
Dokter Fahmi mengernyit heran melihat Caroline berada di negara ini. Dokter Fahmi tahu semua tentang Caroline dari Raymond. Dan Dokter Fahmi pun tahu penyebab Raymond sangat membencinya.
Caramel menghembuskan nafasnya panjang, dia terlalu malas untuk berdebat dengan Arabelle di pagi hari yang bahkan dia belum menjalankan aktifitasnya.
"Minggir, kamu bukan siapa-siapanya Raymond. Dia tunangan ku," Arabelle mengembuskan nafasnya kasar.
Cukup sudah kesabarannya. Pagi ini dia ingin hidup normal tanpa gangguan dari boneka Anabelle.
Caramel berbalik akan berjalan menuju pintu, namun tangannya dipegang okeh Mommy Grace.
"Mommy harap kamu mau disini untuk merawatnya. Dari tadi dia hanya memanggil namamu, dan dia tidak mau makan ataupun minum obat. Mommy mohon ya..," Mommy Grace memohon pada Caramel dengan penuh ketulusan membuat hati Caramel luluh.
"Tante apa-apaan sih, ngapain nyuruh dia disini? Ingat ya Tante, calon istri Raymond itu aku bukannya dia," ucap kesal Arabelee pada Mommy Grace dengan nada agak tinggi.
"Dasar boneka Anabelle. Kamu gak tau ya caranya menghormati orang yang lebih tua dari kamu?" Caramel melangkah pergi meninggalkan Arabelle dan Mommy Grace yang masih saling berhadapan.
Caramel diajak Dokter Fahmi menuju kamar Raymond. Caramel sedih melihat tubuh kekar yang selama ini melindunginya kini terbujur tak berdaya di bawah selimut.
"Badannya sangat panas, tapi dia menggigil dan tidak mau makan. Dari tadi hanya memanggil namamu saja. Sekarang coba kamu suapi dia dan suruh dia minum obat jika sudah selesai makan," tutur Dokter Fahmi sambil mengecek kembali suhu badan Raymond.
Caramel mencoba membangunkan Raymond, namun Raymond hanya menyebutkan nama Caramel saja. Dengan ide jahilnya, Caramel membisikkan sesuatu di telinga Raymond yang membuat mata Raymond terbuka dan setelah itu dia memeluk Caramel dengan sangat erat hingga Caramel ikut tertidur di samping Raymond.
Dokter Fahmi hanya tersenyum dan menggeleng heran dengan perubahan sikap dan mood dari sahabatnya itu.
Raymond duduk bersandar di kepala ranjang. Dengan telaten Caramel menyuapi Raymond dengan bubur yang sudah disiapkan oleh chef di apartemen Raymond.
Arabelle meronta dan marah-marah karena Mommy Grace menahan tubuh Arabelle agar tidak mendekat dan masuk ke kamar Raymond.
Dari tempatnya saat ini Mommy Grace dapat melihat senyuman Raymond dan kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya ketika dia menerima suapan demi suapan dari Caramel.
Mommy Grace mengirim pesan pada suaminya agar melihat CCTV yang ada di dalam kamar Raymond.
Setelah beberapa menit, Mommy Grace mendapat pesan dari suaminya. Dan senyum terbit di bibir Mommy Grace.
Arabelle yang sedang ditahan tubuhnya oleh para bodyguard dari Mommy Grace langsung dibawa keluar paksa setelah mendapat perintah oleh Mommy Grace.
Dokter Fahmi diajak meninggalkan apartemen Raymond ketika Mommy Grace juga akan pergi dari sana. Mommy grace sengaja meninggalkan mereka berdua agar Caramel mau menjaga Raymond.
Caramel menolak, namun melihat Raymond mengatakan jika dia sangat membutuhkannya, hati Caramel luluh dan dia mau tidak mau harus lebih lama di sana untuk merawat Raymond.
Caramel ingat jika dia belum ijin ke Revan. Dengan segera dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Revan. Caramel tidak mau kejadian dulu terulang lagi, kejadian di saat dia dipaksa Pak Anto untuk ikut dealing party dan dia lupa untuk memberi kabar pada Revan sehingga Revan memarahinya di depan orang banyak.
Caramel terkejut melihat balasan dari Revan yang sudah memberi libur Caramel hari ini karena disuruh oleh Mommy Grace.
