
Kediaman Wijaya.
Kini mereka tengah duduk diruang keluarga sembari bercanda canda bersama.
"Jadi bagaimana bulan madu kalian? Apakah lancar?" tanya Papi dengan menatap mereka secara bergantian. Vila langsung memolotkan mata nya mendengar apa yang dikatakan ayah mertua nya.
"Sangat lancar Papi, kalian semua tenang saja! Aku selalu berusaha untuk keinginan kita semua! Iya kan sayang" ucap Denis dengan tersenyum bangga. Sembari melingkarkan tangan nya dipinggang Vila. Vila yang mendengar apa yang dikatakan Denis hanya bisa tersenyum malu,,, wajahnya sudah memerah.
"Haa~" menghela nafas. "Syukurlah kalau begitu nak! Kami tunggu kabar bahagia nya" ucap Ayah sembari menatap Vila dengan tersenyum.
"Sudah sudah... Nanti saja sesi tanya jawabnya. Biarkan dulu mereka istirahat" perintah Mami kepada mereka. "Ayo sayang, istirahat lah kalian dulu! Atau kalian lapar? Mami sudah masak makanan kesukaan kalian" ucap Mami tersenyum menatap mereka.
"Engga Mi, kita belum laper kok" jawab Vila dengan tersenyum. "Oh iya ini ada sedikit oleh oleh untuk kalian semua" ucap Vila sembari mengeluarkan barang barang dari dalam kopernya, yang telah dibeli nya di Paris waktu itu.
"Aduh sayang... Seharusnya kalian tidak perlu repot repot membelikan kami ini sayang" ucap Bunda menatap Vila.
"Tidak apa apa Bun" jawab Vila dengan tersenyum dan langsung menyodorkan barang yang mereka bawa.
Setelah sesi memberikan oleh oleh Bunda dan Ayah pamit pulang.
"Sayang Bunda pulang dulu ya nak" pamit Bunda. "Kamu istirahat ya, jangan lupa main main kerumah ya nak" perintah Bunda.
"Iya Bun, Bunda sama Ayah hati hati ya" ucap Vila sembari memeluk Bunda nya manja. Bunda hanya tersenyum sembari mengusap kepala putrinya.
__ADS_1
"Kita juga pamit ya Vil, soalnya kita masih ada kuliah 20 menit lagi" ucap Lisa sembari memeluk Vila.
"Iya Lis, tunggu gue besok ya hehe" ucap Vila membalas pelukan Lisa sembari tertawa kecil. Lisa hanya tertawa juga dan langsung melepaskan pelukan nya.
"Iya Vil, besok kita tunggu Loe! Kita asyik asyikan bareng lagi dan ghibah bareng lagi. Ops! Maaf tante, om Luna maksudnya bukan gitu" ucap Luna salah tingkah. Mami dan Papi hanya tersenyum.
"Tidak apa apa sayang, kalian lanjutkan saja perbincangan kalian. Mami masuk kedalam dulu! Kamu jangan lupa istirahat ya sayang" perintah Mami kepada Vila. Vila hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu, Mami pun berlalu meninggalkan mereka.
"Papi juga akan pamit ke kantor ya" ucap Papi sembari mengusap pelan kepala menantu nya itu.
"Papi hati hati ya" ucap Vila. Papi pun mengangguk dan langsung berlalu meninggalkan mereka.
Kini hanya tinggal mereka saja yang disini.
"Sepi tahu seminggu gak ada Loe" lanjut Luna dengan cemberut dan langsung memeluk Vila.
"Udah udah awas! Gue lagi" ucap Indah langsung berjalan kearah Vila. "Kakak ipar, kami disini semua sangat merindukanmu" ucap Indah langsung memeluk Vila. "Apalagi Ricko" ucap Indah berbisik ditelinga Vila.
"Loe tu Ndah, panggil nama gue aja kenapa sih! Risih gue dengan panggilan loe kaya gitu ke gue" sahut Vila membalas pelukan Indah. "Loe apa apaansi Ndah! Ntar kakak Loe denger bisa mati gue! Disangka nanti gue selingkuh" bisik Vila.
"Lah kan memang betul kalau loe kakak ipar gue" ucap Indah sambil nyengir. "Emang kakak gue udah ganas ya sama loe" bisik Indah.
"Kalian lagi bisikin apa sih? Kok kakak jadi curiga" sahut Denis merasa risih dengan kedua orang yang sangat berharga dalam hidupnya itu. "Udah minggir Ndah! Lama amat meluk nya. Yang boleh meluk lama Vila ya cuma gue" ucap Denis langsung melingkarkan tangan nya posesif dipinggang Vila.
__ADS_1
"Ckckck" Indah berdecak kesal dan langsung melepas pelukan nya. Sedangkan yang lain hanya tersenyum melihat perdebatan antara kakak dan adik tersebut. "Dasar! Dulu aja nolak nolak sekarang posesif nya minta ampun" cibir Indah menatap Denis dengan kesal.
"Udah diem Lu! Mending sekarang kalian ke kampus sono! Pak Dosen botak udah nungguin" usir Denis dengan tersenyum. "Kita juga harus istirahat! Iyakan sayang" seru Denis dengan menatap Vila. "Vila hanya tersenyum canggung.
"Cih" berdecih. "Sikap es nya udah cair guys" ucap Ferry. Mereka semua langsung tertawa.
"Loe kasih pelet apa Vil? Sampai sampai sikap dia yang dingin bisa hangat kembali" tanya Kevin sembari tertawa. Vila hanya tersenyum mendengar nya.
"Diem Lu! Udah sono balik! Gue mau istirahat dulu sama bini gue" usir Denis lagi.
"Alah Nis, bilang aja Loe mau ngelonin bini Loe! Yuk guys kita cabut" ucap Jeon sambil tertawa. Wajah Vila langsung memerah mendengar ucapan Jeon.
"Vila Loe sakit? Kenapa muka Loe merah kaya gitu?" tanya Lisa sembari memperhatikan wajah Vila yang memerah.
"Ya ampun Lisa, Loe gak tahu? Itu bukan penyakit. Tapi memerah karena malu" ucap Kevin sembari tertawa. Mereka langsung tertawa mendengar ucapan Kevin.
"Sudah lah, tidak usah ledek bini gue mulu! Mending Loe ke kantor sono! Banyak berkas yang belum Loe selesaiin" perintah Denis menatap Kevin.
"Iya iya, kita pamit dulu! Nis main nya pelan pelan ya" ucap Kevin tertawa terbahak bahak dan langsung lari kucar kacir.
"Awas Loe! Gue bales ntar" teriak Denis.
"Yaudah kita pamit dulu ya Vil, Kak Denis" pamit Lisa mewakili mereka semua. Denis hanya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Iya Lis, kalian hati hati ya" perintah Vila sembari tersenyum.
Mereka langsung keluar rumah dan berlalu meninggalkan mereka.