
Pagi Hari.
Setelah membangunkan Vila dan Ferry. Bunda segera turun kebawah menghampiri suaminya. Setelah menunggu beberapa menit turun lah Ferry dengan pakaian kantor.
"Selamat pagi Ayah, Bunda" sapa Ferry sembari turun dari tangga dan mencium pipi kedua orang tua nya.
"Selamat pagi sayang. Sini duduk" sahut Bunda tersenyum menatap Putra nya.
"Pagi juga nak, sudah siap nih meluncur ke kantor" sahut Ayah tersenyum menatap Ferry.
"Sudah dong Yah. Ferry kan juga harus bisa sukses kaya Ayah, supaya bisa menghidupi keluarga Ferry kelak" ucap Ferry tersenyum sambil duduk didepan Bundanya. Ayah dan Bunda yang mendengar itu hanya tersenyum.
Saat sedang asik berbincang bincang. Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Dengan segera bibi membukakan pintu.
"Assamu'alaikum" ucap Denis sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam eh Den Denis, silahkan masuk Den! Nyonya dan Tuan berada didalam" ucap Bibi sambil mempersilahkan Denis masuk.
__ADS_1
"Terimakasih bi" ucap Denis tersenyum sambil berlalu masuk kedalam.
"Selamat pagi Om, Tant, Fer" sapa Denis saat sudah berada dimeja makan.
"Pagi sayang... Ayo duduk sini! Vila sebentar lagi juga turun nak" sahut Bunda sambil tersenyum. Denis hanya mengangguk sambil duduk disebelah Ferry.
"Pagi nak... Kamu mau jemput Vila ya?" sahut Ayah sembari menatap Denis.
"Pagi calon adik ipar. Cie udah gak sabar ni ya, mau jumpa sama calon istrinya" sahut Ferry tersenyum meledek. Denis hanya tersenyum malu.
'Apa apaansi ni Ferry, untung ada Om dan Tante kalau gak udah Gue datarin tu muka' gumam Denis dalam hati sembari menatap Ferry kesal.
"Iya sayang boleh kok. Asal sama kamu Vila pasti aman" ucap Bunda tersenyum menatap Denis. Denis hanya mengangguk dan membalas senyum Bunda.
"Selamat pagi Ayah, Bunda, Kak Ferry... Loh kok ada dia?" sapa Vila saat sudah turun dari tangga. Dan ingin mencium pipi kedua orang tua nya dan kakak nya. Tiba tiba Vila terkejut dengan keberadaan Denis.
"Pagi sayang... Ayo duduk dulu! Gak sopan kaya gitu sama calon suami" sahut Bunda sembari menasehati Vila.
__ADS_1
'Calon suami terpaksa Bun maksudnya' gumam Vila dalam hati sembari menatap Denis tak suka.
"Yasudah ayo kita makan. Nanti kalian bisa telat lagi" ucap Bunda sembari mengambilkan makanan untuk suaminya. "Vila kamu ambilin untuk Denis ya" perintah Bunda sembari tersenyum.
"Denis punya tangan sendiri Bun! Bisa ngambil makanan sendiri" sahut Vila menatap Denis tajam.
"Iya Tant gapapa kok, Denis bisa ambil sendiri" sahut Denis ingin mengambil makanan sendiri.
"Tidak nak! Vila adalah calon istri kamu. Sudah sewajarnya dia melayani kamu" ucap Ayah sembari tersenyum. "Ayo sayang ambilkan makanan untuk calon suami kamu" ucap Ayah sambil menatap Vila. Dengan berat hati Vila pun mengiyakan perkataan Ayahnya.
Ferry melihat itu terkikik geli. Melihat tingkah mereka seperti anak ABG. Vila yang melihat kakak nya terkikik, dia langsung memolotkan matanya. Ferry langsung diam dan memakan makanannya.
Setelah selesai makan, mereka pun berangkat ketujuan masing masing. Setelah Vila dan Denis berpamitan kepada Bunda nya, mereka dengan segera meninggalkan pekarangan rumah Vila. Vila hanya bisa menggerutu kesal sembari masuk kedalam mobil Denis.
-
-
__ADS_1
-