya Denis saat sudah memesan makanan.
"Engga! Gue gak lagi mikirin apa apa!" jawab Vila tanpa menatap Denis.
__ADS_1
"Apa jangan jangan Loe lagi mikirin perihal anak yang diminta sama orang tua kita ya" goda Denis menatap Vila. Sontak Vila kaget dengan apa yang dikatakan oleh Denis.
"Apaansi Loe! Jauh amat pemikiran nya" jawab Vila dengan wajah yang sudah memerah. "Dan ingat itu gak bakalan sampai terjadi" ucap Vila langsung meninggalkan Denis.
'Deg deg deg' detak jantung Denis tak beraturan. Entah kenapa perasaan nya tidak suka mendengar Vila mengatakan itu! Dia langsung mengejar Vila dengan amarah yang sudah menggebu gebu.
"Apa Loe bilang tadi? Coba ulangi sekali lagi!" pinta Denis dengan nafas tak beraturan karena menahan amarah. saat sudah berhasil mengejar Vila.
"Gue bilang... " ucapan Vila terpotong karena Denis sudah duluan mencium bibir nya.Vila langsung meronta ronta untuk minta dilepaskan! Namun, Denis tidak mengubris kata kata nya. Dan terus saja bermain dimulut Vila. Vila yang hanya bisa pasrah, karena tenaga nya tidak sekuat tenaga Denis, lama kelamaan Vila terbawa suasana dan mengikuti alur permainan Denis.
Saat sudah merasa tidak bisa bernafas, Denis langsung melepaskan ciuman nya sembari berbisik. "Jangan pernah katakan itu lagi! Ayo pulang" ucap Denis dingin sembari berjalan duluan. Vila hanya diam dan mengikuti langkah Denis.
'Dasar sialan! Seenak nya aja nyium Gue! Huaaa... dia telah ngambil first kiss Gue! Kurang ajar Loe Denis Wijaya!!!' teriak Vila dalam hati sembari menyumpah serapah kan Denis.
-
-
__ADS_1
-