Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
10. Jadi - an


__ADS_3

Badan Caramel terjatuh di lantai. Dia pingsan di saat acara sudah selesai dan tamu-tamu sudah pulang. Kini Restauran dalam keadaan lenggang. Sontak saja semua yang ada disitu mengerubungi Caramel yang sudah terbujur di lantai, tepatnya di tengah-tengah restauran.


Revan dan Chef Raymond yang tadinya berada di meja kasir langsung berlari menuju tempat Caramel pingsan. Tadinya Chef Raymond ingin melihat penghasilan hari ini setelah acara tadi selesai, jadilah dia berada di meja kasir karena urusan tersebut dia harus bertanya dan melihat laporannya pada Revan. Namun ketika Revan hendak memperlihatkan laporan penjualannya pada Chef Raymond, ada suara Lani, teman akrab Caramel berteriak bahwa Caramel pingsan. Seketika Chef Raymond dan Revan meninggalkan meja kasir menuju tempat dimana Caramel pingsan.


Karyawan laki-laki tidak berani membopong untuk memindahkan Caramel karena di tempat itu ada Pak Irfan, Manager restauran yang sudah bersimpuh dan tangannya sudah menengadah pada tubuh Caramel hendak membopongnya, namun niatan Pak Irfan hanya sebatas keinginannya saja, karena dengan segera Chef Raymond membopong tubuh Caramel dan memindahkannya ke ruang VIP. Semua mata yang ada disitu mengarah pada Chef Raymond yang membopong Caramel, tak terkecuali pak Irfan yang memandang dengan smirk yang tertaut di bibirnya. Mereka jadi semakin yakin jika Chef Raymond dan Caramel memiliki hubungan, dan tentu saja mereka yang tidak suka dengan Caramel membumbu-bumbui dengan ejekan-ejekan dan juga menjelek-jelekkan Caramel. Pak Irfan yang melihat Chef Raymond bertindak seperti itu dan mendengar semua kasak-kusuk dari yang lainnya, Pak Irfan bertambah yakin dengan pikirannya


Di ruang VIP Chef Raymond menidurkan tubuh Caramel di atas sofa. Dia menggesek-gesekkan telapak tangannya ke telapak tangan Caramel untuk membuat telapak tangan Caramel yang dingin menjadi lebih hangat. Lani mengambilkan minyak kayu putih dan membalurkannya pada tubuh Caramel dengan cara memberikannya tanpa membuka bajunya, kemudian dia membau-baui hidung Caramel dengan minyak kayu putih. Sedangkan Revan mengambilkan teh hangat untuk Caramel dari Bar.


Sebenarnya mereka ingin sekali membantu Caramel, khususnya karyawan laki-laki, mereka ingin membopong tubuh Caramel untuk memindahkannya dan membantu menyadarkannya, namun semuanya hanya angan-angan saja, karena mereka takut pada Chef Raymond yang sedari tadi berada di dekat Caramel.


Perlahan mata.Caramel terbuka. Matanya memicing terkena cahaya lampu yang silau. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk pada penglihatannya.


"Kamu udah sadar Ca?" Chef Raymond membantu Caramel untuk duduk.


"Augh... kepalaku... sakit... augh....," Caramel mengaduh kepalanya sakit dengan memegang kepalanya dan tertunduk, dia belum tau jika sekarang ini semua orang berada di tempat itu untuk melihatnya.


"Kenapa Ca? Apa ada yang sakit?" Chef Raymond kembali bertanya pada Caramel dengan menengadahkan kepalanya di depan wajah Caramel yang masih tertunduk dan memejamkan kepalanya dengan memegang pelipisnya.


"Sss... kenapa kepalaku sakit sekali? Kenapa aku ada disini? Apa yang terjadi?" Caramel bertanya tanpa memandang siapa pun karena matanya masih terpejam dan kepalanya masih tertunduk.


"Kamu tadi pingsan Ca, kamu gapapa kan?" tanya Lani, teman dekat Caramel.


"Aku pingsan? Kenapa? Kok bisa?" kini Caramel mendongakkan kepalanya dan matanya bertemu dengan mata Chef Raymond.


Sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik, pas lima detik Caramel tersadar, dia menundukkan kembali matanya. Dia teringat obrolannya kemarin dengan Chef Raymond.


Chef Raymond tersenyum tipis melihat wajah malu-malu gadis di depannya ini. Dia khawatir, namun senang karena Caramel menunjukkan wajah malunya dan salah tingkah di hadapannya. Sebegitu besarnya efek dari ucapannya semalam hingga membuat seorang Caramel yang ceria menjadi malu-malu. Benar kata Pak Sarno jika Caramel menghindar jika didekati lawan jenisnya.


"Kamu udah makan Ca?" Revan menyodorkan teh hangat pada Caramel.


Caramel menerima teh hangat tersebut dan meminumnya. Caramel diam, mengingat-ingat apa dia sudah makan atau belum. Kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Pantes aja kamu pingsan. Tadi itu rame banget, kamu sibuk sana-sini mangkanya pingsan karena belum makan. Kamu sengaja apa lupa?" Chef Raymond mencoba mengalihkan pandangan Caramel padanya.


Sontak saja Caramel mendongak.


"Chef....," suara Caramel tercekat, matanya sedikit berkaca-kaca, dia tidak percaya jika Chef Raymond yang semalam menyatakan rasa sukanya padanya sekarang ini menuduhnya sengaja tidak makan agar pingsan.


"Saya tau kamu lupa, tapi tolong sesibuk apapun kamu pastikan perut kamu diisi dulu agar kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu. Mengerti?" Raymond berkata dengan sangat halus pada Caramel karena dia melihat mata Caramel yang sedih karena ucapannya.


Semua orang disitu seperti melihat adegan drama sepasang kekasih yang sedang merayu kekasihnya. Mereka tidak menyangka, seorang Chef Raymond yang terkenal begitu cuek dan dingin bisa selembut dan seperhatian pada Caramel, sosok gadis yang menjadi rebutan para cowok di tempat itu.


Akhirnya semuanya meninggalkan tempat itu ketika Pak Sarno datang dan menyuruh mereka untuk bubar ke tempat masing-masing.


Pak Sarno menyuruh Caramel makan dan setelah itu periksa ke dokter. Namun Caramel menolaknya, dia rasa dia hanya butuh istirahat saja. Revan mempersilahkannya pulang agar Caramel bisa beristirahat dan cepat pulih kembali. Akhirnya Pak Sarno berinisiatif untuk mengantarnya pulang, namun Chef Raymond mengatakan bahwa dia yang akan mengantar Caramel pulang, namun sebelum itu Chef Raymond akan membawanya periksa ke dokter. Caramel benar-benar menolak, namun Chef Raymond tetap memaksa, jadilah mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar karena beda pendapat.


Revan dan Pak Sarno saling menatap dan menggelengkan kepalanya, namun mereka tersenyum bersama ketika Chef Raymond dengan paksa menggendong Caramel menuju mobilnya. Caramel meronta-ronta, kakinya digerak-gerakkan agar Chef Raymond menurunkannya. Namun Chef Raymond tak merasa keberatan atau pun tangannya sakit karena gerakan kaki Caramel, malah Chef Raymond mengeratkan pegangannya pada kaki Caramel. Semua mata menatap tidak percaya melihat Caramel digendong ala bridal style oleh Chef Raymond menuju mobilnya. Melihat semua mata mengarah padanya, Caramel menenggelamkan wajahnya pada dada Chef Raymond. Mereka hanya melongo menatap iri padanya. Sedangkan untuk kaum wanita menatap iri dan benci pada Caramel.

__ADS_1


Sesampainya di dekat mobil, Raymond mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celananya dengan susah payah karena tangannya masih menggendong Caramel.


"Diam, dari pada kamu jatuh," ancam Raymond pada Caramel yang masih sedikit berontak ketika sudah tidak terlihat oleh yang lainnya.


"Mangkanya Chef turunin, berat kan susah juga ambil kuncinya," Caramel kini diam tidak memberontak kembali.


"Udah diam gak? Apa mau dicium dulu biar diam?" Raymond mulai berani menggoda Caramel.


