
Hari ini adalah hari keberangkatan kami menuju Kota Bali. Kami diantarkan kebandara oleh para orangtua beserta oma dan opa. Dan tidak lupa dengan Aurel sahabatku sedangkan Kak Rangga sahabat suamiku.
"Ade... Kamu jagain Adel ya! Kalau dia bandel cubit saja hidungnya" titah Mama dengan tersenyum.
"Mama apaansi, Adel ngga akan bandel kok! Tenang saja" sahut Adel.
"Iya Ma, Ade pasti bakal jagain istri Ade kok. Malah kita pulang nanti bakal bawa kabar bahagia. Iya kan sayang" ucap Ade sambil tersenyum nakal.
"Haha Papa percaya sama kamu! Kamu kan anak Papa, harus top care ya" sahut Papa sambil tertawa. Aku hanya bisa menahan maluku. Aku yakin, wajahku pasti sudah memerah akibat ulah anak dan bapak ini.
"Pasti Pa pasti" kata Ade percaya diri.
"Eh kak, gue titip ponakan yang lucu lucu ya! Kalau bisa kembar tiga" sahut Aurel sambil tertawa.
"Eh busettt... Lo fikir perut gue apaan? Tudung nasi, iyaa?" tanyaku kesal. Mereka hanya tertawa melihat wajah kesalku.
"Iya menn... Tunjukin keperjakaan lo" timpal Rangga sambil tertawa.
"Ah udah lah, asik bully aku mulu deh! Yaudah Ma, Pa, kita berangkat dulu ya" pamit Adel sambil memeluk mereka secara bergantian. Namun, saat pelukan ke Aurel, Aurel membisikkan sesuatu ketelingaku.
"Jangan lupa sama kado yang aku kasih kemarin, dipake ya saat udah sampai disana" bisik Aurel. Aku bingung dan langsung mengiyakan saja. Aku bahkan belum membuka kado yang diberikan olehnya.
__ADS_1
"Iya... Jaga kesehatan kalian ya" kata Oma. Kami mengangguk dan berjalan masuk kedalam pesawat.
***
"Kakak tadi kenapa ngomong kaya gitu sih? Aku kan jadi malu! Atau kakak memang sengaja ya" kesalku sambil memainkan telunjukku didepan wajahnya.
"Terus aku harus ngomong apalagi? Kan harus memang begitu, biar mereka senang" jawabnya sambil menurunkan jariku. Aku hanya bisa mendegus kesal.
"Kak, pinjem bahu dong! Aku ngantuk nih" ujarku sambil menatapnya.
"Ngga ah, nanti kamu tidurnya ngences" candanya terkekeh.
"Yeee... Aku ngga ngences ya! Yaudahlah kalau ngga mau, jendela juga bisa jadi senderan aku" kesalku sambil menyenderkan kepalaku dikaca jendela. Namun, dengan sigap Kak Ade langsung memiringkan kepalaku kebahu nya. Aku langsung tersenyum dan mencari posisi yang nyaman. Kak Ade juga ikut memejamkan mata nya.
-------------------------------------------------------------
Setelah 1 jam 40 menit, pesawat mendarat dengan selamat! Aku segera membuka mataku. Dan melihat kesamping, ternyata Kak Ade sudah bangun.
"Kakak ngga tidur?" tanyaku sambil meregangkan otot kepalaku.
"Engga! Kamu tidurnya ngorok, jadi aku ngga bisa tidur" candanya. Lagi lagi hal itu membuatku kesal. Aku segera berdiri dan turun dari pesawat! Kak Ade malah tertawa dan mengikuti langkahku.
__ADS_1
"Ngga lucu! Ngga usah ketawa" kesalku terus berjalan.
"Haha istriku sayang... Aku cuma bercanda, aku tidurku tapi cuma sebentar! Aku kan jagain Tuan Putri Tidur" candanya lagi. Namun, hal itu malah membuatku tersipu malu.
"Udah ah! Ngga lucu becandanya" ucapku menutupi rasa gugupku. Jujur saja, saat dia mengatakan sebutan istriku jantungku berdetak tidak karuan. Aku juga tidak mengerti dengan perasaan seperti ini.
"Maaf Tuan, Nona. Apa kalian yang bernama Ade dan Adel?" tanya seseorang menghampiri kami.
"Iya pak, kenapa ya?" tanyaku heran.
"Oh syukurlah, maaf Nona! Saya adalah supir yang disewa Tuan Besar Alexander untuk menemani kalian selama disini" ucap bapak tersebut dengan ramah.
"Ah baiklah pak, bisa tolong bapak bawain barang barang kami?" tanyaku sambil tersenyum.
"Tentu Nona, Mari! Mobilnya ada disebelah sana" ucapnya mengambil alih koper kami berdua. Dan menunjuk kearah parkiran.
"Sini aku gandeng kamu! Nanti kamu diculik sama Bile disini" ucap Kak Ade sambil menggenggam mesra tanganku.
"Helehh... Modussss" ucapku sambil tersenyum. Jujur saja, aku sangat bahagia saat Kak Ade menggenggam erat tanganku. Kami pun berjalan bergandengan tangan dengan mesra nya dan berjalan mengikuti bapak itu.
-------------------------------------------------------------
__ADS_1
Jangan lupa kasi like, komentar kalian dan vote nya. 😅❤😘