Wow sebegitu besarkah kekuatan dari Mommy Grace?
__ADS_1
Raymond merampas ponsel Caramel dari tangannya ketika dia membaca pesna dari Revan. Untung saja pesan itu sudah di baca oleh Caramel.
Raymond meletakkan ponsel Caramel di atas nakas. Dan dia hanya memandang wajah Caramel sedari tadi dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya.
Caramel lega ketika melihat mangkok bubur yang dia suapkan pada Raymond habis tak tersisa. Setelah itu dia memberikan obat yang ditinggalkan Dokter Fahmi pada Raymond untuk diminum.
Caramel merasa canggung dan gugup hanya berduaan saja dengan Raymond di kamarnya, apalagi saat ini mata Raymond tak mau berpaling, dia hanya memandang wajah Catamel sedari tadi.
"Ca, bisa duduk sini bentar gak?" Raymond menepuk tempat yang kosong disebelahnya.
Caramel menggeleng. Dia sangat bingung dan takut jika hanya berdua dengan lawan jenisnya di dalam kamar seperti ini. Apalagi bersama Raymond yang menurut Caramel punya otak mesum karena dia sudah mencuri ciuman dari bibir dan pipi Caramel beberapa kali.
Raymond menarik tangan Caramel sehingga tubuhnya ikut tertarik dan jatuh di lengan Raymond.
Raymond memeluk tubuh Caramel dan mencium rambut Caramel. Raymond sangat senang karena rindu yang sangat menyiksanya kemarin sudah tergantikan dengan adanya Caramel di sisinya disaat dirinya sedang sangat membutuhkannya.
"Sayang, makasih ya udah datang kesini," ucap Raymond sambil membelai pipi Caramel dan merapikan rambut Caramel yang menutupi dahinya.
Sekilas Caramel terpesona, namun beberapa detik kemudian Caramel ingat jika dia masih mode galak dengan Raymond.
Caramel menegakkan badannya, namun ditarik kembali tangannya oleh Raymond. Begitu seterusnya hingga Caramel mengaduh kesakitan tangannya akibat terlalu keras ditarik oleh Raymond.
Raymond meminta maaf dan bersedia melakukan apa saja yang Caramel minta. Namun ide jahil Caramel muncul, dia meminta agar Raymond tidak mengganggu dan mendekatinya lagi. Dengan tegasnya Raymond mengatakan tidak.
Setelah itu Raymond berdiri dan mangajak Caramel untuk keluar dari kamarnya. Caramel menyuruh Raymond tidur dan dia yang akan keluar dari kamar Raymond.
Raymond menyalakan TV dan mendudukkan Caramel di pangkuannya. Caramel meronta menggerak-gerakkan badannya agar diturunkan dari pangkuan Raymond.
Bukannya diturunkan, Raymond malah mengancam untuk menciumnya jika Caramel masih tetap saja bergerak di atas pangkuannya.
Ancaman Raymond berhasil. Kini Caramel tidak lagi bergerak, dia hanya pasrah dipangku oleh Raymond layaknya anak kecil.
Suara bunyi perut Caramel yang minta diisi berhasil mengusik telinga Raymond. Caramel hanya berpura-pura tidak mendengar apa-apa.
"Sayang, kita kalau begini udah kayak pasangan suami istri aja ya?" Raymond mengalihkan perhatian Caramel dari layar TV.
"Suami istri apaan? Gak ada istri yang dipangku kayak anak kecil gini," jawab Caramel sebal.
"Lebih romantis sayang... nanti kalau kita nikah kamu gak butuh kursi, butuhnya cuma pangkuanku," Raymond mencoba merayu Caramel.
"Yakin mau jadiin aku istri?" tanya Caramel menyelidik.
"Iya dong," jawab Raymond tegas.
"Aku gak bisa masak loh," ucap Caramel mencoba membuat Raymond jera.
__ADS_1
"Gak masalah. Kamu lupa ya aku bisa masak? Aku tuh butuhnya istri, bukan butuh tukang masak," jawab Raymond yang berhasil melambungkan tinggi hati Caramel.
"Dan sekarang, aku mau memasakkan calon istriku ini sesuatu," ucapnya sambil menggendong Caramel ke dapur.