Mulut Caramel terkunci, kini dia diam dengan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia takut dengan ancaman dari Chef Raymond. Wajahnya malu-malu dan pipinya merona menjadi hiburan dan kesenangan tersendiri bagi Raymond. Meskipun tubuh Caramel berat tak dirasanya karena baginya tubuh Caramel biasa saja baginya, tidak terlalu berat, semua itu karena efek rutin dia latihan Gym tiap hari.


Tit... tit...


Kunci mobil terbuka, segera Raymond membuka pintu mobil dan mendudukkan Caramel di kursi depan sebelah kemudi. Kemudian dia berputar menuju pintu mobil tempat kemudi, setelah terbuka pintunya segera dia duduk di kursi belakang kemudi. Sebelum dia menjalankan mobilnya, dia mengirim pesan pada seseorang. Kemudian dia melihat ke samping dimana Caramel berada. Dia duduk menghadap ke depan dengan mulut yang masih tertutup rapat. Raymond tertawa terbahak-bahak, gemas rasanya melihat gadis disebelahnya bertingkah seperti itu, sungguh menggemaskan sekali, ingin rasanya dia mencicipi bibir pink yang mengatup itu.


Caramel menoleh ke samping, dia heran melihat Chef Raymond tertawa terbahak-bahak. Ingin dia menanyakan mengapa dia tertawa sampai seperti itu, namun dia tidak berani membuka mulutnya.


Tiba-tiba kaca mobil diketuk. Chef Raymond membuka kaca mobil dan mengambil tas Caramel yang dibawakan oleh Revan. Tadi setelah masuk dan duduk dalam mobil, Chef Raymond mengirim pesan pada Revan agar mengambilkan barang-barang Caramel termasuk ponsel dan tasnya yang ada di loker dan membawanya ke mobilnya yang berada di parkiran. Revan mengernyit heran melihat Caramel yang menutup rapat bibirnya tidak berbicara sama sekali atau pun menyapanya atau berterima kasih padanya. Kemudian Revan menatap pad Chef Raymond, dan Chef Raymond hanya tertawa, membuat Revan bertambah heran. Namun dia segera meninggalkan mobil Chef Raymond karena teringat posisi Caramel di kasir yang sedang kosong dan harus digantikannya sementara sebelum pergantian shift terjadi.


Caramel mengambil tas yang diberikan oleh Revan tadi. Diambilnya ponselnya dadi dalam tas. Segera dia mengirim pesan pada Revan untuk mengucapkan terima kasih telah membawakan tasnya dan meminta maaf karena pulang duluan. Setelah itu dia mengirim pesan pada Ched Raymond, Caramel bertanya mengapa Raymond tertawa terbahak-bahak di dalam mobil padahal tidak ada yang lucu.


Tring...


Raymond melihat layar ponselnya yang tertera nama Caramel pada pesan yang diterimanya. Padahal dia sudah menghidupkan mesin mobilnya hendak dijalankannya mobil itu, namun batal dia jalankan sekarang karena ingin segera melihat pesan dari Caramel. Dia merasa heran karena Caramel kini berada di sebelahnya, tapi mengapa dia mengirim pesan padanya alih-alih berbicara secara langsung padanya. Dibukanya pesan itu, dan seketika Raymond tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya, rasanya perutnya kram karena terlalu banyak tertawa gara-gara Caramel. Memang benar baru kali ini dia merasakan sangat bahagia dan tertawa hingga perutnya kram, hanya bersama Caramel dia bisa merasakan hal seperti ini.


"Ca, kenapa kamu gak berani buka mulut? Takut dicium?" Raymond menggoda Caramel dengan mendekatkan wajahnya ke hadapan Caramel.


"Ca... Ca.. kamu itu ngegemesin banget sih, aku jadi bahagia jika bersama kamu," Raymond melancarkan aksi merayunya.


Caramel menoleh pada Raymond. Dia melihat mata Raymond yang benar-benar membuatnya terpikat. Entah itu karena melihat kejujuran dari matanya atau karena Caramel memang telah terpikat oleh pesona Raymond, sang Chef tampan yang begitu mempesona.


Caramel mengerjap-ngerjapkan matanya begitu lucu membuat Raymond mendekatinya dan....


cup...


Raymond mengecup pipi kanan Caramel sekilas. Sedetik kemudian Caramel tersadar dan berteriak...


