
Kedua orang tua Clara merasa terhina karena Mommy Grace dan Daddy Nathan meninggalkannya begitu saja di rumahnya karena mereka lebih memilih untuk segera pergi ke rumah sakit untuk menemui menantunya di tengah-tengah pembicaraan mereka.
Mereka pulang dengan rasa marah dan kesal sehingga membuat mereka mengumpat ketika dikawal keluar oleh para penjaga keamanan yang berbadan kekar di rumah utama keluarga Xavier.
Clara hanya diam mengingat kembali tatapan kebencian mata Zayn padanya. Clara merasakan sakit pada hatinya ketika Zayn mengucapkan harapannya untuk anak yang masih dalam kandungannya dengan tatapan Zayn yang penuh dengan kebencian padanya.
Clara merasa nyeri dalam dadanya, seperti dadanya terasa sesak karena terhimpit oleh sesuatu hingga air matanya menetes tanpa ia sadari. Rasanya dia tidak bisa jika dibenci oleh Zayn, dia tidak bisa di jauhi oleh Zayn, bahkan sampai sekarangpun panggilan sayang yang diberikan oleh Zayn selalu terngiang di telinganya.
Tanpa Clara sadari, dia menekan nomer Zayn pada ponselnya. Namun bukan Zayn yang menjawab panggilan telepon dari Clara melainkan operator yang menjawabnya. Nomer Zayn tidak aktif, entah apa yang sekarang dikerjakan oleh Zayn, Clara ingin sekali mengetahuinya. Clara kembali menghubungi Zayn namun tetap saja nomer Zayn tidak dapat dihubungi. Hingga puluhan kali Clara menghubungi nomer Zayn tetap saja tidak aktif. Sampai akhirnya Clara jengah dan mengirimkan banyak pesan pada Zayn.
Keesokan harinya, Clara tetap berangkat kerja dengan tujuan untuk menemui Zayn. Selama semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak karena terpikirkan sosok Ayah dari bayi yang dikandungnya. Mata Clara tidak bisa terpejam karena selalu terbayang wajah Zayn yang memandangnya dengan penuh kebencian.
"Pak, apa Zayn udah datang?" Clara bertanya pada Pak Sarno yang berada di tempat parkir.
"Waduh... saya aja baru datang. Di dalam kantor kali. Eh tapi tumben gak ada mobilnya ya?" Pak Sarno menjawab pertanyaan Clara yang sama sekali jawabannya itu tidak membantu Clara.
Setelah mendengar jawaban dari Pak Sarno, Clara langsung berjalan cepat masuk ke dalam kantor untuk mencari Zayn. Sayangnya Zayn tidak ada di dalam kantor. Clara bertanya pada semua orang yang sudah ada di sana, namun tak ada satupun yang mengetahui di mana Zayn berada saat ini.
Clara bertambah cemas hingga dia merasakan kram pada perutnya. Clara meringis ketika merasakan kram di perutnya bertambah nyeri.
Pak Sarno yang kebetulan lewat memperhatikan Clara yang sedang meringis kesakitan dengan memegang perutnya.
"Clara, kamu kenapa? Perutmu sakit?" Pak Sarno bertanya ketika menghampiri Clara.
Clara tidak menjawab, dia hanya meringis kesakitan sambil menahan perutnya dengan kedua tangannya. Hingga dia berjongkok untuk menahan rasa sakitnya itu.
__ADS_1
"Ayo saya bantu kamu ke kantor," ucap Pak Sarno sambil membantu Clara untuk berdiri.
"Ada apa Pak?" Caramel bertanya pada Pak Sarno.
Caramel baru saja datang bersama dengan Raymond. Sebenarnya Caramel dilarang bekerja oleh Mommy Grace namun Caramel saja yang tidak mau jika di rumah sendiri meskipun dengan banyak maid di rumahnya. Caramel pun beralasan agar dia bisa dengan cepat menguasai pastry dan bakery.
Daddy Nathan pun mengerti keinginan Caramel, sehingga Daddy Nathan membujuk Mommy Grace agar mau mengijinkan Caramel untuk ikut Raymond bekerja.
Sebenarnya niat utama Caramel ikut bekerja bersama Raymond karena dia masih was-was akan kehadiran Clara yang mengakui dihamili oleh Raymond.