"Eh, Chef kan lagi sakit, gak usah gendong-gendong aku, berat. Lagian gak usah juga masakin aku makanan, aku gak lapar. Udah istirahat aja, bobok di kamar," omelan Caramel menghiasi tiap langkah Raymond menuju dapur.
"Udah kamu diem aja, kalau gak diem aku cium nih," Raymond kembali melayangkan ancamannya yang benar-benar ampuh, karena saat ini Caramel langsung diam tidak bersuara.
Caramel di dudukkan di bagian kitchen counter agar bisa tetap Raymond lihat ketika sedang memasak.
Caramel bertanya pada Raymond tiap kali Raymond memasukkan bahan dan bumbu. Hingga Raymond capek meladeni pertanyaan Caramel yang serasa dibuat-buat hanya untuk membuatnya kesal.
Raymond menutup mulut Caramel dengan bibirnya agar tidak lagi berbicara. Kedua benda kenyal itu saling menyesap dan memangut satu sama lain. Dalam hati Raymond tersenyum karena kini Caramel sudah tidak kaku seperti pertama kali dia mencuri ciumannya.
Setelah Caramel memukul-mukul dada Raymond, barulah Raymond melepaskan pangutannya. Wajah Caramel bersemu merah, kini dia merasa malu karena menikmati ciuman dari Raymond.
Setelah masakan Raymond matang, dia menyuapi Caramel dan Caramel juga tidak mau kalah dangan Raymond. Caramel menyuapi Raymond dengan sendok yang sama.
"Udah sembuh?" tanya Caramel sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Raymond untuk memeriksa suhu badannya.
"Udah cinta... kekuatan cinta memang besar, buktinya kamu datang, aku langsung sembuh," Raymond kembali melancarkan rayuannya.
"Itu mah kamu aja yang pura-pura," jawab Caramel sambil berjalan ke sofa.
"Gak ada yang pura-pura, tanya aja sama Dokter Fahmi," jawab Raymond yang mengikuti Caramel berjalan ke sofa.
"Lah jelas lah, Dokter Fahmi kan sahabat kamu," ucap Caramel.
"Beneran sayang, aku gak bohong," Raymond merengek dan mendaratkan kepalanya di pangkuan Caramel.
"Eh kok gini sih, minggir iiih...," Caramel menyingkirkan kepala Raymond dari pangkuannya, namun gagal karena Raymond lebih kuat darinya.
"Gak mau, pokoknya maunya gini aja bentar," ucap Raymond yang kemudian memejamkan matanya, sepertinya efek dari obat yang diberikan oleh Dokter Fahmi sudah tak tertahankan efeknya.
Caramel melihat wajah damai Raymond yang sedang tertidur. Dia tidak tega untuk meninggalkannya dalam kondisi seperti ini.
Caramel membelai rambut Rymond agar tidur Raymond lebih nyenyak. Hingga tak terasa sudah dua jam Raymond tidur dipangkuan Caramel hingga membuat paha Caramel kesemutan.
Setelah Raymond bangun dari tidurnya, dia langsung memeluk tubuh Caramel dan tersenyum bahagia, serta dia mengucapkan terima kasih karena Caramel tidak meninggalkannya.
Raymond ingin mandi karena badannya sudah sangat lengket sedari pagi belum mandi. Dia meminta Caramel mengambilkan kaos dan celana pendeknya di dalam lemari. Karena walk-in closet nya hanya ada baju-baju yang resmi saja, sedangkan baju-baju santainya disimpan oleh Raymond di dalam lemari.
Caramel tidak tahu lemari mana yang dimaksud oleh Raymond. Dibukalah lemari yang paling ujung sebelah kiri. Dan betapa kagetnya Caramel ketika dia sedang mengambilkan Raymond pakaian dalamnya ternyata dia menemukan sesuatu yang membuatnya kembali marah.
"Sayang... mana bajunya, sini cepat, aku udah selesai," teriak Raymond dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Setelah satu menit tidak ada sahutan dari Caramel, Raymond keluar kamar mandi hanya dengan membalutkan handuk pada pinggangnya.
"Ini apa? Punya Siapa?" Caramel menyodorkan tepat di depan wajah Raymond kaca mata dalam milik wanita yang ditemukan Caramel di dalam lemarinya.