"Aaah... Chef iiih.... pipiku ternoda... uwaaaa....," Caramel histeris sambil memegang pipi kanannya yang sudah dibubuhi stempel milik Raymond.


"hahaha.... itu tandanya pipi kamu itu milikku Ca, itu udah ada tulisannya, milik Raymond," dengan tertawa dia menggoda Caramel kembali.


"Hah, masa' sih?" Caramel melihat pipinya di spion tengah, dia bolak balikan pipinya ke kanan dan ke kiri, namun sama saja.


"Mana Chef gak ada tulisannya," ucap Caramel dengan polosnya.


"Hahahaha... sumpah ya Ca, aku tuh gemes banget sama kamu," Raymond mencubit pipi Caramel membuatnya mengaduh.


"Iih Chef, sakit iih... Ah udah ah aku ngambek sama Chef, ini pipiku jadi ternoda... uwaaa....," Caramel kembali histeris.

__ADS_1


"Udah Ca, lihat sini, itu tadi tandanya pipi itu sudah jadi milik aku," Raymond menjelaskannya dengan sangat hati-hati, takut jika Caramel marah padanya.


"Ih enak aja, pipi ini milik Caca dong," Caramel membantah penjelasan Raymond.


"Ya berarti kamu milik ku Ca," Raymond melancarkan kembali aksi merayunya.


"Jadi...," Caramel mengernyit tidak mengerti.


"An...," Raymond meneruskan ucapan Caramel.


"Hah?" Caramel tambah bingung.


"Iya, seperti yang kamu bilang, kita jadi-an, jadian. Yang berarti kita pacaran sekarang," Raymond memutuskannya sendiri jika mereka sekarang sudah jadian.


"Kok bisa?" Caramel bertambah bingung.


"Udah, nanti dijelaskan sesudah periksa ke dokter," Raymond kini menjalankan mobilnya.


"Aduh... gak usah deh Chef, Caca takut disuntik," Caramel merengek seperti anak kecil.


"Kamu beneran takut disuntik?" Raymond menghadap Caramel sebentar kemudian kembali menghadap depan, konsentrasi pada jalan.


"Banget. Iiiih pokoknya gak mau periksa ke dokter. Ya.. ya Chef ya...," Caramel memohon dengan menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Ya udah kalah gitu kita makan aja biar kamu gak lemes lagi, biar gak pingsan lagi," Raymond mengarahkan mobilnya menuju apartemennya.


"Loh Chef kemana? Pulang ke rumah ku aja Chef, Caca mau makan di rumah aja Chef," Caramel merasa bingung harus bagaimana, karena dirinya merasa diculik sekarang ini


" Udah kamu diam aja. Kita makan di tempat waktu itu," Raymond menancap gas agar cepat sampai di apartemennya.


"Ya Chef... kan Caca disuruh istirahat biar cepat sembuh," Caramel merengek kembali.


"Di sana juga kamu bisa istirahat Ca," Raymond menghentikan mobilnya untuk mengambil tiket parkir.


"Loh masa' iya sih Chef di restauran bisa tidur?" Caramel jadi terlihat bodoh di samping kepolosannya.


"Udah yuk buruan ikut, biar cepat selesai makannya terus pulang," Raymond keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil Caramel.


"Gak mau ah takut," Caramel tidak beranjak sedikit pun dari duduknya.


"Takut kenapa? Tidak akan terjadi apa-apa Ca, kalau pun terjadi apa-apa, aku yang akan bertanggung jawab penuh," Raymond meyakinkan Caramel.


"Tanggung jawab?" Caramel bertanya kebingungan tidak tahu maksud dari perkataan Raymond.


"Iya. Ayo buruan keluar, apa mau digendong lagi?" Raymond mencoba mencari kesempatan kembali untuk menggendong Caramel.


Secepat kilat Caramel keluar dari mobil Raymond. Dan sikap Caramel itu membuat Raymond tertawa geli.

__ADS_1


Raymond mengajaknya ke kamar apartemennya. Caramel ragu untuk masuk ke dalam apartemen itu. Dia tetap berdiri di depan pintu apartemen Raymond.


__ADS_2