"Udahlah Sayang, gak usah ngurusi ular berbisa, nanti kamu bisa-bisa dipatok sama dia. Yuk masuk, hati-hati sini," Raymond memeluk kembali pinggang Caramel setelah tadi Caramel melepas tangan Raymond yang melingkar di pinggangnya karena ingin melihat apa yang terjadi pada Clara.
"Tapi dia sepertinya sedang sak-"
"Ini gimana Chef? Ca!" Pak Sarno bertanya pada Raymond dan Caramel dengan posisi masih memapah Clara yang wajahnya benar-benar sedikit memucat dan keringat dingin yang menetes di pelipisnya dan di dahinya.
Raymond dan Caramel menoleh ke belakang melihat Clara yang benar-benar seperti kesakitan. Tapi Raymond tidak mau tahu. Raymond benar-benar orang yang dingin pada orang yang tidak bisa dihargai. Raymond menghadap ke depan kembali meneruskan jalannya, sedangkan Caramel tidak bisa berbuat apa-apa jika Raymond sudah dalam keadaan dingin seperti itu. Lagi pula Caramel pun tidak mau jika Raymond menolong Clara yang mengharapkan untuk dekat dengan Raymond.
"Chef, ini gimana? Harus saya apakan?" tanya Pak Sarno yang makin panik.
"Hubungi Zayn saja. Dia istrinya Zayn," jawab Raymond tanpa menoleh ke arah Pak Sarno.
"Hah, istrinya Zayn?" Pak Sarno mengulang ucapan Raymond dengan kebingungannya.
"Ru-rumah sa-kit," ucap Clara terbata-bata.
__ADS_1
"Rumah sakit?" Pak Sarno bertanya kembali pada Clara dengan wajah yang sangat bingung.
"Ba-wa saya... ke ru-mah sakit," ucap Clara masih terbata-bata karena rasa sakitnya yang semakin menjadi.
Dengan segera Pak Sarno memapah Clara menuju mobil Pak Sarno. Setelah memastikan Clara dalam keadaan nyaman, Pak Sarno segera melajukan mobilnya ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Pak Sarno bertambah kaget karena mendengar bahwa Clara yang dalam keadaan hamil bisa berbahaya jika terus-terusan merasakan sakit seperti tadi.
"Clara, apa ini anak Zayn? Ehm maksud saya, apa seperti yang dibilang Chef Raymond tadi bahwa kamu istrinya Zayn?" Pak Sarno bertanya pada Clara yang kini sudah dalam keadaan lebih tenang dan lebih baik daripada tadi.
"Apa Bapak bisa membawa Zayn kemari? Bilang saya ingin bertemu dengannya," Clara meminta dengan pandangan penuh harap pada Pak Sarno.
"Memangnya Zayn ada di mana?" Pak Sarno bertanya balik pada Clara.
Clara menggelengkan kepalanya, kemudian dia tertunduk sedih. Baru kali ini dia merasa kehilangan sosok Zayn dalam hidupnya.
Pak Sarno segera menghubungi nomer ponsel Zayn, namun nomer Zayn tidak aktif. Berkali-kali Pak Sarno menghubungi nomer Zayn namun tetap.saja nomer Zayn tidak bisa dihubungi.
"Nomer Zayn tidak bisa dihubungi. Apa kamu tau dia berada di mana?" ucap Pak Sarno yang sudah merasa frustasi tidak bisa menghubungi Zayn sedari tadi.
"Tolong tanyakan pada Raymond Pak, pasti Raymond tau di mana Zayn berada," Clara memohon pada Pak Sarno dengan matanya yang sudah berkaca-kaca dan pandangan yang penuh harap pada Pak Sarno.
"Baiklah saya coba tanya pada Chef Raymond dulu. Apa bisa kamu saya tinggal sebentar di sini sendirian? Atau mungkin kamu segera hubungi orang tuamu saja," ucap Pak Sarno sebelum meninggalkan Clara untuk menghubungi Zayn kembali dan menghubungi Raymond.
Zayn, kamu di mana? Aku membutuhkanmu Zayn... datanglah ke sini Zayn, aku sangat ingin bertemu denganmu, Clara berkata dalam hatinya disertai air mata yang menetes pada pipinya.
__ADS_1